Pesan Khutbah Rahbar Republik Islam Iran (1)

Assalamulaikum warahmatullohi wabarokatuh

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM. Segala puji bagi Allah, Tuhan Pengatur alam semesta. Kami memuji-Nya, meminta tolong pada-Nya, meminta ampunan-Nya dan bertawakal kepada-Nya. Shalawat dan salam kami haturkan kepada kekasih-Nya, pilihan-Nya, dan manusia terbaik-Nya, penjaga rahasia-Nya, dan penyampai risalah-Nya, Junjungan kita dan Nabi kita Abu Qasim Musthafa Muhammad saw beserta keluarganya yang suci, yang terpilih, yaitu para pemimpin yang memberikan petunjuk yang terpelihara dari segala dosa (maksum), terutama pemimpin terakhir-Nya di muka bumi (Imam Mahdi as). Juga sampaikan salam kepada para imam kaum Muslimin dan para pelindung kaum mustadafin (bangsa yang lemah) dan para pemberi petunjuk kaum mukminin.

Pesan Takwa dan Keutamaan Bulan Rajab

Saya mengajak semua hadirin dan hadirat yang mulia untuk meningkatkan takwa kepada Allah dan menjaga diri (dari segala dosa). Kita sekarang berada di bulan Rajab (yang mulia) dimana di bulan ini di samping terdapat ayyamul bidh (hari-hari putih, yaitu tanggal 13, 14, dan 15 Rajab—pen.), juga dimuliakan dengan hari besar kelahiran Amirul Mukminin dan pemimpin kaum yang bertakwa (Ali bin Abi Thalib as). Rajab adalah bulan penyucian hati dan pencerahan jiwa. Bulan tawasul, khusuk, zikir, tobat, pembangunan jiwa, dan pembersihan hati serta pengkikisan noda dan nista dari jiwa. Doa di bulan Rajab, i`tikaf di bulan Rajab, dan shalat di bulan Rajab merupakan sarana agar kita dapat menyucikan hati dan jiwa kita. Kehitaman, kegelapan dan pelbagai cela (aib) harus kita hilangkan dari diri kita. Kita harus mencerahkan diri kita. Ini adalah kesempatan besar bagi kita, khususnya bagi mereka yang mendapatkan taufik untuk melakukan i`tikaf pada hari-hari ini. Dan pada akhir-akhir khotbah ini saya akan mengemukakan beberapa hal yang berkenaan dengan orang-orang yang melaksanakan i`tikaf.

Kelahiran Agung Ali bin Abi Thalib

Adapun hari ketiga belas Rajab adalah hari kelahiran Imam Ali as yang sangat menggembirakan. Beliau adalah puncak kemuliaan insani; teladan abadi para dermawan dunia; pemimpin abadi orang-orang mukmin dan orang-orang yang bertakwa serta manusia-manusia yang saleh dan benar di zaman ini. Agar kita tidak hanya merasa cukup dengan verbalistis dan lahiriah, tetapi sejak hari ini dimana dengan mengingat Amirul Mukminin (Imam Ali as) kita dapat mengambil pelajaran—terutama hari ini dimana kita memerlukan hal tersebut—maka secara singkat saya akan mengemukakan salah satu pelajaran penting dari pelbagai pelajaran manusia yang agung tersebut. Dan pelajaran yang saya maksud adalah takwa dimana tema ini di dalam shalat Jum`at harus dikupas (harus mendapat perhatian khusus—pen.), lebih dari tema yang lain.

Pelajaran Takwa dari Amirul Mukminin

Takwa adalah pelajaran abadi Amirul Mukiminin. Bila Anda memperhatikan kitab Nahjul Balaghah, maka Anda akan temukan bahwa tidak ada perintah dan himbauan di dalam kitab yang agung ini yang mendapat pengulangan dan perhatian sebesar takwa. Pada hakikatnya, takwa adalah salah satu episode kehidupan praktis Amirul Mukminin yang paling agung dan doktrin verbal Imam yang mulia ini. Takwa berarti kita menjaga diri kita. Manusia harus selalu memperhatikan dirinya. Manusia di samping harus mengawasi perbuatan dan amalnya—yakni mengawasi matanya, tutut katanya, telinganya dan tangannya—juga harus mengawasi hatinya. Ia harus waspada agar jangan sampai karakter hayawaniah melakukan penetrasi (terhadap hatinya—pen.) ; waspada supaya hati jangan sampai cenderung pada hawa nafsu. Jangan sampai hati terpikat dan tertarik oleh suatu pesona yang menghinakan manusia. Manusia harus waspada terhadap sifat hasud (iri) yang menguasainya; waspada agar jangan sampai berniat buruk terhadap orang lain; waspada agar jangan sampai memberi jalan kepada waswas yang akan masuk ke dalam hati. Sebab, hati merupakan tempat segala keutamaan dan zikrullah serta cinta kepada wali-wali Allah dan cinta kepada sesama manusia. Manusia hendaklah mempunyai takwa pemikiran dan akal. Yakni, hendaklah ia menjaga akal dari penyimpangan: menjaganya dari kesalahan, menyelamatkannya dari penon-aktifan dan penggangguran, dan memanfaatkan akal dalam persoalan-persoalan kehidupan. Jadi, selalu waspada terhadap anggota tubuh, hati, pemikiran dan otak adalah (hakikat) ketakwaan.

Waspada Adalah Ciri Orang Yang Bertakwa

Ketidakwaspadaan kita menyebabkan kita banyak mengalami kesalahan dalam pelbagai sepak terjang kita. Banyak dosa kita lakukan karena kelalaian dimana kita tidak melakukan sebagaimana niat (maksud) kita sebelumnya (yakni karena kita lalai maka amal kita tidak sesuai dengan niat baik kita sebelumnya—pen. ) Kita kotori lidah kita dengan meng-hibah (mengunjing) , menuduh, menyebarkan gosip, dan berbohong secara keji. Tangan kita dan mata kita juga demikian. Jadi, kelalaian dapat menjerumuskan kita dalam bencana.

Bila kita benar-benar mewaspadai mata, lidah, tangan, tanda tangan, keputusan, tulisan, dan tutur kata kita maka tidak akan muncul banyak kesalahan dan dosa, baik yang besar maupun kecil. Bila kita mewaspadai hati kita, maka kita tidak terkena rasa dengki, sakit hati, kikir dan rasa takut tidak pada tempatnya. Di samping itu, tamak terhadap harta dan jabatan duniawi dan iri terhadap kehormatan dan harta orang lain tidak akan meresap dalam hati kita. Kewaspadaan ini merupakan jalan keselamatan bagi manusia. Dengan adanya kewaspadaan ini, manusia akan memperoleh akhir kehidupan yang baik:

“Dan akibat yang baik diperuntukkan bagi orang-orang yang takwa.” Bila kewaspadaan ini dipertahankan oleh manusia maka kemungkinan kecil bagi dia untuk berbuat dosa. Keadilan seseorang pun bersumber dari kewaspadaan ini.

Buah Kewaspadaan (Muraqabat)

Ketegaran seseorang dan satu bangsa juga berasal dari kewaspadaan ini. Menuntut kebenaran dan sensitif terhadap kebenaran juga bersumber dari kewaspadaan ini. Kewaspadaan dan ketakwaan ini selalu bersama kita dalam seluruh kebaikan. Hidayah (petunjuk) pun terwujud karena kewaspadaan ini. Kemajuan dunia dan akhirat juga berasal dari kewaspadaan ini. Saat kita benar-benar waspada maka pikiran kita pun dalam keadaan aktif dan hati kita pun tidak akan menuju jalan yang bengkok serta anggota tubuh kita pun tidak akan berada dalam kesalahan atau jarang melakukan kesalahan (dosa). Dunia dan akhirat berada dalam naungan takwa. Ini adalah pelajaran Amirul Mukminin. Dewasa ini kita membutuhkan pelajaran ini. Bahkan sejatinya bukan hanya saat ini, namun kita selalu memerlukannya.

Fase zaman ini begitu penting bagi kita. Perhatikanlah bahwa kita adalah bangsa yang Muslim. Dengan keinginan kuat mayoritas masyarakat, kita dapat mendirikan suatu pemerintahan yang sesuai dengan keimanan dan keyakinan kita di negara ini. Apa tujuan pemerintahan ini? Apa tujuan bangsa ini?Tujuannya adalah negara ini—dengan pemerintahan ini—mampu mengejawantahkan seluruh kebaikan, kemajuan, kebaikan dan keberkahan yang dijanjikan oleh Allah SWT terhadap bangsa yang beriman. Yakni (membentuk) suatu pemerintahan yang islami. Yang dimaksud pemerintahan yang islami adalah negara yang menjadikan Islam sebagai inspirasi kehidupan, sumber aktifitas, dan sumber motifasi. Tentu Islam yang tidak memiliki pemikiran yang bengkok; Islam yang tidak jumud lagi menyimpang; Islam yang tidak menjiplak; Islam yang membangkitkan nyali (keberanian) manusia; dan Islam yang memandu manusia menuju ilmu dan sains. Yaitu Islam yang terwujud pada abad pertama Islam dimana ia mampu merangkai suatu kumpulan yang berserakan menjadi puncak peradaban sejarah dan dunia, sehingga peradabannya dan pengetahuannya mendominasi dunia. Yakni dominasi dan penguasaan pengetahuan yang juga mendatangkan kewibawaan politik, kemajuan ekonomi, dan keutamaan akhlak. Semua hal ini dapat terwujud bila memang negara dapat mengaktualisasikan makna yang hakiki dari kata “islami”.

Agar kita dapat mewujudkan masalah ini maka pada tahap pertama kita memerlukan gerakan revolusioner. Sehingga kita dapat menghancurkan bangunan rezim diktator yang sia-sia, rahasia, bengkok dan pesimis. Bangsa kita telah mewujudkan hal ini dengan penuh kekuatan dan keberhasilan yang sempurna.

Setelah bangsa kita yang mulia melakukan gerakan yang agung ini, maka gerakan selanjutnya adalah mewujudkan di negara ini suatu pemerintahan yang islami—yakni mengatur manajemen negara sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam. Hal ini juga telah dilaksanakan dengan sukses oleh bangsa kita.

Undang-undang dasar telah disusun. Konstelasi politik telah muncul dan kedaulatan rakyat telah berkuasa di negeri ini. Dan masyarakat memilih—baik secara langsung maupun tidak—para pejabat negara tanpa terkecuali, dari pimpinan (tertinggi), presiden sampai pejabat-pejabat lainnya.

Agama merupakan dasar undang-undang dan implementasinya di negeri ini. Masyarakat bergerak ke arah tujuan-tujuan dan nilai-nilai agama. Inilah makna pemerintahan Islam. Ini telah terwujud. Tapi tentu ini belum cukup. Supaya tujuan itu—yakni negeri Islam—secara sempurna terwujud maka manajemen dan tindakan institusi yang berkuasa di negara ini harus sesempurna mungkin mencerminkan Islam. Beberapa tahun yang lalu telah saya kemukakan bahwa tahapan pasca pemeritahan Islam adalah negara Islam.

Dan kita pun telah bergerak di jalan ini. Para pejabat yang mukmin, menteri-menteri yang mumpuni, para wakil rakyat yang baik, dan para presiden yang beriman silih berganti telah menjalankan tugasnya di negeri ini. Adapun negara Islam yang mampu memanifestasikan tujuan-tujuan yang dimiliki oleh bangsa Iran dan revolusi besar mereka adalah negara yang di sana tidak ada suap-menyuap, tidak ada kekacauan manajemen, tidak ada kolusi, tidak ada sedikit kerja (malas), tidak ada ketidakpeduliaan terhadap masyarakat, tidak ada elitisme dan rakus terhadap baitul mal serta hal-hal lain yang di diperlukan dalam sebuah negara Islam. Semua ini terdapat dalam ajaran Amirul Mukmin di kitab Nahjul Balaghah.

Originalitas Kemanusiaan Tidak Pernah Berubah

Jangan sampai mereka (yang anti terhadap hal ini—pen.) mengatakan bahwa semua ini berkaitan dengan seribu empat belas tahun yang lalu. Pembicaraan seperti ini berulang kali diutarakan. Rupanya mereka sedang mengulangi pelbagai syubhat yang telah ditolak ratusan kali. Dengan berlalunya zaman, hakikat-hakikat kemanusiaan dan orisinalitas- orisinalitas kemanusiaan tidak pernah berubah. Sejak permulaan sejarah sampai hari ini dan sejak hari ini sampai penutupan dunia, manusia selalu cinta terhadap keadilan dan selalu butuh terhadap keadilan. Ini tidak akan berubah. Sejak permulaan sejarah sampai hari ini dan sejak hari ini sampai kiamat, manusia selalu butuh terhadap para pejabat yang menepati janji, yang mengabdi untuk mereka dan bekerja dengan tulus untuk mereka. Ini semua tidak mungkin berubah. Pelajaran Amirul Mukminin di dalam Nahjul Balaghah memperhatikan semua hal ini. Orisinilitas ini dan hal-hal yang tetap dalam kehidupan manusia ini sepanjang sejarah dijelaskan oleh Amirul Mukminin. Kita menginginkan hal tersebut. Namun kita tidak akan mengatakan, bila kita ingin pergi dari satu kota ke kota yang lain maka kita harus pergi seperti di zaman Amirul Mukminin. Tidak demikian! Sekarang Anda harus pergi dengan pesawat terbang. Mungkin sepuluh tahun lagi Anda akan bepergian dengan sarana transportasi yang jauh lebih cepat dari pesawat terbang. Di zaman dahulu, mereka mengirim surat dimana selama dua bulan surat tersebut ada dalam perjalanan. Namun hari ini Anda dapat—melalui internet—berbicara secara langsung dari satu waktu ke waktu yang lain dengan lawan bicara yang ada di ujung dunia sekalipun. Hal semacam ini berubah. Sedangkan keadilan dan kesalehan para pejabat selalu abadi dan diperlukan. Tidak rakus terhadap harta kepunyaan masyarakat yang ada di tangan saya dan orang-orang seperti saya selalu perlu. Hal ini tidak dapat berubah. Bila dengan taufik Ilahi, kita mampu di bidang ini untuk menyempurnakan diri kita dan langkah kita yang sampai hari ini—alhamdulilah— telah terkukuhkan dapat kita sempurnakan terus, maka saat itu akan terwujud suatu negeri Islam sesuai dengan gambaran yang telah saya jelaskan. Yakni, negara Islam mampu menciptakan negeri yang islami.

Tidak Menjadi Tawanan Hawa Nafsu

Saya dan orang-orang seperti saya jika diri kita sendiri benar-benar jujur maka kita dapat menciptakan kejujuran pada masyarakat. Bila kita sendiri tidak menjadi tawanan hawa nafsu maka kita dapat membebaskan masyarakat dari jerat hawa nafsu. Bila kita sendiri berani maka kita dapat membangkitkan keberanian masyarakat.

Sebaliknya, jika saya dan orang-orang seperti saya menjadi tawanan hawa nafsu, tamak, hina, dan takut maka kita tidak dapat membimbing masyarakat menuju keutamaan akhlak. Ini tergantung pada kemujuran dan nasib baik setiap orang yang di suatu tempat ia mendapatkan seorang guru (pembimbing) yang baik lalu secara individual ia menuju kesempurnaan. Hanya saja, masyarakat tidak akan maju. Negara Islam yang menciptakan negeri yang islami. Ketika negeri yang islami muncul, maka peradaban Islam akan muncul dan saat itu budaya Islam akan memenuhi cakrawala umum manusia. Semua ini terwujud dengan pengawasan (muraqabat) dan ketakwaan praktis: ketakwaan individual, kolektif dan umat.

Takwa dan Kemudahan Hidup

Umat Islam pun bila telah memiliki ketakwaan maka mereka dapat melangkah meskipun di jalan-jalan yang sulit dan terjal. Saat menghadapi pelbagai problema, mereka tidak akan berkeluh kesah. Perhatikanlah pernyataan Amirul Mukminin ini: “Barangsiapa yang bertakwa maka segala kesulitan yang sedang menghampirinya akan tersingkir darinya.” Menurut hemat saya, agar suatu bangsa menjadikan takwa sebagai landasan tindakannya, maka pelbagai kesulitan hidup yang mendekatinya akan kembali menjauhinya. Imam Ali melanjutkan penjelasannya: “Dan segala persoalan yang tadinya begitu memilukannya, akan menjadi menyenangkan baginya.” Kepahitan-kepahitan hidup akan menjadi begitu manis baginya. “Gulungan ombak yang tadinya menumpuk akan terlepas darinya.” Hentakan ombak kehidupan yang dahsyat yang tadinya menerpanya akan menjauhinya. Bahkan ia akan menaiki (menikmati) gelombang ombak tersebut. “Dan segala kesulitan yang begitu memusingkannya akan menjadi mudah baginya.” Pelbagai kesulitan dan penderitaan kehidupan yang tadinya mencapai tahapan yang paling rumit akan menjadi mudah dan gampang baginya (hapy ending).

Kenyataannya memang demikian. Saat ini bangsa-bangsa Muslim bungkam di hadapan arogansi negara-negara Adi Daya dunia. Mereka tidak memiliki ilmu yang cukup dan teknologi yang maju, dan di pelbagai bidang politik pun mereka tidak memiliki kelihaian yang diperlukan. Mengapa demikian? Mengapa kita terbelakang? Karena kita meninggalkan ketakwaan. Ini adalah kesulitan yang dengan takwa akan tersingkirkan.

Melalui revolusi, bangsa Iran berhasil menjaga takwa Ilahi. Begitu juga saat mempertahankan revolusi ini, negara ini, dan orisinilitas- orisinilitas agama dan nasional, kalian pun menjaga takwa Ilahi. Alhamdulilah, hari ini kalian menjadi mulia karena semua itu. Saat ini kemuliaan, kekuasaan dan kebesaran bangsa Iran di mata masyarakat dunia dan pelbagai negara bahkan dalam pandangan musuh-musuhnya pun tidak dapat dibandingkan dengan mayoritas negeri Islam yang lain. Ini dicapai semata-mata karena takwa. Bila kita kurang di bidang ini maka juga semata-mata karena kurangnya ketakwaan.

Karakter Ali bin Abi Thalib

Ketegaran juga merupakan dampak dari ketakwaan. Salah satu julukan Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib as) adalah “karrar ghairu farrar” (yang selalu maju dan tidak pernah mundur). Rasulullah saw yang memberikan julukan ini kepada Imam Ali. Ini tidak hanya berlaku pada medan peperangan (militer). Dalam semua medan kemanusiaan, Amirul Mukminin adalah karrar ghairu farrar. Yakni, beliau adalah fighter (penyerang) yang unggul, memiliki pemikiran yang maju, berdiri pada pondasi yang kokoh, tegar dalam mempertahankan prinsip dan keyakinan (akidah). Alhasil, Imam Ali keluar dari gaya bertahan, dan tampil menyerang pelbagai penyimpangan, keburukan, kekejian, kelaliman dan ketidakadilan dunia. Inilah manifestasi dari karakter karrar ghairu farrar Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib as). Bila Anda memperhatikan kehidupan Amirul Mukminin, maka kehidupan sosok agung ini dari awal sampai akhir memang seperti ini. Solusi (masalah) kita juga terdapat pada hal ini. Almarhum Iqbal Lahuri berkata (dalam bait syairnya):

Apakah Anda Tahu Apa Makna Karrar?
Ini Adalah Salah Satu Kedudukan Ali
Umat Kalian Mengalami Instabilitas di Dunia
Mungkin Karena Dalam Kehidupan Mereka Tidak Termasuk Karrar

Resep Kesuksesan dalam Hidup

Apakah Anda ingin tetap hidup? Apakah Anda ingin menjadi mulia? Apakah Anda ingin maju di bidang ilmu dan amal? Apakah Anda ingin generasi muda Anda sukses? Apakah Anda ingin masa depan Anda cerah? Rahasianya adalah Anda harus tegar, aktif (kerja keras), memiliki karakter karrar, banting tulang (tidak mengenal lelah) dan konsisten dalam mencapai tujuan-tujuan Anda. Maka, masa depan bangsa yang memiliki karekter seperti ini akan cerah. Dan bangsa kita—ini menggembirakan sekali—telah melalui jalan ini dan sampai hari ini masih melanjutkan perjalanannya. Hanya saja, jalan ini perlu dilanjutkan.

Sekarang, anak-anak muda telah datang untuk bekerja dan mengabdi. Generasi muda kami yang terhormat, sekarang adalah giliran kalian. Generasi muda sebelum kalian telah bekerja secara maksimal sehingga kita sampai di sini. Hari ini giliran anak-anak muda kita. Hendaklah kalian berpartisipasi dalam bidang ilmu dan amal, dalam bidang takwa dan politik, dalam bidang pekerjaan dan pengabdian kepada masyarakat, serta dalam pelbagai bidang yang kalian layak untuk mewarnainya. Namun hendaklah kalian memperbaiki diri kalian terlebih dahulu, lalu melangkahlah ke depan.

Ibadah I`tikaf

Di sini saya akan menyampaikan sedikit penjelasan kepada orang-orang yang menjalankan ibadah i`tikaf. Berbahagialah terhadap keadaan kalian wahai orang-orang yang melaksanakan i`tikaf! Fenomena i`tikaf adalah salah satu metode revolusi. Di masa permulaan revolusi, kita tidak mempunyai hal seperti ini. Memang i`tikaf mulai dulu selalu ada. Di masa muda kami, saat bulan Rajab tiba, kami melihat fenomena i`tikaf di Masjid Imam Qum—itu pun hanya di kota Qum, sedangkan di kota Masyhad kami sama sekali tidak mendapatinya. Mungkin hanya sekitar 50 orang atau 100 santri (thalabeh) saja yang melakukan ibadah i`tikaf. Namun saat ini i`tikaf sudah menjadi fenomena umum dimana ratusan ribu orang ikut serta dalam acara i`tikaf. Bahkan mayoritas pesertanya adalah anak-anak muda. Ini merupakan bagian dari metode revolusi. Saya pernah menyatakan bahwa revolusi kita di samping memiliki akar (dasar) juga mempunyai metode. Dan metode mengalahkan akar. Sekali lagi, berbahagialah dengan keadaan kalian wahai mereka yang menjalankan ibadah i`tikaf! Saya menghimbau agar selama tiga hari ini dimana kalian berada di masjid, hendaklah kalian berlatih untuk introspeksi terhadap diri kalian. Hendaklah kalian introspeksi terhadap tutur kata kalian, makanan yang kalian makan, pergaulan kalian, kitab (buku) yang kalian baca, pikiran kalian, dan peranan yang akan kalian mainkan di masa mendatang. Seyogianya kalian mendahulukan ridha dan kehendak Allah SWT atas keinginan diri kalian. Janganlah kalian menyerah dan menjadi tawanan hawa nafsu kalian. Latihan dalam menghadapi hal-hal seperti ini selama tiga hari ini akan menjadi pelajaran yang berharga bagi mereka yang sedang menjalankan i`tikaf. Dan kita yang duduk di sini dengan “iri” melihat keadaan anak-anak muda kita yang mulia yang sedang menjalankan ibadah i`tikaf. Dan dengan amal kalian ini, kalian pun telah mengajari kami (yang tidak beri`tikaf—pen. ).

Doa Penutup Khotbah Pertama

Ya Allah, hujanilah hati kami dengan rahmat dan karunia-Mu! Selamatkanlah kami dari kegelapan pemikiran yang menyimpang! Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang mukmin dan orang yang bertakwa sebenar-benarnya! Ya Allah, jadikanlah bangsa kami sebagai bangsa yang menang dan mulia dalam berbagai bidang. Amin!

Kemudian untuk mengakhiri khotbah pertamanya, khatib membaca surat al Ikhlas: Bismillahhirrahmina rrahim. Qulhuwallahhu ahad. Allahu ash shamad. Lamyalid walam yulad. Walam yakullahu kufu’an ahad.

http://www.islam_alternatif@yahoogroups.com

~ oleh lateral pada Agustus 24, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s