Laskar Pelangi

Judul Buku: Laskar Pelangi
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal buku: 529 Halaman
Cetakan pertama: September 2005
Cetakan kedua: Desember 2005
Cetakan ketiga: Maret 2006
Harga: Rp.59.000

Dewasa ini kecenderungan budaya pop tengah mendominasi kehidupan masyarat kita, baik tua maupun muda, dewasa maupun anak-anak, di kota maupun di desa. Mungkin sebagai pelarian dari rasa pusing dan ruwetnya menjalani hidup, masyarakat lebih suka dininabobokan dengan cerita-cerita tentang kemewahan, keglamoran, dan keborjuisan segelintir kalangan di negeri kita. Lihat saja tayangan di televisi, semua penuh dengan acara sinetron ataupun infotainment yang mengekspos hanya dan hanya kemakmuran para aktris dan aktornya yang cantik dan ganteng. Dunia perbukuan pun demikian. Para pemerhati dunia buku di tanah air pasti sudah tidak asing dengan fenomena novel-novel bergenre pop seperti chicklit dan teenlit, yang tingkat kelarisannya mungkin hanya bisa disamai dengan pisang goreng.

Maka akan sangat mengejutkan, bila di tengah-tengah kecenderungan tersebut, terbit sebuah novel, yang dengan isi, visi, dan misinya yang melawan arus, mampu menjadi fenomena yang ramai dibicarakan oleh masyarakat perbukuan di tanah air. Bahkan di sebuah toko buku terkemuka, novel ini telah berhasil mencetak best seller. Ia tak lain dan tak bukan adalah Laskar Pelangi.

Novel ini sebenarnya merupakan sebuah memoar dari sang penulis (Andrea Hirata, analis keuangan di kantor pusat PT Telkom, Bandung), mengenai masa kecil yang dihabiskannya di tanah kelahirannya Pulau Belitong yang terkenal dengan timahnya. Budaya Melayu Belitong dan kemiskinan akut masyarakat daerah pertambangan, menjadi warna yang pekat melatar belakangi kisah yang dituturkannya. Namun dengan kepiawaiannya bercerita, Andrea mampu menampilkan segala kekurangan dan keterbatasan hidup bukan hanya sebagai ironi dan tragedi, melainkan juga bisa berbentuk ria dan suka cita, angan dan kebahagiaan.

Kisah dimulai saat si Ikal (Andrea kecil) didaftarkan ke sekolah Muhammadiyah di Belitong. Sekolah miskin yang bahkan agar bisa tetap buka gurunya harus berpacu jantung menunggu muridnya genap sepuluh orang yang mendaftar di tahun ajaran baru. Sekolah, beserta sepuluh murid – yang dijuluki Laskar Pelangi -inilah , yang menjadi nafas keseluruhan buku ini. Cerita bertingkah di antara keluguan, kelucuan, bahkan keliaran hidup masa kecil mereka, diwarnai dengan kesederhanaan sekaligus kemuliaan guru-guru yang bertindak sebenar-benarnya sebagai “pendidik”, bukan hanya sebagai “pengajar”. Sesuatu yang langka ditemukan dewasa ini.

Kemiskinan dan keterpencilan tidaklah menjadikan Ikal dan kawan-kawannya patah semangat dalam belajar. Motivasi para guru dan kecintaan pada ilmu mampu menjadikan anak-anak ini pembelajar yang tangguh. Tak peduli hujan turun begitu lebatnya, petir sambar menyambar, “Tapi sehari pun kami tak pernah bolos, dan kami tak pernah mengeluh, tidak sedikit pun kami pernah mengeluh.” Keadaan itu semakin diperkuat dengan kehadiran Lintang dan Mahar, dua orang jenius – yang seorang jenius akademik, yang lainnya jenius seni – yang membuat kelas selalu semarak dengan ide-ide dan terobosan baru. Tanpa Lintang dan Mahar, “…, kelas kami tak lebih dari sekumpulan kuli tambang melarat yang mencoba belajar tulis rangkai indah di atas kertas bergaris tiga.”

Membaca karya Andrea ini membuat kita merenung, bahwa masa kecil yang indah dan bahagia tidaklah melulu hanya bisa dicapai dengan kecukupan atau kelimpahan materi.
Kebebasan berekspresi, kedekatan dengan alam, rasa kasih sayang antar teman dan antara guru dan murid, ternyata bisa membentuk kesan keajaiban masa kecil tertanam kuat di benak seseorang, contohnya Andrea itu. Kegembiraan yang meluap tergambarkan dengan jelas dalam adegan permainan pelepah pinang di tengah hujan. Kegembiraan yang mungkin setara atau melebihi keriaan anak-anak kota yang menaiki komidi putar atau boom-boom car di taman hiburan. Bahkan diceritakan, salah seorang anak gedongan – Flo, putri seorang pejabat PN Timah – memilih meninggalkan sekolahnya yang elite, dan bergabung dengan anak-anak miskin di sekolah Muhammadiyah, untuk memenuhi rasa kosongnya di tengah-tengah limpahan harta benda dan hidup yang penuh kemudahan nyaris tanpa tantangan.

Sebagai penulis pemula, Andrea menakjubkan, karena mampu menampilkan deskripsi dengan detail yang kuat. Akhir yang disajikan mengejutkan, dan seringkali, lucu. Coba simak saat ia menggambarkan kondisi ruang kelasnya yang minim dari benda-benda hiasan :
“ Di dalam kelas kami tidak terdapat tempelan poster operasi kali-kalian seprti umumnya terdapat di kelas-kelas sekolah dasar. Kami juga tidak memiliki kalender dan tak ada gambar presiden dan wakilnya, atau gambar seekor burung aneh berekor delapan helai yang selalu menoleh ke kanan itu. Satu-satunya tempelan di sana adalah sebuah poster, persis di belakang meja Bu Mus untuk menutupi lubang besar di dinding papan. Poster itu memperlihatkan gambar seorang pria berjenggot lebat, memakai jubah, dan ia memegang gitar penuh gaya. Matanya sayu tapi meradang, seperti telah mengalami cobaan hidup yang mahadahsyat. Dan agaknya ia memang telah bertekad bulat melawan segala bentuk kemaksiatan di muka bumi. Di dalam gambar tersebut sang pria tadi melongok ke langit dan banyak sekali uang-uang kertas serta logam berjatuhan menimpa wajahnya. Di bagian bawah poster itu terdapat dua baris kalimat yang tak kupahami. Tapi nanti setelah naik ke kelas dua dan sudah pintar membaca, aku mengerti bunyi kedua kalimat itu adalah : RHOMA IRAMA, HUJAN DUIT !”

Kejutan dan kelucuan juga yang terjadi saat Andrea menuturkan pengalamannya berhubungan dengan seseorang dari dunia klenik, yaitu Tuk Bayan Tula. Ada juga ironi yang memancing senyum geli campur getir saat Andrea mengisahkan nasibnya di usia dewasa yang gagal mewujudkan cita-citanya, sebelum akhirnya menerima takdir lain yang lebih baik. Kekuatan deskripsi Andrea tampil memukau saat menggambarkan konser musik group bentukan Mahar – Republik Dangdut – yang membawakan lagu rock karya Yess, Owner of a Lonely Heart. Hal serupa juga terjadi saat dia mengisahkan tarian suku Masai Afrika dalam karnaval 17 Agustus, di mana kita dibawa untuk menampilkan dalam imajinasi kita, serombongan penari dengan coreng-moreng di tubuh dan wajahnya, mahkota dari bulu dan dedaunan, jurai-jurai panjang, bergerak dengan rancak, lincah, dan penuh kejutan. Diiringi musik yang menghentak penuh semangat dari 30 pemain tabla, hati ini seolah ikut terbawa menghentak-hentak, terhanyut dan tersihir oleh suasana pada saat itu.

Lalu hati juga dibawa berdesah dan mengharu biru saat Andrea menuturkan cinta pertamanya – yang akhirnya gagal terwujud – kepada seorang putri juragan toko kelontong. Simak kutipan berikut ini, saat terjadi adegan kapur-kapur bertebaran karena sang nona tak sengaja menjatuhkannya :
“Kejadiannya sangat mengejutkan, karena amat cepat, tanpa disangka sama sekali, si nona misterius justru tiba-tiba membuka tirai dan tindakan cerobohnya itu membuat wajah kami yang sama-sama terperanjat hampir bersentuhan !!! Kami beradu pandang dekat sekali… dan suasana seketika menjadi hening… Mata kami bertatapan dengan perasaan yang tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Kapur-kapur yang telah ia kumpulkan terlepas dari genggamannya, jatuh berserakan, sedangkan kapur-kapur yang ada di genggamanku terasa dingin membeku seperti aku sedang mencengkeram batangan-batangan es lilin.

Saat itu aku merasa jarum detik seluruh jam yang ada di dunia ini berhenti berdetak. Semua gerakan alam tersentak diam dipotret Tuhan dengan kamera raksasa dari langit, blitz-nya membutakan, flash !!! Menyilaukan dan membekukan. Aku terpana dan merasa seperti melayang, mati suri, dan mau pingsan dalam ekstase.”

Metafor-metafor yang dipakainya indah, dan seringkali tidak biasa. Tengoklah peggambarannya untuk sekawanan kupu-kupu yang sering mendatangi pohon filicium di halaman sekolah mereka :
“ Kupu-kupu clouded yellow dan Papilio blumei saling bercengkrama dengan harmonis seperti sebuah reuni besar bidadari penghuni berbagai surga dari agama yang berbeda-beda.”
Humornya berserakan, bersembulan, dan saling bergantian menggelitiki relung hati sehingga tak jarang kita tertawa terkikik sementara di waktu lain terbahak-bahak keras, seperti pada momen pembukaan pesan Tuk Bayan Tula.

Andrea dengan piawai menampilkan tragedi dengan menyentuh tanpa berlarut-larut di dalamnya. Kisah patah hatinya kepada sang putri juragan toko, Bodenga, dan kisah Lintang mampu merebakkan rasa haru, namun tetap menerbitkan optimisme dalam setiap akhirnya. Kecintaan dan rasa hormatnya pada perguruan Muhammadiyah dan ajaran agama Islam cukup kental mewarnai keseluruhan kisah, tapi tidak lantas menjerumuskan sang tokoh dalam kedangkalan primordialisme. Kesenjangan sosial yang terjadi dalam masyarakat pertambangan, antara lingkungan “orang staf” PN Timah dan penduduk asli, dan insiden penjarahan yang dilakukan penduduk asli terhadap lingkungan “orang staf”, meski tampil intens, masih terbawakan dalam keseimbangan yang laras, dan tidak menjadikan novel beraromakan kemarahan dan kekerasan. Banyaknya istilah asing, termasuk nama-nama ilmiah untuk tumbuhan, hewan, dan batu-batuan, juga beberapa entri tentang fenomena-fenomena alam, memperlihatkan kecintaan penulis akan ilmu-ilmu fisika, biologi, dan geologi, juga memperlihatkan upaya keras untuk melakukan riset di bidang-bidang tersebut.

Pendek kata, di tengah arus budaya hedonisme yang tengah menjangkiti masyarakat dewasa ini, di tengah arus novel chicklit dan teenlit yang digandrungi kalangan muda akhir-akhir ini, novel ini ibarat mata air tawar yang muncul di tengah-tengah kedalaman samudera. Sementara air yang berlimpah di sekelilingnya bila diminum justru semakin menambah kehausan, maka novel ini menawarkan kesejukan, kesegaran yang membasuh habis dahaga jiwa akan nilai-nilai yang kian langka ditemukan di dunia yang semakin tua ini, yaitu kasih sayang, persahabatan, kesederhanaan, dan kecintaan akan ilmu pengetahuan.


EVA KURNIA DAMAYANTI,

Pegawai Telkom di USI Regional III Bandung

~ oleh lateral pada Agustus 15, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: