Vali Nasr dan Respon terhadap Azyumardi Azra

PADA awalnya, saya berpikir asumsi-asumsi “liar” Vali Reza Nasr (saya katakan demikian setelah membaca beberapa esainya yang tampaknya mencerminkan ide dasar dari buku tersebut) hanya akan bergema di dinding-dinding Gedung Putih, atau di jurnal-jurnal para pemikir neokonservatif Amerika. Tapi ternyata saya salah, setidaknya ketika Diwan hendak menerbitkan bukunya, The Shi’a Revival: How Conflict within Islam Will Shape the Future, yang menjadi referensi favorit para pemikir dan jurnalis neokon. Dan kemudian, secara singkat, diulas Azyumardi Azra dalam kolom “resonansi” di Republika.

Satu hal yang segera saja menarik perhatian saya, mengapa Azra, dalam kolom tersebut, tidak mencoba bercerita “ala kadarnya” tentang afiliasi akademik, dan mungkin politik, Vali Nasr. Andai ini dilakukan Azra, kesimpulan tulisannya bahwa, “Perspektif seperti ini hemat saya tidak menolong bagi terciptanya hubungan lebih baik dan harmonis di antara kedua sayap Islam; Suni dan Syiah“, akan semakin mengungkap faktor utama pemicu konflik Suni-Syiah di Irak. Mengungkap afiliasi akademik Vali Nasr, saya pikir, lebih bermakna dan kontekstual, ketimbang menuliskan latar belakang biologisnya, sebagai putra Hossen Nasr.

Lantas siapakah Vali Nasr dalam spektrum pemikiran dan analisis politik Timur Tengah di AS?

Vali Reza Nasr adalah “idola baru” media-media Amerika dan kalangan liberal-neokon, khususnya dalam kaitan dengan Syiah, Iran, dan sektarianisme. Bagi kelompok-kelompok tersebut, mengutip para ulama (ayatullah) mengenai Islam Syiah adalah sebuah anatema, karena mereka semua diklasifikasikan sebagai “terkebelakang” dan “fundamentalis” . Maka, sim salabim, muncullah Vali Nasr sebagai ’satu-satunya’ sumber otoritatif tentang Syiah bagi mereka.

Vali Nasr adalah peneliti senior pada Kajian Timur Tengah di Council on Foreign Relation (CFR), sebuah lembaga”think tank” tentang kebijakan luar negeri yang paling berpengaruh di Washington. Jika anda mencari tahu CFR lewat wikipedia, jangan tertipu dengan kata “independent dan nonpartisan” . Perhatikan siapa anggota-anggota dewan kehormatannya.

Di situ, anda akan temukan nama-nama seperti: dinasti keluarga Rockefeller, Jonathan S. Bush (sepupu George W. Bush), Dick Cheney, Condoleezza Rice, Robert Gates, Paul Wolfowitz, John Negroponte, Henry Kissinger, Irving Kristol (gembong neokonservatisme Amerika), dan George Soros.

Jika nama-nama tersebut belum cukup, perhatikan pula nama-nama korporasi global penyokong dana CFR, di antaranya: ExxonMobil, Citigroup, Halliburton, Chevron, Lockheed Martin, dan Bank of America.

Asumsi Vali Nasr tentang Syiah dan sektarianisme di Irak seolah-olah menunjukkan kenaifannya bahwa para neokon di pemerintahan Bush tidak tahu menahu, dan tidak melakukan apa pun dalam kaitan dengan menyulut api konflik sektarian di Irak. Di sini, Vali Nasr jelas telah berjasa membersihkan tangan AS dari pertumpahan darah di Irak.

Kenaifan Vali Nasr juga terlihat ketika seolah-olah tidak tahu menahu tentang laporan analisis RAND (Reseach and Development) , sebuah lembaga “think tank”berpengaruh lainnya, yang dipesan Angkatan Udara AS . Laporan tersebut secara eksplisit menyerukan pemanfaatan sektarianisme untuk memecah-belas Muslim, termasuk di antaranya antara Suni dan Syiah.

IRMAN ABDURRAHMAN,
Staf Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta

Friday, 03 August 2007/www.islamalternatif.net

~ oleh lateral pada Agustus 7, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s