Proklamasikan Kebenaran

Oleh AHMAD DIMYATI

ALLAH mengetahui apa pun yang terjadi di jagat raya ini. Begitu pula Dia Maha Berkehendak terjadi atau tidaknya sesuatu.Oleh karena itu, suatu saat Dia akan memberi keputusan adil terhadap kondisi masyarakat yang kini dilanda “moral hazard” (kerusakan moral) kolektif dalam berbagai dimensi ini. Kita kembalikan segalanya kepada “Yang Maha Membuat keputusan”. Namun, sebagai khalifah dan hamba Allah yang dibekali “alat -alat” meng-iqra, kita harus kreatif dan inisiatif serta berusaha merealisasikan kehendak Allah dalam kehidupan. Sudah sunnatullah, tegaknya nilai-nilai ilahiyah di muka bumi ini, tidak “kun fayakun” atau “abra kadabra”, tetapi melalui suatu proses “permainan”. Dalam hal ini, Allah sebagai sutradara sedangkan kita aktor dan aktrisnya.

Upaya demikian harus selekasnya kita upayakan, karena “musuh yang nyata” (setan) sudah terlalu jauh menerapkan skenarionya. Sebagai sutradara, setan telah mengarahkan aktor dan aktrisnya dari jenis manusia untuk menegakkan nilai-nilai syaithaniyyah (nilai-nilai/budaya setan). Buktinya, dalam segala dimensi masyarakat kita saat ini ada kecenderungan lebih terpesona terhadap “pelanggaran norma-norma agama” yang setiap saat terjadi.

Skenario dan strategi setan dalam memperalat manusia untuk merealisasikan kehendaknya, sangat sulit jika dihadapi dengan strategi manusia yang memiliki jangkauan pendek, dan temporer serta rapuh. Oleh karena itu, beralihlah dengan skenario dan strategi “Sang Pencipta” yang tersurat dalam al-Quran/hadits dan tersirat dalam pribadi-pribadi mulia pilihan-Nya. Mari kita buka lembaran-lembaran kitab suci untuk mengkaji dan menerapkannya. Selain itu, janganlah kita tinggalkan para ‘ulama dan orang-orang yang diyakini memiliki “kepribadian” yang baik. Namun, kita sendiri harus berusaha menggali, dengan keyakinan akan diberi dan dipilih Allah menjadi orang mulia (baik). Tidak hanya itu, mudah-mudahan kita dipilih menjadi proklamator-proklamator untuk menyampaikan kebenaran dari-Nya.

Kita akan sulit menjadi pengemban amanah dakwah atau sebagai proklamator kebenaran, jika tidak berusaha meraih dan memiliki ilmu. Janganlah berpendapat, “Biarlah urusan ini, orang lain yang melakukan, saya tidak mampu”. Ingat, Allah memiliki hak preogratif untuk memilih siapa yang akan menjadi wakil dan proklamator kebenaran dari-Nya. Jangan biarkan diri kita terbawa arus kepesimisan terhadap rahmat Allah, tanamkan dalam diri bahwa kita pasti “Bisa”, dan mulailah dengan 3 M, “Mulai, Mulai, dan Mulai”. Mulailah memohon kehadapan-Nya, mulailah mempelajari ilmu-Nya, dan mulailah menjadi pemain serta mengikuti skenario-Nya.

Waktu yang tersedia sudah konstan, 24 jam perhari. Pada zaman Rasulullah pun sama, satu hari lamanya 24 jam. Beliau manusia dan kita pun manusia. Betul, beliau manusia pilihan yang disucikan dari dosa, tetapi tugas beliau maha berat dibanding kondisi kita. Beliau hidup di tengah masyarakat yang malu memiliki anak perempuan bahkan ada yang dikubur hidup-hidup, masyarakat yang hukumnya melegalkan penyembahan berhala di Kabah yang suci, masyarakat yang semangat kesukuan di atas segalanya, dan sebagainya. Selain itu, beliau saat membawa ajaran baru. Adapun kita saat ini hidup dalam kondisi masyarakat sudah percaya kepada Allah dan mengamalkan beberapa perintah-Nya. Selain itu, membunuh (apalagi terhadap bayi yang sering terjadi) masih dianggap kriminal walaupun hukumannya tergantung status. Begitu pula semangat kesukuan dan sejenisnya sudah jarang terlihat, walaupun masih ada. Bahan dakwah pun saat ini telah tersedia, tinggal mempelajari, mengamalkan, dan menyampaikannya. Oleh karena itu, mari tekadkan waktu yang dimiliki setiap harinya kita bagi secara adil dan proporsional. Adil bukan ukuran kita, tetapi ukuran Allah, karena kita ingin menjalani skenario Allah. Jika tidak, apa yang dapat kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak di akhirat. Selain itu, apa yang akan kita tawarkan untuk memperoleh syafa’at teladan kita, Nabi Muhammad saw.

Apapun alasannya dan apa pun kondisinya, kita tidak boleh menyerah atau kalah sebelum bertanding. Bila saat ini ada yang merasa berat mengkaji ilmu, berat beramal, dan berat berdakwah, jangan menjadi alasan tidak melakukan ketiganya. Suatu saat kelak, Allah akan memilih kita menjadi wakil, proklamator, dan pengemban amanah-Nya. Untuk itu, ibarat masih bayi yang baru belajar, mari kita latihan di lingkungan kita. Mari proklamasikan kebenaran dan kepedulian terhadap sesama.

AHMAD DIMYATI,
Editor buku-buku pelajaran

~ oleh lateral pada Agustus 9, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s