Lomba Mengeluh

DEAR teman dan sahabat semua….

Hari ini saya mau mendongeng saja deh. Kan sudah lama kita tidak mendengar…eeeh…membaca dongeng. Maklum, kadang dongeng dianggap sebagai bacaan anak-anak…tapi sekali ini…pleaseeeeee….boleh dong saya mendongeng…yach,

Mmmhh…kita mulai aja ya. Pakai kata pembukaan seperti dongeng jaman dulu deh . Begini…pada jaman dahulukala…nggak dahulu banget siiih…Pokoknya udah lewat jaman Masehi. Bukan BC (Before Christ) lagi. Ada seorang putri raja yang cantik jelita. Namanya Putri Kelinina. Jangan tanya, kenapa namanya Kelinina. Ya, namanya juga anak raja, suka-suka bapaknya dong ngasih nama. Wong nama kerajaannya juga Kerajaan Adadantiada, yang lokasinya berada di antara kutub utara dan kutub selatan. Jadi ya begitu deeeh…nama anaknya pun nggak lazim. Hanya mengikuti petunjuk dari penasehat spiritual sang Baginda Raja.

Kita lanjutkan lagi. Konon saking cantiknya, matahari saja sampai suka malu hati kalau memancar terlalu terang, pada saat sang putri bermain di taman. Kinclongnya sang putri ini membuat segala yang berada di sekitarnya akan tampak suram dan kehilangan warna. Jadi kalau matahari melihat sang putri sedang asyik di taman sambil memetik bunga ( kan dia bosen juga kalau Cuma jalan-jalan doang), maka matahari cepat-cepat memanggil awan untuk menghalangi cahayanya. Kuatir kalah pamor juga.

Pokoknya putri ini luar biasa cantik. Luar biasa pandai dan wawasannya juga sangat luas. Maklum saja, walaupun dia nggak sekolah di universitas terkemuka di negerinya , tapi jangan dikira putri ini buta huruf atau gaptek…nggaklah yaw… Putri cantik ini memang nggak perlu sekolah ke luar negeri, atau ke universitas. Segala ilmu yang diperlukannya cukup dipelajari di istana dengan memanggil guru-guru dan dosen-dosen yang terkenal dari seluruh dunia.

Hasilnya…dia jago menulis, pintar melukis, pandai berdebat, ahli menembak, jago menunggang kuda, dan sssstt…ahli memainkan pedang ! Menjahit dan menyulam bisa juga, walaupun sekedar bikin saputangan doang. Memasak…mmmhh…barangkali kalau Cuma bangsanya tumis sama sup ayam bisalah. Embuat gorengan tempe dan tahu juga dia bisa. Kan kadang-kadang raja pengen juga dimasakin sama anaknya…hehehe…tanda kasih sayang anak ke orang tua. Boleh dong raja diladeni sama anak sendiri ??

Mmmhhh…tapiiiii…walaupun demikian si putri ini ada juga kekurangannya. Dia nih suka banget mengeluh. Luar biasa mengeluhnya. Misalnya saja, kalau dia melihat matahari bersinar cemerlang, dia akan mengeluh, mengapa matahari harus begitu terang sinarnya ? Kalau dia mendengar suara musik, ia akan mengeluh, mengapa tidak ada musik yang lebih bagus ? Kalau ia disuguhi makanan, ia akan mengeluh, mengapa jenis makanan begitu bervariasi sehingga ia bingung memilih . Kalau ia melihat jari-jarinya, ia akan mengeluh, kenapa jari-jarinya begitu banyak sehingga ia harus membuang waktu untuk merapikannya. Bahkan ketika akan tidur ia pun mengeluh, mengapa harus ada malam sehingga ia terpaksa mengantuk dan harus tidur sejenak.

Wadooowww….mendengar keluhannya ini kadang-kadang raja menjadi bete juga. Ia sudah berusaha memenuhi semua permintaan putrinya, tapi si putri Kelinina ini masih saja mengeluh. Heran benar…dia punya stok keluhan yang tidak ada habis-habisnya. Raja bahkan pernah mengangkat seorang pembesar istana, khusus untuk mendengarkan dan mengatasi keluhan si putri ini. Tapi pembesar ini kemudian juga tidak tahan , dan kemudian mengajukan pensiun dini.

Sejalan dengan bergulirnya waktu, akhirnya si Putri Kelinina ini pun mencapai usia tujuh belasan. Dan menurut adat istiadat di negara itu, sudah waktunya si putri ini mendapatkan jodoh dan menikah. Di dalam hati raja agak lega juga, karena nanti putrinya akan memiliki seorang suami yang akan menampung semua keluhannya.

Nah…setelah berembug dengan segenap jajaran kabinet kerajaan, dan juga para pejabat tinggi yang terkait, termasuk kementrian peranan wanita, maka dibuatlah sayembara bagi segenap rakyat di kerajaan tersebut.

Inilah bunyi sayembara tersebut :

,” Kepada segenap rakyat di kerajaan Adadantiada, baik yang tua apalagi yang muda dipersilahkan untuk mengikuti sayembara . Syaratnya gampang. Siapa yang bisa mengalahkan sang putri dalam hal mengeluh, bila ia laki-laki maka akan dijadikan suami. Sedangkan bila ia perempuan, akan dijadikan sebagai saudara”.

Maka berlomba-lombalah segenap rakyat datang ke istana dan mulai mengeluh. Tua muda, tinggi pendek, laki-laki perempuan, tua muda, nenek kakek hingga anak anak…tumpah ruah di alun-alun di depan istana. Ada yang jalan dengan bantuan tongkat, ada yang digendong oleh kerabatnya, ada yang meraba-raba karena matanya buta, ada yang menutupi tubuhnya hanya dengan selembar sarung yang lusuh. Pokoknya segala macam manusia ada !

Lalu mulailah sang Putri mendengarkan keluhan peserta sayembara. Yang seorang mengatakan bahwa ia sangat malang, karena tubuhnya cacat. Ia tidak bisa melakukan apa-apa karena tubuhnya tidak lengkap . Yang lain mengeluh, bahwa ia begitu jelek, sehingga tidak ada wanita yang mau kepadanya. Yang lain lagi mengeluh, bahwa ia begitu bodoh, sehingga ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ada lagi yang datang dan mengeluh, bahwa ia begitu miskin sehingga tidak mampu lagi membeli bahan makanan untuk keluarganya. Ada lagi yang mengeluh sambil meratap-ratap, karena tidak punya rumah dan tidak punya keluarga sehingga ia terlunta-lunta di jalanan.

Begitulah…masih ribuan orang yang datang dan mengeluh…dengan kisaran keluhan mengenai kekurangan. Semua mengeluh karena kemiskinan , kecacatan, kebodohan, kejelekan wajah, kekurusan, kegemukan, kehitaman…(tapi tidak ada yang mengeluh karena keputihan…) dan macam-macam lagi.

Sang Putri hanya menggelengkan kepala.

Lalu tiba-tiba datang seorang pemuda. Luar biasa tampan. Dan luar biasa menarik. Ia datang dikawal oleh sepuluh orang pemuda dan sepuluh orang wanita. Yang semuanya serba ganteng dan cantik jelita pula. Ia membawa seekor kuda berwarna putih, yang surainya begitu panjang sehingga seperti kapas yang beterbangan di sekitarnya ketika ia melaju dengan derap kegagahannya. Pakaian mereka pun luar biasa cemerlang karena dihiasi dengan sulaman dan hiasan emas permata. Sungguh-sungguh elok dan pantas menjadi raja dari kerajaan terkaya di dunia.

“Hai pemuda…apa maksudmu datang ke mari ?” sapa salah seorang petinggi yang mendampingi sang Putri di podium.

Pemuda itu tersenyum. Menoleh ke kiri dan ke kanan dengan penuh wibawa. Segenap rakyat terpesona. Bahkan raja sempat tak berkedip melihat kegagahan dan kharisma yang memancar dari si pemuda asing itu.

“ Mohon maaf Sri Baginda dan Tuan Putri. Maksud kedatangan hamba kemari adalah untuk mengikuti sayembara.”

Suaranya membahana. Rakyat ternganga. Sungguh-sungguhkah ini seorang manusia ? Ia tampak begitu sempurna.

Sang Putri Kelinina pun terpana. Luar biasa pemuda ini, pikirnya. Hatinya berdebar-debar. Ia mulai mencari kekurangan pemuda itu. Apakah tinggi badannya kurang ? Atau wajahnya tidak tampan ? Atau barangkali dia bodoh ? Tidak ada. Lalu apa sebabnya pemuda ini datang ke mari dan mau ikut sayembara ?

“ Baiklah kalau demikian. Apakah keluhan Ananda ?” tanya sang petinggi, mewakili raja dan putri Kelinina.

“Begini Yang Mulia. Saya mau mengeluh. Saya ini raja dari kerajaan di Belahan Timur Bumi ini. Saya ini sangat kaya, negara saya adil makmur dan sentosa, rakyat saya ramah tamah dan rajin bekerja, alam di negeri saya luar biasa indahnya. Hujan turun pada waktunya, dan panas pada waktunya sehingga panen bisa diatur sesuai dengan musimnya. Kuda-kuda saya banyak dan semuanya sehat serta trengginas. Tidak ada kekurangan dan kecacatan di negeri saya yang serba indah permai itu.”

“Lantas…kenapa Anda mengeluh ?” tanya si Putri Kelinina dengan heran dan takjub.“Ya…itulah…Mengapa keberuntungan dan kekayaan begitu melimpah di tempat saya ? Sementara di negara ini begitu banyak kemiskinan dan kecacatan ? Apakah itu adil ? Seharusnya saya juga merasakan penderitaan dan kemiskinan. Seharusnya saya juga menderita kekurangan dan kecacatan !”

Putri Kelinina…yang ternyata arti namanya adalah “Keluh sini keluh sana “ tertunduk. Keluhannya tidak seberapa dibandingkan dengan keluhan pemuda itu. Keluhannya masih ada jalan keluarnya, sedangkan keluhan si pemuda adalah keluhan atas kesempurnaan. Yang tidak ada lagi jalan keluarnya.Ia sudah kalah. Ia yang memiliki segala keseimbangan di dalam hidup masih juga mengeluh. Raja dari belahan Timur Bumi itu sudah menyadarkannya.

Akhir dari cerita itu…tentu saja Sang Putri menikah dengan Sang Raja dari Belahan Timur Bumi. Daaaaaaaan….

Selanjutnya terserah Anda…,

Apakah Sang Putri masih akan mengeluh ? Apakah si Raja Muda yang tampan juga masih akan mengeluh ? Atau bahkan Anda sendiri yang sekarang akan mengeluh ? Semua kembali terpulang kepada teman dan sahabatku semua.

Begitulah teman-teman dan sahabat…ini hanya sekedar dongeng. Boleh dibaca sebelum tidur…boleh juga dibaca setelah bangun tidur…yang jelas…jangan membaca dongeng ini di kala sedang tidur…

Okeeeey ….????

MUHAMMAD ASEP ZAELANI,
Mahasiswa S-2 Program Ekonomi Islam Pascasarjana UIN SGD Bandung

asep.bdg@pnm.co.id

~ oleh lateral pada Agustus 2, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: