Khillafah Bukan Hal yang Baru

KERAJAAN Samudra Pasai menjadi salah satu tonggak sejarah kedatangan Islam di Indonesia. Ada beberapa persepsi kapan waktu tepatnya Islam masuk ke Indonesia. Namun seminar nasional di Medan pada 1970 menyebutkan Islam masuk sekitar abad ke 7 M. ”Yang jelas, Islam datang ke Indonesia sudah lengkap dengan aliran fikih, kalam, dan tasawufnya,” ujar Asisten Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, DR Zaih Mubarak. Indonesia dulu bagian dari Malabar yang pusatnya terletak di Malaysia. Lalu Islam pun bergeser ke Aceh kemudian ke Riau dan terus hingga ke arah timur.

Berita dari Marcopolo menyebutkan pada saat persinggahan di Samudra Pasai tahun 692 H/1292 M, telah banyak orang yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battutah, menuliskan di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i. Adapun peninggalan tertua yang ditemukan di Gresik Jawa Timur, berupa kompleks makam Islam. Salah satu di antaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka 475 H/1082 M.

Islam makin berkembang, jumlah lembaga pendidikan Islam bertambah, penganutnya pun bertambah hingga masuklah era kesultanan. Kesultanan berarti kekuasaan umat Islam. Penganut makin bertambah terutama saat ulama mengislamkan raja. Seperti saat raja Mataram diislamkan, seluruh rakyatnya mempercayai bahwa rakyat harus mengikuti agama rajanya. Selain itu, Islam berkembang seiring dengan pernikahan, perdagangan, dan lainnya.

Kesultanan di Indonesia, kata Zaih, kemungkinan mempunyai hubungan baik dengan khilafah. Namun khilafah disini dalam artian perpanjangan kekuasaan Turki Utsmani. ”Saya tidak tahu khilafah pernah ada di Indonesia, namun kesultanan dan khilafah memang berkaitan,” katanya menjelaskan. Hal ini bisa terlihat dari diangkanya sultanah di Aceh. Padahal dalam ajaran Sunni, seorang sultan haruslah laki-laki.

Akhirnya, atas anjuran dari Sultan Turki Utsmani sultanah tersebut diganti. Meskipun kisah itu memperlihatkan adanya keterkaitan, namun zaman dulu belum dikenal sentralistik ataupun desentralistik. Umat Islam condong ke federasi. Itu terlihat dari setiap daerah memiliki penguasa sendiri, sistem politik, bahkan tentara sendiri.

Dalam konteks sejarah, khilafah itu ada pada zaman khulafaur rasyidin. Salah satu yang menjadi alasannya adalah pemilihan pemimpin saat itu tidak lagi berdasarkan prestasi melainkan keturunan. ”Pemilihannya sudah tidak demokratis,” katanya.

Hal senada juga dikemukakan Prof DR Azyumardi Azra, direktur Sekolah Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah. Menurut cendekiawan Muslim ini, khilafah hanya ada pada masa khulafaur rasyidin. Di Turki itu keturunan, turun-temurun. Khilafah itu hancurnya pada masa pasca khilafaur rasyidun dengan beralihnya kekuasaan kepada Muawiyah bin Abu Sofyan. Muawiyah tidak meneruskan khilafah tapi membuat mamlakah, kerajaan.

Pengangkatannya monarki, turun-temurun. Jadi, Daulah Umaiyah itu adalah mamlakah. Kemudian daulah Abbasiyah itu juga mamlakah. Dan yang terakhir dan yang terbesar itu Daulah Usmaniyah. Daulah Usmaniyah juga bukan khilafiyah tapi mamlakah.

http://www.republika.co.id/Jumat,10Agustus 2007

~ oleh lateral pada Agustus 13, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: