Awas Teror-Lain Mengancam

APA yang terbayang dibenak Anda ketika mendengar kata teror? Sudah bisa dipastikan yang terbayang adalah sesuatu yang menakutkan dan mengancam nyawa. Seperti peledakan bom, pembajakan pesawat, penyanderaan dan lainnya. Tapi pernahkah terbayang oleh Anda bahwa ada bentuk teror lain yang tidak kalah hebatnya dalam mengancam dan membahayakan nyawa kita. Setidaknya dengan maraknya pemberitaan di berbagai media massa, tentang kasus penemuan kandungan zat-zat kimiawi berbahaya dalam beberapa produk-produk yang sudah biasa menjadi konsumsi harian masyarakat, bisa menjadi salah satu bukti dari adanya teror tersebut.

Dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama berselang, kasus demi kasus terus bermunculan. Belum lepas dari ingatan kita tentang adanya kandungan boraks dan campuran daging tikus atau celeng di dalam bakso, kita kembali dikejutkan dengan ditemukannya kandungan formalin yang terdapat di dalam tahu, ikan asin, buah-buahan impor dan berbagai macam makanan ringan.

Ketika semua itu belum tuntas, kita dikejutkan lagi dengan adanya temuan terbaru dari Badan POM tentang produk-produk impor dari negara Cina, yang juga ternyata mengandung bahan kimia berbahaya. Bahkan sekarang ini disinyalir kalau kandungan zat kimia berbahaya itu tidak hanya terdapat dalam produk makanan, tapi juga ada dalam produk konsumsi kebutuhan harian lainnya, seperti kosmetik, sabun mandi, pasta gigi, obat-obatan dan lainnya.

Mungkin sesaat setelah banyak diberitakan oleh media massa, para produsen dan penjual produk-produk tadi akan segera menghentikan tindakannya. Mereka tidak mau mengambil sebuah risiko yang bisa mengakibatkan izin usahanya dicabut, bahkan mengakibatkan masuk penjara. Karena seperti biasanya, tidak lama berselang setelah banyak diberitakan oleh media massa, pihak pemerintah akan lebih rajin (dari biasanya) untuk melakukan sweaping ke pabrik, warung dan pasar-pasar.

Namun yang menjadi pertanyaan penting adalah, apa yang kemudian akan terjadi ketika semua media sudah tidak memberitakannya lagi, atau ketika pemerintah sudah lupa akan tugasnya untuk melindungi masyarakat (dalam melakukan pengawasan)? Apakah ada jaminan kalau mereka itu (para produsen dan pedagang) betul-betul punya itikad baik untuk menghentikan tindakannya tersebut. Kita tidak akan pernah tahu. Karena selama ini seiring dengan hilangnya pemberitaan di media, semua kasus tersebut menghilang dan dilupakan begitu saja.

Melihat fenomena seperti ini, kita menjadi wajib takut dan khawatir terhadap keselamatan kesehatan kita. Karena setiap saat, setiap waktu akan selalu hadir ancaman yang sulit kita deteksi kedatangannya. Kita menjadi wajib curiga dan hati-hati terhadap setiap produk-produk yang biasa kita konsumsi sehari-hari. Tidak hanya terhadap hasil produksi industri kecil yang diperdagangkan di kaki lima, warung-warung dan pasar-pasar tradisional, tetapi juga terhadap produk dari perusahaan-perusahaan besar yang diperdagangkan di toko-toko, supermarket-supermarket dan restoran-restoran mewah. Karena walaupun kelihatannya “seperti” higienis dan bersih, tidak ada jaminan kalau produk tersebut aman untuk kita konsumsi. Bahkan terhadap produk-produk yang sudah mendapatkan lebel Depkes dan halal sekalipun.

Dari cara-cara yang dipakai orang dalam berbisnis tadi, jelas kita tidak melihat lagi peran dari nilai agama, yang seharusnya bisa menjadi penuntun dan pembatas yang jelas antara hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan dalam kehidupan ini. Cara-cara yang dipakai dalam bisnis seperti diatas telah mengusik rasa kemanusiaan kita. Semua sudah berada diluar ambang batas normal rasa kemanusiaan. Karena bagaimana mungkin kita bisa berbahagia ketika memperoleh keuntungan yang didapatkan dengan cara menyakiti dan meracuni orang lain. Terkecuali masyarakat kita memang sedang mengalami sakit secara psikologis dan sudah benar-benar kehilangan hati nuraninya. Tapi itulah realitas yang sedang terjadi didalam masyarakat kita. Dengan dalih semakin sulitnya perekonomian, pada akhirnya orang-orang bisa menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan keuntungan yang besar agar bisa bertahan hidup dengan tidak memperdulikan lagi dampak dari produksi usahanya tersebut terhadap orang lain.

Oleh karena itu selama pemerintahan tidak melakukan pengawasan yang ketat terhadap regulasi perdagangan dan juga mengambil tindakan yang tegas terhadap para produsen dan pedagang yang licik dan nakal, selama itu pula kita tetap perlu selalu berhati-hati dan bersikap kritis terhadap produk-produk yang biasa menjadi konsumsi harian kita.

MUHAMMAD ASEP ZAELANI,
Mahasiswa S-2 Konsentrasi Ekonomi Islam Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

~ oleh lateral pada Agustus 14, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s