Makna Fundamentalisme

FUNDAMENTALISME lebih sering diucapkan ketimbang digubris makna atau lebih tepat batasannya. Prinsip ‘omong dulu, tentukan artinya kapan-kapan’ banyak terjadi di era modern. Jelas kalau fundamentalisme berasal dari kata fundament yang berarti asas atau dasar.

Fundamentalisme dan orang yang bersangkutan, fundamentalis, adalah orang yang berurusan dan condong kepada dasar atau basis sesuatu. Sehingga menurut penjelasan ini, siapapun yang peduli dengan dasar atau pondasi sesuatu adalah seorang fundamentalis. Misalnya kita belanja di mal, kita lapar lalu kita cari makan. Saat berada di food court, kita cari kursi yang kokoh, yang kaki-kakinya tak gampang melekuk. Karena peduli dengan fundamen atau basis kursi, maka tak pelak lagi kita adalah seorang fundamentalis. Tentu dalam bidang ‘kekursian’. Begitu juga seorang dokter, jika benar-benar memegang prinsip bagaimana seharusnya menyikapi pasien yang sedang tergeletak sakit, tidak malah melihat penyakit atau kelemahan pasien sebagai aset yang harus dikembangkan, maka tak pelak ia juga seorang fundamental di bidang kedokteran. Sejauh ini, tampaknya fundamental tidak melulu negatif. Atau dia yang selalu mendakwahkan kebebasan dan percaya pada prinsip kebebasan adalah seorang fundamentalis dalam liberalisme.

Masalah yang sama juga ada saat kita melihat kata radikalisme. Karena radikal adalah juga tidak jauh maknanya dengan fundamen.

Kalau kemudian kita beranjak dari pembahasan di atas ke Islam radikal, Islam fundamental atau Islamisme radikal, sesuai arti sesungguhnya, adalah orang yang memegang prinsip-prinsip dasar Islam.

Jika pada saat yang sama, kita melihat bahwa pada prinsipnya Islam mengajak manusia untuk menegakkan keadilan berbasis Tauhid di muka bumi, hal itu dijelaskan di dalam al-Quran sebagai tujuan diutusnya para nabi, maka mungkin yang paling cocok untuk disebut Muslim fundamentalis atau Muslim radikal akhir-akhir ini adalah almarhum Cak Munir SH. yang kita tahu bersama-sama bagaimana hidupnya dimotori dengan dahaga akan tegaknya keadilan di persada Indonesia. Sementara ciri awalnya adalah jiwa pengorbanan dan keberanian. Sedangkan musuh-musuh keadilan di Indonesia yang mengaku muslim, para koruptor, penghisap darah bangsa maksimal dapat disebut Muslim moderat, artinya tidak terlalu berpegang erat pada prinsip Islam.

Jika kita melihat bahwa ajaran Islam yang paling mendasar adalah ajakan untuk belajar dan memperdalam ilmu. Sementara Iqra’ (bacalah) merupakan perintah pertama yang sampai pada diri Nabi, maka Prof. B.J Habibie mungkin cukup pantas untuk dianggap contoh Muslim fundamentalis kontemporer. Kalau di masa lalu, Ibnu Sina, al-Biruni dkk. Ciri-ciri dasarnya adalah ketekunan dan disiplin.

Entah bagaimana dan siapa yang mengawali cara lain dalam melihat fundamentalisme Islam, sehingga hari ini kita geli melihat definisi semula fundamentalisme dan radikalisme.

Kalau melihat sejarahnya, kata fundamentalisme dengan kaitan dengan agama atau gerakan sosial pertama kali digunakan pada 1920an. Alkisah, Darwinisme dan teori evolusinya secara langsung menohok Bibel dan penjelasan penciptaan Adam versi bibel. Antara 1920-1925 muncullah gerakan di tengah Kristen Protestan AS yang bersikeras membela kesahihan apapun yang termaktub dalam bibel, baik yang menyangkut keimanan maupun ilmu pengetahuan. Ide pembelaan terhadap kesahihan Bibel ini disebut gerakan fundamentalism. Gerakan ini terkenal berseberangan dengan ide Kristen sekuler atau Kristen liberal yang meyakini tentang keimanan memang apa yang terkandung dalam Bibel itu benar, tetapi yang menyangkut sains dan ilmu pengetahuan, biarkan para ilmuwan yang berbicara dan jauhkan bibel dalam masalah-masalah seperti itu. Kaum fundamentalist juga dikenal sebagai sekelompok orang yang literalis dan percaya pada teks Bibel dan tidak menggunakan akal.

Konteks semacam ini untuk memeta Islam agak tidak tepat. Al-Quran bukan Bibel. Rasionalisme adalah prinsip dan fundamen pemikiran Islam di al-Quran.

Kalau kepercayaan tentang kebenaran apapun yang terkandung di dalam al-Quran adalah fundamentalisme Islam, maka segenap orang yang mengaku Islam dan percaya pada rukun iman adalah seorang fundamentalis. Tetapi perlu diingat bahwa ini bukan Bibel, percaya bahwa al-Quran semuanya benar adalah konsekuensi logis dan rasional bagi orang yang merenungkannya (baca: bertadabur). Karena al-Quran tidak mengandung apapun yang irasional. Fundamentalisme Islam bisa jadi sangat rasional.

IBRAHIM MUHARAM
http://www.adilnews.com

~ oleh lateral pada Agustus 2, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: