Ketika Salafi Berebut Tafsir

Oleh HAEDAR NASHIR

Salafi merupakan genre keagamaan dalam tradisi Islam klasik yang kini banyak hadir kembali di sejumlah negara muslim dengan spirit militansi yang luar biasa. Tak kecuali di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim di era keterbukaan pada saat ini.

Kehadiran kelompok Islam yang menisbahkan diri sebagai pengikut jejak generasi panutan pasca-Nabi yang saleh (salaf al-shalih) itu, selain militan, tak jarang menampilkan corak keagamaan yang keras. Lebih-lebih ketika kelompok Islam lainnya yang serumpun juga bermunculan ke permukaan dengan tampilan keagamaan yang tak kalah keras dan militan. Ibarat pepatah, air mengalir ke tepian, kerbau pun pulang kandang. Keras pandangan, siapa pun pemiliknya, akan melahirkan peluang gampang silang sengketa yang mengalir deras ke segala arah.

Salafi (salafy) adalah sebutan bagi orang yang mengikuti atau mengklaim diri sebagai pengikut ajaran salaf. Salaf adalah masa terdahulu, suatu era kehidupan tiga generasi sesudah Nabi, yaitu para sahabat, tabi’in (pengikut sahabat), dan tabi’in-tabi’in (pengikut para tabi’in) yang pola kehidupan keagamaannya dipandang ideal.

Salafi juga sering disamakan dengan “jamaah berpaham salaf”, mirip dengan salafiyah (salafiyyah) sebagai aliran atau mazhab. Orang yang mengikuti paham salafi disebut salafiyyun atau salafiyyin, yakni mereka yang menjadi pengikut ajaran salaf, baik karena klaim dirinya maupun predikat orang terhadapnya.

Pada awalnya, salafi atau salafiyah terbatas pada paham semata, yang muncul dari para pengikut mazhab Imam Hanbali pada abad ke-7 Hijriah. Paham ini makin populer pada abad ke-12 Hijriah di tangan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah. Secara normatif, salafi merupakan idealisasi paling harfiah untuk menjalankan praktek agama sebagaimana generasi salaf as-shalih. Praktek hidup generasi terdahulu itu, menurut sementara pandangan, termasuk yang dirujuk hadis sebagai khairu-kum qarniy, suatu generasi terbaik pasca-Nabi.

Generasi yang juga dinisbahkan sebagai ash-shabiqun al-awwalun (Q.S. At-Taubah: 100), para perintis Islam generasi awal dari Muhajirin dan Anshar yang menjalani hidup keemasan masa Nabi dan sesudahnya. Hingga di sini, kategorisasi salafi menjadi absurd, sebab kualitas ideal generasi Nabi itu menjadi hak milik setiap orang Islam untuk meraihnya, bukan milik kelompok tertentu, lebih-lebih secara given.

Dalam perkembangan berikutnya, sejarah mencatat bahwa salafiyah tumbuh dan berkembang pula menjadi aliran (mazhab) atau paham golongan, sebagaimana Khawarrij, Mu’tazilah, Maturidiyah, dan kelompok-kelompok Islam klasik lainnya. Salafiyah bahkan sering dilekatkan dengan ahl-sunnah wa al-jama’ah, di luar kelompok Syiah.

Salafi atau salafiyah bukan hanya tumbuh beragam cabang, bahkan menampilkan perbedaan paham yang sangat keras satu sama lain. Perbedaan paham yang serba ekstrem sering mengantarkan kaum salafi pada sikap gampang saling menyesatkan. Karena soal paham dan pertentangan yang keras, tidak jarang mereka melakukan mubahalah, sumpah keagamaan untuk menentukan siapa benar dan siapa salah di antara mereka.

Rentang paham keagamaan kaum salafi memang tajam dan keras. Kelompok salafi aqidah atau “dakwah” membatasi diri hanya pada praktek keagamaan yang mereka klaim bersih dari syirik, bid’ah, dan kurafat. Kelompok ini pada tingkat yang paling rigid membid’ahkan apa saja yang di luar mereka pahami, termasuk membid’ahkan organisasi dan lebih-lebih politik. Kelompok salafi “haraki”, sebagaimana namanya, melibatkan diri dalam pergerakan keagamaan, tak kecuali dalam politik.

Yusuf Qaradhawi bahkan memperkenal kelompok salafi “politik”, yang menceburkan diri dalam kegiatan-kegiatan politik praktis. Penulis, melalui disertasi tentang Gerakan Islam Syariat, mengamati kecenderungan kelompok salafi lain yang tipikal, yakni salafi “ideologis”. Mereka adalah kelompok salafiyah yang mengusung isu-isu keagamaan serba harfiah dan doktrinal, sekaligus memiliki agenda politik untuk mewujudkan cita-cita keagamaannya dalam struktur negara dan memformat ulang negara Islam.

Kelompok Islam modernis seperti Muhammadiyah dan Persatuan Islam juga dikategorikan sebagai salafiyah, yang mempraktekkan Islam murni, terutama dalam akidah dan ibadah. Azyumardi Azra memasukkan Muhammadiyah ke dalam salafiyyah washathiyyah, salafi yang moderat. Dalam istilah penulis, Muhammadiyah termasuk salafiyah tajdidiyah atau salafiyah reformis karena melakukan pemurnian sekaligus pembaruan pemikiran Islam.

Bahkan Nahdlatul Ulama dikaitkan pula dengan salafiyah, ketika merujuk pada paham keagamaannya sebagai ahl al-sunnah wa al-jama’ah. Kedua gerakan Islam tersebut malah dikenal sebagai moderat. Dari titik ini tergambar betapa majemuk sekaligus absurd paham dan kelompok salafi yang muncul ke permukaan, sekaligus sebagai bayangan langsung pluralitas Islam dalam konstruksi dan latar sosio-historis para pemeluknya yang pusparagam.

Tampilan perilaku keagamaan kaum salafi pun laksana diaspora. Karena ada kategori salafi yang moderat, maka ada pula salafi “radikal”. Orang boleh tak setuju dengan kategori yang stigmatik seperti itu, tapi salafi yang disebut terakhir itu, selain serba harfiah dalam memahami Islam, juga menampilkan praktek keagamaan yang serba militan dan keras. Taliban di Afghanistan, yang pernah tampil sebagai rezim Islam, merupakan prototipe paling signifikan salafi yang super-rigid dan keras itu.

Bahkan Imam Samudra yang terlibat dalam tragedi bom Bali 12 Oktober 2002, sebagaimana dalam biografinya, Aku Melawan Teroris, mengklaim diri sebagai pengikut ajaran salaf al-shalih. Imam Samudra dengan klaim ajaran salafiyahnya bahkan menampilkan sosok penggiat Islam garis keras yang dengan terang-terangan menyatakan “aku memang demen yang ribut-ribut dan berbau kematian”, kendati dinyatakan pula bahwa dirinya bukanlah seorang anarkis dan paranoid.

Pada titik inilah kaum salafi “radikal” kemudian bersentuhan dengan format keagamaan fundamentalisme dan revivalisme Islam. Mereka seolah mendaur ulang salafiyah Wahabbiyah sekaligus bersinergi dengan neo-revivalisme Ikhwanul Muslimin, Jama’at-i-Islamy, bahkan Taliban dalam bermacam ragam tampilan. Dalam konteks ini pula wajah Islam yang serba harfiah dan doktriner itu bersenyawa dengan militansi dan gerak politik ideologis yang sama kakunya, sehingga melahirkan polarisasi dan konflik keagamaan yang seringkali keras.

Maka, ketika kaum salafi berbeda dan berebut tafsir, jangan salah bahwa mereka tidak terlalu sulit untuk saling berbenturan paham dengan keras. Baik karena salafiyah maupun tidak, manakala Islam dikonstruksi serba harfiah dan doktriner dengan klaim kebenaran dan tafsir mutlak, maka yang muncul adalah perselisihan keras dan tajam.

Absolutisasi pandangan tentang Islam memang selalu menjadi titik rawan lahirnya perseteruan. Islam salafiyah maupun penganut Islam “murni” lainnya, sepanjang selalu menganggap dirinya paling Islami sambil menganggap pihak lain tidak Islami, maka pada saat itulah ruang untuk kenisbian paham dan toleransi menjadi menyempit.

Selalu ada rujukan teologis untuk bertengkar keras memperebutkan tafsir Islam. Al-Shadek Al-Nahyoum menyebutnya sebagai fenomena Islam dhidhu’ Al-Islam, Islam dengan ikon nakirah (tak berpredikat, tak bernama) versus Al-Islam dengan idiom ma’rifah (berpredikat, bernama), yang melahirkan perbedaan paham dan pandangan yang serba diametral. Manakala perbedaan tafsir itu bersenyawa dengan urusan politik, maka wilayah perselisihan menjadi kian keras. Politik dan agama bahkan menjadi sarat ambisi untuk memenangkan wilayah kekuasaan, baik kekuasaan diniyah maupun dakwah sekaligus dunyaawiyah.

Dalam konteks gerakan salafiyah, fenomena konflik keagamaan tersebut juga menampilkan genre baru kaum salafi yang radar teologis dan ideologisnya begitu sensitif untuk saling menegasikan dan bertikai paham dengan keras. Ketika kaum salafi maupun sesama kelompok Islam lain saling berebut tafsir keagamaan dengan harga mati, maka seringkali wilayah perseteruan berbuntut rumit.

Paham agama yang serba doktrinal dan absolut, ditambah ambisi-ambisi kekuasaan duniawi dan fanatisme hizbiyah yang tinggi, kemudian bersenyawa dengan situasi krisis dan marjinal yang serba menekan, akan melahirkan konflik paham dan kepentingan agama yang keras. Sementara ruang dialog yang disediakan pun bukan wahana cair untuk berwacana, melainkan masuk ke wilayah pertempuran saling memenangkan tafsir, sambil melibatkan massa masing-masing.

Kalau boleh berharap, jangan sampai tesis Thariq Ali tentang benturan antar-fundamentalisme (the clash of fundamentalism) bersemi di tubuh umat Islam pada saat ini. Perbedaan paham tak perlu berbuntut permusuhan dan tindakan kekerasan. Wacana keislaman pun semestinya tak berujung ke pengadilan. Di titik inilah betapa cahaya kearifan dari setiap elite dan kelompok Islam untuk mengutamakan kemaslahatan bersama menjadi sangat penting laksana mutiara.

Islam itu sangatlah luas melampaui hamparan samudra, tak perlu diperkecil ke wilayah sempit. Boleh berbeda paham, tapi tak perlu bermusuhan. Jika tak mampu bersatu, setidaknya tak perlu saling mengganggu. Toleran dalam perbedaan perlu diutamakan, sambil saling memberi maaf. Itulah kearifan Islam yang autentik. Wa’tashimu bi habl Allah jami’a wa laa tafarraquu!

Haedar Nashir, Ketua PP Muhammadiyah, doktor sosiologi yang menulis disertasi tentang Salafi. [Gatra Nomor 35 Beredar Kamis 12 Juli 2007]

~ oleh lateral pada Juli 20, 2007.

3 Tanggapan to “Ketika Salafi Berebut Tafsir”

  1. begini kalau orang awam ngomong salaf, sama seperti dokter kandungan disuruh ngomongin penyakit gila. ngawur

  2. muslim itu argumentatif dan rendah hati. Kalau merasa ada yang ngawur dijelaskan di bagian mana yang dianggap ngawur. Salam…

  3. Anda Salah Paham Tentang Manhaj Salaf!! (Tanggapan terhadap komentar Akhuna Suripan) Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A. Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat dan seluruh orang yang mengikuti jejaknya hingga hari kiamat, amiin. Selanjutnya berikut saya akan menanggapi tulisan saudara kita Suripan, yang menurut saya banyak mengandung kebenaran, tetapi di waktu yang sama juga mengandung banyak kekeliruan atau kerancuan. Agar lebih jelas tanggapan saya, maka akan saya sebutkan terlebih dahulu penggalan ucapan saudara kita Suripan yang perlu ditanggapi, kemudian akan saya lanjutkan dengan komentar saya, yang dimulai dengan tanda // (dua garis miring), dan diakhiri dengan // (dua garis miring) juga. Akhuna Suripan berkata: Bismillahirrahmanirrakhim Assalamu’alaikum Wr.Wb Saudaraku Seiman yang saya cintai karena Alloh. Puji syukur ke hadirat Alloh dan Salawat beserta Salam kepada junjungan kita Muhammad SAW, keluarga, para sahabat beliau yang mulia. Saya bukanlah orang yang alim di antara kalian dan bukan juga syaikh yang diagung-agungkan. Saya hanya seorang muslim biasa yang sangat prihatin melihat perkembangan umat Islam dewasa ini khususnya yang melibatkan saudara-saudara yang mengaku dirinya sebagai Salafiyun. Maha Suci Alloh yang telah mengkaruniakan ilmuNya kepada saudara-saudara hingga saudara-saudara mempunyai kemampuan hujjah yang baik dalam menyampaikan ajaran Addin ini kepada ummat. Bak ibarat pedang saudara-saudara mempunyai pedang dengan mata pedang yang sangat tajam, segala puji hanya milik Alloh yang berhak menerima pujian. // Alhamdulillah pada pembukaan tulisan ini, akhuna Suripan menunjukkan sikap jujur dan semoga ini keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Sikap jujur yang membawanya berterus terang mengutarakan fenomena yang terjadi di medan dakwah, yaitu yang berkaitan dengan keutamaan dan kelebihan yang ada pada diri ikhwah-ikhwah yang mendakwahkan dan berupaya meniti metode ulama salaf dalam beragama. Yaitu kelebihan berupa karunia dari Alloh berupa ilmu agama, sehingga mereka seperti yang diutarakan oleh akhuna Suripan memiliki kemampuan hujjah yang baik dalam menyampaikan ajaran agama kepada umat. Sikap jujur ini semoga senantiasa membawa keberkahan dalam kehidupan akhuna Suripan, dan menjadi modal besar baginya dalam mencari kebenaran dan mengamalkannya, Amin. Selanjutnya untuk sedikit membuktikan kepada para pembaca bahwa karunia ini ilmu yang didasari oleh hujjah yang jelas nan shahih/otentik adalah karunia terbesar yang didapatkan oleh umat manusia setelah hidayah mengikrarkan syahadat La ilaha illAlloh Muhammad Rasulullah, saya akan sebutkan beberapa dalil yang membuktikan hal itu: يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات “Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujaadalah: 11) Ulama ahli tafsir menegaskan bahwa maksud dari ayat ini adalah: Alloh akan meninggikan kedudukan orang-orang yang beriman sebagai balasan bagi amalan mereka, sebagaimana Alloh juga akan memberikan kelebihan bagi orang-orang yang berilmu dari kaum kalangan orang-orang yang beriman, sehingga kedudukan mereka lebih tinggi dibanding orang mukmin lainnya beberapa derajat. (Baca Tafsir Ibnu Jarir At Thabary 28/19). Dan di antara dalil yang menunjukkan akan keutamaan ilmu dan orang yang berilmu adalah firman Alloh Ta’ala: قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَيَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا اْلأَلْبَابِ “Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar: 9) Ibnu Katsir rohimahulloh ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Sesungguhnya yang dapat mengetahui perbedaan antara kelompok ini (yang berilmu) dari kelompok itu (yang tidak berilmu) hanyalah orang-orang yang memiliki akal.” (Tafsir Ibnu Katsir 4/48). Ini sebagian dari sekian banyak dalil yang membuktikan bahwa orang yang berilmu lebih utama dibanding orang yang tidak berilmu. Dan bukan hanya sekedar itu, pada ayat ke-2 Alloh mengisyaratkan bahwa yang dapat membedakan antara mereka hanyalah orang-orang yang memiliki akal sehat, sehingga dengan akalnya yang sehat ia dapat mengetahui bahwa orang yang berilmu lebih utama dibanding yang tidak berilmu. Saya rasa hal ini sangat jelas dan gamblang bagi orang-orang yang benar-benar berakal sehat, dan hatinya tidak ditutupi oleh dosa fanatis golongan, ashabiyah terhadap guru, atau noda-noda perbuatan dosa. Dan saya yakin, akhuna Suripan adalah termasuk salah seorang yang dapat mengetahui perbedaan antara keduanya, sehingga dengan jujur dan tanpa rasa malu akhuna Suripan mengakui akan kelebihan ilmu yang ada pada orang-orang yang mengakui dan berusaha meniti manhaj salaf, dibanding lainnya. Dan menurut akhuna, mereka yang mengakui meniti manhaj salaf (salafiyyin) bak telah memiliki senjata tajam, dan ini adalah modal besar untuk berjihad dan beramal. Dan ini adalah pengakuan bahwa bila salafiyyun berhasil mengarahkan senjata tajamnya ini dengan baik dan benar, niscaya akan berhasil mengalahkan musuh. Tentu dari pengakuan ini tersirat pengakuan lain bahwa, selain mereka (salafiyyun) belum atau tidak memiliki senjata yang tajam, sehingga mana mungkin mereka dapat mengalahkan musuh bila senjatanya tumpul atau bahkan tidak memiliki senjata sama sekali. Atau bahkan yang dimilikinya adalah racun yang ia anggap sebagai obat, sehingga bukannya sembuh dari penyakit yang ia derita, akan tetapi kebinasaanlah yang akan ia temui. Untuk mengetahui kebenaran dari pengakuan tersirat dari akhuna Suripan, maka kita harus tahu bahwa sumber kekuatan dan sebab datangnya pertolongan Alloh kepada umat islam ialah iman dan amal shalih yang didasari oleh dalil dari Al Quran dan As Sunnah, bukan dengan rekayasa sendiri-sendiri, oleh karena itu Alloh memerintahkan kita dengan firmannya: وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا “Dan berpegang teguhlah kamu dengan tali (agama) Alloh, dan jangan sekali-kali kamu bercerai berai”. (QS. Ali Imran: 103) Sebagaimana Alloh juga memerintahkan agar tidak bercerai berai dan saling berselisih, karena perselisihan itu adalah sumber petaka, di dunia dan akhirat, dan sebab terjadinya kekalahan ketika menghadapi musuh. Alloh ta’ala berfirman: وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَاجَآءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلاَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهُُ وَتَسْوَدُّ وُجُوهُُ “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram.” (QS. Ali Imran: 104-105) Dan bila kita bertanya: Apakah tolok ukur persatuan dan kesatuan menurut Alloh dan Rasul-Nya? Untuk mengetahui jawaban pertanyaan cerdas ini, maka marilah kita merenungkan firman Alloh berikut: وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ “Dan ta’atlah kepada Alloh dan Rasul-Nya dan janganlah kamu saling berselisih, sehingga kamu menemui kegagalan dan hilanglah kekuatanmu.”(QS. Al Anfaal: 46) Amatilah, pada ayat ini Alloh ta’ala menjadikan ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya sebagi lawan dari perselisihan, dan perselisihan/perbedaan adalah sumber/biang kerok bagi kelemahan dan hilangnya kekuatan umat islam. Dan sudah barang tentu, kita semua sadar bahwa ketaatan kepada Alloh dan Rasul-Nya hanyalah akan terealisasi, bila kita benar-benar mengamalkan Al Quran dan As Sunnah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam , sahabatnya dan ulama’ terdahulu (salafus sholeh). Dan sudah barang tentu ini semua tidak akan dapat terealisasi tanpa adanya ilmu. Wasiat dari Alloh ini juga ditegaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau berikut: لا تختلفوا فإن من كان قبلكم اختلفوا فهلكوا “Janganlah kamu saling berselisih, karena umat sebelummu telah berselisih, sehingga mereka binasa/ runtuh.” (HSR. Muslim) Inilah sumber permasalahan, dan inilah sumber kelemahan yang harus segera dibenahi dan diperangi, yaitu adanya berbagai penyelewengan dari ajaran Al Quran dan As Sunnah. Inilah sebab terjadinya kemunduran sekaligus kekalahan umat islam dari selain mereka dalam berbagai aspek kehidupan. Umat Islam mundur dan kalah bukanlah karena kekurangan pengikut, atau kalah dalam hal teknologi atau persenjataan. Akan tetapi sebab utamanya ialah apa yang telah saya jabarkan di atas, yaitu umat islam pada zaman ini berusaha mencari kemuliaan dari selain jalan Alloh dan Rasul-Nya, dan mencampakkan jauh-jauh syariat yang telah diajarkan dalam Al Quran dan As Sunnah. Saya harap akhuna Suripan sudi menjawab pertanyaan saya berikut: Apakah yang dapat dipetik oleh umat islam sekarang ini dari kemajuan Pakistan & Iran dalam hal persenjataan nuklir yang telah mereka miliki? Bukankah antum tahu bahwa banyak dari umat islam yang telah berhasil mencapai kemajuan dalam berbagai IPTEK, memiliki kekayaan yang melimpah ruah, akan tetapi apa yang dapat dirasakan oleh umat islam dari berbagai kemajuan dan kekayaan mereka? Ini semua membuktikan kebenaran sabda Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut: يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها. فقال قائل: ومن قلة نحن يومئذ؟ قال: بل أنتم يومئذ كثير ولكنكم غثاء كغثاء السيل، ولينزعن الله من صدور عدوكم المهابة منكم وليقذفن الله في قلوبكم الوهن. فقال قائل يا رسول الله وما الوهن: قال حب الدنيا وكراهية الموت. رواه أحمد وأبو داود وصححه الألباني “Sebentar lagi berbagai umat akan bersekongkol untuk menindas/menggerogoti (mengeroyok) kalian, sebagaimana para pemakan akan ramai-ramai menyantap hidangan mereka. Maka ada salah seorang sahabat yang berkata: Apakah hal itu terjadi karena jumlah kami sedikit? Beliau menjawab: Bahkan kalian kala itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian buih (lemah) bak buih air bah, dan sungguh-sungguh Alloh akan mencabut dari dada musuh-musuh kalian rasa segan terhadap kalian, dan Alloh benar-benar akan mencampakkan ke dalam hati kalian rasa wahan (lemah). Maka ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan wahn? Beliau menjawab: Rasa cinta terhadap dunia dan takut akan kematian.” (HRS. Ahmad dan Abu Dawud, dan disahihkan oleh Al Albani) Inilah sumber permasalahan dan inti problematika umat pada zaman ini. Oleh karena itu marilah kita semua kembali kepada ajaran agama, dengan menimba ilmu agama sebanyak-banyaknya dan berupaya menghidupkannya dalam diri kita, keluarga, masyarakat kita. Tentunya semua ini harus dengan metode yang bijak, penuh dengan hikmah, lembut dan dengan tidak terburu-buru ingin segera memetik hasil dalam sekejap mata, bak membalikkan telapak tangan. Karena bila kita terburu-buru, niscaya yang akan terjadi adalah kekecewaan dan kegagalan yang pasti, seperti dalam pepatah: من استعجل الشيء قبل أوانه عوقب بحرمانه “Barang siapa yang tergesa-gesa ingin memetik sesuatu sebelum saatnya, niscaya ia akan dihukumi dengan kegagalan mendapatkannya.” Dan ini pula yang sekarang kita lihat di negeri kita: Orang-orang yang ingin menegakkan syariat islam dengan cara pengeboman, mereka hanya mendatangkan petaka dan permasalahan bagi umat, setiap yang berusaha menjalankan syariat agama islam sekarang malah dicurigai sebagai anggota teroris, dst. Begitu juga kelompok lainnya, yang menempuh jalan demokrasi, dan membentuk partai dan hanyut dalam kehidupan berpolitik, semua ini dengan alasan ingin segera mengubah sistem dan menerapkan syariat islam sesegera mungkin. Akan tetapi apa yang terjadi, mereka malah ikut andil dalam mengesahkan berbagai undang-undang yang menyelisihi syariat, dan ikut melakukan berbagai amalan yang jelas-jelas diharamkan dalam syariat. Dan yang lebih ironis, seruan untuk menerapkan syariat sekarang ini telah hilang dan sirna 100 % dari pembicaraan mereka, setelah kebagian jabatan dan mendapatkan jatah kursi dst. La haula wala quwwata illa billah. Hendaknya kita sadar dan mengamati, dan janganlah kita menutup mata dari fenomena yang ada di lapangan, hanya sekedar terbuai oleh cita-cita dan slogan-slogan kosong mlompong, bagaikan mimpi di siang bolong. Hendaknya kisah yang disebutkan oleh ulama’ ahli sirah Nabi berikut ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua: “Tatkala pasukan orang-orang Quraisy telah menghadang Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta kaum muslimin, dan kemudian terjadi negosiasi antara kedua belah pihak, di antara tawaran yang ditawarkan oleh orang-orang Quraisy kepada beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam ialah tawaran yang disampaikan oleh ‘Utbah bin Rabi’ah: يا ابن أخي إن كنت إنما تريد بما جئت به من هذا الأمر مالا جمعنا لك من أموالنا حتى تكون أكثرنا مالا وإن كنت تريد به شرفا سودناك علينا حتى لا نقطع أمرا دونك وإن كنت تريد به ملكا ملكناك علينا وإن كان هذا الذي يأتيك رئيا تراه لا تستيطع رده عن نفسك طلبنا لك رآق وبذلنا فيه أموالنا حتى نبرئك منه “Wahai keponakanku, bila yang engkau kehendaki dari apa yang engkau lakukan ini adalah karena ingin harta benda, maka akan kami kumpulkan untukmu seluruh harta orang-orang Quraisy, sehingga engkau menjadi orang paling kaya dari kami, dan bila yang engkau kehendaki ialah kedudukan, maka akan kami jadikan engkau sebagai pemimpin kami, hingga kami tidak akan pernah memutuskan suatu hal melainkan atas perintahmu, dan bila engkau menghendaki menjadi raja, maka akan kami jadikan engkau sebagai raja kami, dan bila yang menimpamu adalah penyakit (kesurupan jin) dan engkau tidak mampu untuk mengusirnya, maka akan kami carikan seorang dukun, dan akan kami gunakan seluruh harta kami untuk membiayainya hingga engkau sembuh”. Sirah Ibnu Hisyam 2/131, Dan Dalail An Nubuwah oleh Al Asbahani 1/194, dan kisah ini dihasankan oleh Syeikh Al Albani dalam fiqhus sirah. Mendengar tawaran yang demikian ini, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak lantas menerima salah satu tawarannya yang berupa tawaran menjadi raja/pemimpin –sebagaimana yang diteorikan oleh banyak harokah islamiyyah zaman sekarang- agar dapat memimpin dan kemudian baru akan mengadakan perubahan undang-undang dst. Nabi tetap meneruskan perjuangannya membentuk tatanan masyarakat muslim yang berakidahkan aqidah islam/tauhid dan berakhlakkan dengan akhlak islamiah. Oleh karena itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab tawaran orang ini dengan membacakan surat Fushshilat, yang intinya menyebutkan maksud diturunkannya Al Quran, yaitu guna mendakwahi manusia agar beribadah hanya kepada Alloh Ta’ala. Inilah metode penegakan khilafah islamiyyah yang diajarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu membina generasi islam yang benar-benar islam dan bersih dari berbagai noda kesyirikan dan bid’ah/penyelewengan dalam hal ibadah atau lainnya. // Namun akhir-akhir ini saya jadi bertanya-tanya atas sikap saudara-saudara Salafiyin yang menggunakan kelihaian hujjahnya, dengan mengatasnamakan menjaga kemurnian aqidah mengarahkan mata pedangnya kesesama muslim, dan hal ini sungguh dilakukan dengan tanpa rasa sungkan dan malu, bahkan seakan mereka tidak berfikir bahwa disamping kanan kiri banyak kaum kuffar yang melihatnya.hal ini tidak dapat dipungkiri karena kita jumpai di internet di website-website Salafy sangat banyak kita jumpai hal-hal tersebut sebagai contoh seperti yang turut saya lampirkan diatas. Website Salafy tumbuh bak jamur dimusim hujan, sebenarnya itu hal sangat baik sebagai wasilah da’wah, namun bila kita lihat, kita baca dan kita amat-amati secara mendalam disana akan kita dapati bahwa mata pedang kaum salafy hari ini tidak diarahkan kepada musuh-musuh Alloh namun sebaliknya malah diarahkan kepada kaum muslimin yang lain khususnya gerakan-gerakan Islam, dan tidak perlu saya sebutkan nama gerakan tersebut disini karena semua orang tahu hal itu. Saudaraku salafiyin yang saya cintai karena Alloh, dari tulisan-tulisan yang saya dapat di website Salafy dan dari diskusi serta dari bertanya kepada orang-orang salafy bahwa saudara-saudara punya cita-cita besar yaitu tegaknya Khilafah Islamiyah, bahkan politikpun diharamkan sebelum tegaknya Khilafah Islamiah.saudara-saudaraku ini adalah pekerjaan besar dan bukan pekerjaan sederhana, itu perlu persiapan dengan melibatkan seluruh komponen ummat Islam bukan Yahudi, Nasrani dan Musyrikin, tetapi ummat Islam, mengapa? Karena ummat Islamlah yang akan menjadi subjek (pelaku) dari keKhilafahan tersebut, sedang diluar itu mereka harus tunduk kalau memang mereka sudah ummat Islam tundukkan, nah berangkat dari sini izinkan saya mengkritisi apa yang sudah saudara-saudara lakukan saat ini: // Saya rasa, pada penggalan ucapan akhuna Suripan diatas kita dapat pahami bahwa akhuna Suripan juga menunjukkan sikap jujur yang patut dipuji, yaitu akhuna mengakui bahwa di tengah-tengah umat islam terjadi perbedaan atau dengan lebih tegas nan lugas: terjadi perpecahan. Perpecahan yang oleh akhuna disebut dengan kata-kata lembut, yaitu “gerakan-gerakan Islam” Hal ini adalah pengakuan yang patut diacungi jempol, sebab –Insya Alloh- pengakuan ini akan membimbing akhuna kepada kebenaran. Terjadinya perpecahan dan perselisihan ini jauh-jauh hari telah dikabarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Beliau mengabarkan fenomena ini, bukan dalam rangka berbangga-banga dengan keanekaragaman alur dan manhaj yang akan muncul di tengah-tengah umatnya, akan tetapi beliau mengabarkannya dalam rangka memperingatkan umatnya dari keanekaragaman tersebut. Cermatilah hadits berikut: “Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sunguh-sungguh kamu akan mengikuti/mencontoh tradisi orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke dalam lubang dhob, niscaya kamu akan meniru/mencontoh mereka. Kami pun bertanya: Apakah (yang engkau maksud adalah) kaum Yahudi dan Nasrani? Beliau menjawab: Siapa lagi?” (HRS. Muttafaqun ‘Alaih) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rohimahullah- berkata: “Beliau mengabarkan bahwa akan ada dari umatnya orang-orang yang meniru orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang mereka adalah ahlul kitab, dan diantara mereka ada yang meniru bangsa Persia dan Romawi, yang keduanya adalah orang-orang non arab”. (Iqtidlo’ Sirathol Mustaqim 6) Pada hadits lain beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dari sahabat Abu Hurairah shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Umat Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan, dan umat nasrani berpecah belah seperti itu pula, sedangkan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HRS. Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al Hakim, Ibnu Abi ‘Ashim, dan disahihkan oleh Al Albani) Inilah fenomena yang sedang terjadi di masyarakat kita sekarang, umat Islam benar-benar telah terpecah belah menjadi berbagai kelompok, dan setiap kelompok memiliki metode dan manhaj tersendiri. Nah, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengabarkan fenomena ini bukan dalam rangka menceritakan kenikmatan yang akan didapatkan oleh umatnya, akan tetapi dalam rangka memperingatkan mereka dari petakan ini. Oleh karena itu dalam hadits lain beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada umatnya agar senantiasa meniti manhaj yang beliau ajarkan dan meninggalkan berbagai manhaj dan golongan/gerakan lainnya yang tidak menerapkan manhaj beliau . Simaklah wasiat beliau ini: الزم جماعة المسلمين وإمامهم. قلت: فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام؟ قال: فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك “Berpegang teguhlah engkau dengan jama’atul muslimin dan pemimpin (imam/kholifah) mereka. Aku pun bertanya: Seandainya tidak ada jama’atul muslimin, juga tidak ada pemimpin (imam/kholifah)? Beliau pun menjawab: Tinggalkanlah seluruh kelompok-kelompok tersebut, walaupun engkau harus menggigit batang pepohonan, hingga datang ajalmu, dan engkau dalam keadaan demikian itu.” (HRS. Al Bukhory dan Muslim) Pendek kata, upaya menikam dan meruntuhkan berbagai gerakan dan manhaj yang tidak sesuai dengan manhaj Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah metode berdakwah dan beragama yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan diwasiatkan oleh beliau kepada umatnya. Dan sebagai salah satu buktinya amatilah hadits berikut: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya dari tulang rusuk orang ini akan lahir suatu kaum yang mereka membaca Al Quran akan tetapi bacaannya tidak dapat melewati tenggorokannya (mereka tidak memahami apa yang mereka baca), mereka membunuhi kaum muslimin, dan membiarkan para penyembah berhala, mereka akan keluar dari Islam, layaknya anak panah yang keluar dan menembus binatang buruan. Seandainya aku menemui mereka, niscaya akan aku membunuh mereka hingga habis, layaknya kaum ‘Ad dibinasakan hingga habis.” (Muttafaqun ‘alaih) Ya Akhi Suripan, untuk sedikit membuktikan kepada antum, bahwa sebenarnya gerakan-gerakan islam yang tidak sesuai dengan manhaj Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah dan beragama, maka hendaknya antum baca sejarah berikut ini: Tatkala kaum muslimin telah berhasil menggulingkan dua negara adi daya kala itu (Persia dan Romawi), dan tidak ada lagi kekuatan musuh yang mampu menghadang laju perluasan dan penebaran agama Islam, mulailah musuh-musuh Islam menyusup dan menebarkan isu-isu bohong, guna menimbulkan perpecahan di tengah-tengah umat Islam. Dan ternyata mereka berhasil menjalankan tipu muslihat mereka ini, sehingga timbullah fitnah pada zaman Khalifah Usman bin Affan, yang berbuntut terbunuhnya sang Khalifah, dan berkepanjangan dengan timbulnya perang saudara antara sahabat Ali bin Abi Tholib dengan sahabat Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. (Untuk lebih lengkapnya, silakan baca buku-buku sejarah dan tarikh, seperti: Al Bidayah Wa An Nihayah, oleh Ibnu Katsir, dll.) Bukankah runtuhnya khilafah Umawiyyah, akibat pemberontakan yang dilakukan oleh Bani Abbasiyyah, demi memperebutkan kekuasaan? Berapa banyak jumlah kaum muslimin yang tertumpahkan darahnya akibat pemberontakan tersebut?! Bukankah jatuhnya kota Baghdad ke tangan orang-orang Tartar pada tahun 656 H akibat pengkhianatan seorang Syi’ah yang bernama Al Wazir Muhammad bin Ahmad Al ‘Alqamy? Pengkhianatan ini ia lakukan tatkala ia menjabat sebagai Wazir (perdana menteri) pada zaman Khalifah Al Musta’shim Billah, ia berusaha mengurangi jumlah pasukan khilafah, dari seratus ribu pasukan, hingga menjadi sepuluh ribu pasukan. Dan dia pulalah yang membujuk orang-orang Tatar agar membunuh sang Kholifah beserta keluarganya. (Baca kisah selengkapnya di kitab Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir jilid 13) Sepanjang sejarah, tidak ada orang Yahudi atau Nasrani yang berani menyentuh kehormatan Ka’bah, apalagi sampai merusaknya. Akan tetapi kejahatan ini pernah dilakukan oleh satu kelompok yang mengaku sebagai umat Islam, yaitu oleh (Qaramithoh) salah satu sekte aliran kebatinan. Pada tanggal 8 Dzul Hijjah tahun 317 H, mereka menyerbu kota Mekkah, dan membantai beribu-ribu jamaah haji, dan kemudian membuang mayat-mayat mereka ke dalam sumur zamzam. Ditambah lagi mereka memukul hajar Aswad hingga terbelah, dan kemudian mencongkelnya dan dibawa pulang ke negeri mereka Hajer di daerah Bahrain. (Untuk lebih lengkap, silakan simak kisah kejahatan mereka di Al Bidayah wa An Nihayah 11/171) Perlu diketahui, bahwa kelompok Qoromithoh ini adalah kepanjangan tangan dari kelompok fathimiyyah, yang merupakan salah satu sempalan dari sekte Syi’ah, dan mereka pernah menguasai negri Mesir selama satu abad lamanya. (Untuk lebih mengenal tentang siapa itu Qoromithoh, silahkan baca kitab: Al Aqoid Al Bathiniyyah wa Hukmul Islam Fiha, oleh Dr. Shobir Thu’aimah) Oleh karena itu dalam memperjuangkan Islam, hendaknya kita tidak melupakah sejarah kita sendiri, dan hendaknya kita menggali pelajaran dan hikmah dari sejarah kita sendiri, sehingga kita tidak mengulang kegagalan, dan berhasil mengembalikan kejayaan umat yang telah hilang. Akhuna Suripan camkanlah perkataan Imam Malik berikut: لن يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها “Tidaklah mungkin akan dapat membaguskan urusan generasi akhir umat ini kecuali hal yang telah membaguskan urusan generasi pendahulu mereka.” Dan saya rasa akhuna Suripan juga tahu bahwa Islam mengajarkan prinsip amar ma’ruf nahi mungkar, dan bahwasanya prinsip ini memiliki tiga tahapan, yaitu ingkar dengan hati, dengan membenci amalan mungkar tersebut, kedua: ingkar dengan lisan: yaitu dengan menjelaskan bahwa amalan itu mungkar dan haram, dan yang ketiga: ingkar dengan kekuatan: من رأى من منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya (kekuatannya), jika tidak bisa, maka dengan lisannya dan bila tidak bisa maka dengan hatinya.”(HR. Muslim) Dan apa yang antum sesali dari manhaj salaf, yaitu membongkar kesesatan dan kesalahan pelaku kesesatan dan kesalahan, dan memperingatkan umat masyarakat dari perbuatan tersebut adalah bagian dari ingkar al mungkar. Sudah barang tentu syariat amar ma’ruf nahi mungkar ini dan wasiat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya di saat menghadapi perpecahan yang telah saya nukilkan di atas, sangat bertentangan dengan metode yang didengung-dengungkan oleh sebagian orang, yaitu metode yang dikenal dalam bahasa Arab: نتعاون فيما اتفقنا ويعذر بعضنا بعضا فيما اختلفنا “Kita saling bekerja-sama dalam hal persamaan kita, dan saling toleransi dalam segala perbedaan kita”. Sepintas metode ini bagus sekali, akan tetapi bila kita sedikit berpikir saja, niscaya kita akan terkejut, terlebih-lebih bila kita memperhatikan fenomena penerapannya. Hal ini dikarenakan metode ini terlalu luas dan tidak ada batasannya, sehingga konsekuensinya kita harus toleransi kepada setiap orang, dengan berbagai aliran dan pemahamannya, karena setiap kelompok dan aliran yang ada di agama islam, syi’ah, jahmiyah, qadariyah, ahmadiyah, JIL (Jaringan Islam Liberal) dan lain-lain memiliki persamaan dengan kita, yaitu sama-sama mengaku sebagai kaum muslimin. Bahkan seluruh umat manusia pasti memiliki persamaan dengan kita, minimal persamaan dalam hal menentang praktek kanibalisme, yaitu memakan daging manusia. Kalau demikian lantas akan ke mana kita menyembunyikan prinsip-prinsip akidah kita, dan negara islam model apakah yang hendak didirikan?! // –Bersambung– Anda Salah Paham Tentang Manhaj Salaf !! (Bag. 2) Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A. Tulisan berikut ini adalah bagian ke-2 (lanjutan) sekaligus bagian terakhir dari tulisan Ustadz Muhammad Arifin sebelumnya yang menanggapi atas tulisan akhuna Suripan. Sekali lagi kami berharap agar tulisan ini bukan hanya bermanfaat bagi akhuna Suripan namun juga bermanfaat bagi kita semua yang mungkin memiliki pemikiran yang sama dengan akhuna Suripan. Akhuna Suripan berkata: 1. Kalau cita-cita mulia itu ingin saudara Salafiyin wujudkan dengan menikamkan mata pedang saudara ke dada-dada kaum muslimin yang lain, hingga mereka tersungkur tidak berdaya, lalu kepada siapa syariat Islam itu akan diimplementasikan/diterapkan? Mungkin saudara-saudara akan katakan kepada kaum muslimin yang seaqidah dengan aqidah Salafy, kalau demikian saudara-saudara sudah menganggap saudara-saudara muslim yang lain itu kafir dst. Kalau demikian adanya maka Fiqud Da’wah yang saudara-saudara terapkan perlu diulang kaji.Tidak layak seorang Muslim yang katanya mengikuti manhaj Salaf tapi berlaku berlawanan dengan manhaj Salaf itu sendiri yaitu menghujat, mencela dan memberikan gelar-gelar yang tidak baik ke sesama muslim dimuka umum (website). Bukankah demikian pendapat-pendapat saudara dalam mengingatkan seorang penguasa, harusnya juga berlaku kepada sesama saudara muslim. Saudara-saudaraku, orang-orang yang dihatinya ada penyakit, yang mereka benci kepada Islam (kaum kuffar) akan bersorak sorai melihat apa yang saudara-saudara lakukan tersebut, maka selayaknya mata pedang saudara-saudara arahkanlah kepada kaum kuffar, dan dekatilah saudara sesama muslim dengan pendekatan kasih sayang yang tulus, Insya Alloh, Alloh akan membukakan pintu kemenangan kepada kaum muslimin. // Wah, kayaknya akhuna Suripan tidak pernah membaca sejarah islam, dan asal usul berbagai sekte atau firqah yang ada di masyarakat sekarang ini. Agar akhuna Suripan dapat menyadari bahwa ucapannya di atas amat tidak realistis, maka hendaknya membaca sejarah islam, sehingga akhuna tahu bahwa semenjak dahulu kala, para sahabat, tabi’in, dan ulama salaf setelah mereka senantiasa memerangi sekte-sekte/firqah-firqah yang menyelisihi aqidah ahlu sunnah. Walau demikian negara Islam (Khilafah Islamiyyah) masih bisa berjalan dengan baik, dan hukum islam tetap diterapkan. Bahkan di antara penerapan hukum islam ialah dengan memerangi bid’ah dan para pelakunya. Sebagai bukti, sahabat Ali mengadakan/mengobarkan peperangan melawan sekte (firqah) khawarij yang mereka itu adalah nenek moyang orang-orang yang dengan enteng mengkafirkan selain golongannya, terutama para penguasa, sehingga mereka mengkafirkan sahabat Ali beserta seluruh orang yang taat dan mengakui kekhilafahannya, dan juga mengkafirkan sahabat Mu’awiyyah dan seluruh orang yang mendukungnya. Peperangan antara mereka terjadi di daerah yang disebut Nahrawan, sebagaimana dikisahkan/diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no: 3414) & Muslim (no: 1066). Bukankah khawarij adalah kaum muslimin? Akan tetapi mengapa sahabat Ali Memerangi mereka? Apakah sahabat Ali hanya ingin menerapkan/menjadikan pengikutnya saja sebagai obyek kekhilafahannya? Ataukah Ali telah mengkafirkan mereka? Agar akhuna Suripan tahu dengan benar alasan sahabat Ali memerangi mereka, maka simaklah riwayat berikut: لما قتل علي رضي الله عنه الحرورية قالوا: من هؤلاء يا أمير المؤمنين أكفار هم؟ قال: من الكفر فروا. قيل: فمنافقين؟ قال: إن المنافقين لا يذكرون الله إلا قليلا، وهؤلاء يذكرون الله كثيرا. قيل: فما هم؟ قال: قوم أصابتهم فتنة فعموا فيها. رواه عبد الرزاق 10/150 ومحمد بن نصر المروزي في تعظيم قدر الصلاة 2/543. “Tatkala Ali rodhiallohu ‘anhu telah selesai memerangi orang-orang haruriyyah (khawarij), sebagian pasukannya bertanya: Siapakah sebenarnya mereka itu wahai Amirul Mukminin, apakah mereka itu orang-orang kafir? Ia menjawab: Mereka itu melarikan diri dari kekufuran. Ditanya lagi: Kalau begitu apakah mereka itu orang-orang munafik? Ia menjawab: Sesungguhnya orang-orang munafik tidaklah mengingat Alloh selain sedikit sekali, sedangkan mereka itu banyak mengingat Alloh. Ditanya lagi: lalu siapakah sebenarnya mereka itu? Ia menjawab: Mereka adalah orang-orang yang tertimpa fitnah (kesesatan) hingga mereka buta mata karenanya.” (Riwayat Abdurrazzaq 10/150, dan Muhammad bin Nashr Al Marwazi dalam kitab Ta’zhim Qadr AsS Shalah, 2/543) Akhuna Suripan, cermatilah baik-baik kisah ini, niscaya antum akan sadar bahwa orang-orang khawarij yang suka mengkafirkan selain kelompok mereka, seperti yang dilakukan oleh kelompok (baca: sekte LDII, JI dll) layak untuk dijauhi dan dibeberkan kesesatannya di hadapan umat, bahkan kalau perlu diperangi seperti yang pernah dilakukan oleh khalifah sekaligus menantu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu khalifah Ali bin Abi Thalib. Bahkan, sahabat Ali bukan hanya melakukan peperangan terhadap sekte khawarij saja, bahkan kepada sekte yang mengkultuskan beliau pun, yaitu yang terkenal dengan sebutan sekte Syi’ah, sahabat Ali juga mengadakan peperangan, bukan hanya peperangan, bahkan malah dihukumi dengan dibakar hidup-hidup, sebagaimana yang dikisahkan dalam kitab Al Bad’u wa At Tarikh 5/125. Kemudian berbagai kitab dan karya ilmiah yang ditulis oleh para ulama semenjak zaman dahulu hingga sekarang, yang menjelaskan dan membongkar kesesatan sekte-sekte yang ada di masyarakat, adalah salah satu bukti bahwa di antara metode dakwah yang diajarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya ialah menepis segala kesesatan dengan segala sarana yang kita miliki. Bukan malah berupaya menutup-nutupi kesesatan mereka, karena sesungguhnya pertolongan Alloh, dan kemenangan umat islam tidak akan pernah datang selama umat islam tercerai berai oleh bid’ah dan kesesatan. Umat Islam akan jaya bila mereka benar-benar memurnikan agama mereka selaras dengan Al Quran dan As Sunnah. الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُوْلَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al An’am 82) Dan janji berikutnya: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al A’raaf: 96) وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَااسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَيُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Dan Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menggantikan (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam keadaan ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada menyekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An Nur: 55) Dan juga firman-Nya : يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن تَنصُرُوا اللهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ “Hai, orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama)Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad: 7) Jadi jangan takut kalah oleh musuh bila kita benar-benar telah memurnikan iman dan amal shaleh kita sesuai dengan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun ucapan antum bahwa ikhwah salafiyyin yang membeberkan kesesatan sekte-sekte yang ada di masyarakat berarti mereka telah menganggap kafir sekte-sekte tersebut, adalah suatu tuduhan yang tanpa dasar, sebab menyebutkan kesalahan, bahkan memerangi tidak relevan dengan mengkafirkan, sebagai salah satu buktinya adalah ucapan dan penjelasan sahabat Ali di atas. Dan perlu antum ketahui bahwa manhaj salaf mengenal perbedaan antara mengklaim kafir pelaku dosa dengan menyatakan bahwa perbuatan dosa itu adalah kekufuran, sebab tidak setiap pelaku kekufuran itu kafir. Oleh karena itu manhaj Ahlusunnah mengajarkan adanya iqamatul hujjah (menegakkan hujjah, -red) dan izalatus syubhat (menghilangkan syubhat, -red). Dan pada kesempatan ini saya anjurkan akhuna Suripan untuk mengkaji permasalahan ini, yaitu iqamatul hujjah dan izalatus syubhat menurut pemahaman salaf, dan silakan antum bertanya kepada salah seorang ustad salafi yang antum kenal, semoga antum dapat membedakan antara mengklaim kafir pelaku kekufuran dengan mengklaim kafir perbuatan kekufuran. Kemudian dalam hal mengingkari kemungkaran, memang Ahlusunnah membedakan antara mengingkari kemungkaran yang dilakukan oleh pemerintah dengan yang dilakukan oleh masyarakat biasa. Walau demikian, Ahlusunnah juga tetap mengajarkan bahwa selama kemungkaran dapat diingkari dan ditanggulangi tanpa menyebutkan nama pelakunya, maka itulah yang harus dilakukan, akan tetapi bila tidak mungkin, atau telah terlanjur menyebar di masyarakat, maka melindungi agama masyarakat banyak lebih didahulukan dibanding menjaga kehormatan satu orang atau satu kelompok tertentu. Akan tetapi bila kesalahan itu dilakukan oleh pemerintah atau penguasa, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar pengingkarannya dilakukan dengan cara tersembunyi, dan tidak dibeberkan di hadapan khalayak ramai, demi menjaga kemaslahatan umum dan agar tidak menimbulkan fitnah yang lebih besar, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: من أراد أن ينصح لذي سلطان في أمر فلا يبده علانية ولكن ليأخذ بيده فيخلو به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه. رواه ابن أبي عاصم وصححه الألباني “Barang siapa yang hendak menasihati seorang penguasa dalam suatu urusan, maka janganlah disampaikan di depan khalayak ramai, akan tetapi hendaknya ia sampaikan di saat ia menyendiri dengannya, dan bila ia menerima nasihatnya, maka itulah yang diinginkan, dan bila tidak menerima, maka ia telah menunaikan kewajibannya.” (Riwayat Ibnu Abi ‘Ashim, dan disahihkan oleh Al Albani) Bila akhuna Suripan merasa terusik oleh sikap ikhwah salafiyyin yang mengkritik kesesatan sekte-sekte berbagai tokoh firqoh yang ada, maka ini pulalah yang akan dilakukan oleh para pemimpin/penguasa yaitu akan marah dan tersinggung. Akan tetapi antara kemarahan penguasa dengan sekte-sekte yang ada terdapat perbedaan, yaitu bila yang marah adalah pemerintah, maka akan terjadi kerusakan yang luas, sedangkan bila yang marah adalah ketua sekte/firqah, maka mereka tidak dapat berbuat apa-apa, selain menelan ludah pahit (terlebih-lebih bila supremasi pemerintah tegak dan kuat). Selain itu bila kesalahan pemerintah diungkit-ungkit di khalayak ramai, maka akan merusak kepatuhan masyarakat kepada pemerintah, dan menjadikan para penjahat semakin berani melancarkan kejahatannya, bukankah antum sudah merasakan sendiri perbedaan yang terjadi di masyarakat kita Indonesia antara masa Suharto/ORBA dengan berbagai kejahatannya, dengan masa Reformasi? Keamanan hilang, harga bahan pangan menjadi mahal, kejahatan dan kemaksiatan semakin merajalela, dst. Ini semua sebagian dari dampak buruk sikap mengkritik/menyebarkan kesalahan penguasa di khalayak ramai. // Akhuna Suripan berkata: 2. Dalam mensikapi keadaan yang demikian cepatnya berobah, saudara-saudara Salafiyin tidak perlu panik, tenanglah dan bermohonlah kepada Alloh, bermusyawarahlah untuk mengambil langkah-langkah yang terbaik, hingga langkah-langkah yang saudara-saudara ambil akan bermanfaat kepada saudara-saudara dan kaum muslimin umumnya, dan tidak sebaliknya menjadi bumerang bagi saudara-saudara dan kaum muslimin itu sendiri. Tidak usah buru-buru menimpakan suatu keburukan kepada sesama gerakan muslim lain hanya karena ingin selamat dari tudingan orang-oarang yang tidak senang kepada Islam. Lalu membuat tulisan-tulisan dimuka umum (website) dengan menghujat salah satu gerakan Islam, padahal itu bisa menelanjangi saudara-saudara sendiri. Contoh hal seperti apa yang tertulis diwebsite Salafy yang turut saya lampirkan ini. Bagaimana kok bisa dikatakan menelanjangi saudara-saudara sendiri? Izinkan saya menguraikannya. a. Kata Presiden kami SBY Kata-kata diatas itu bisa diartikan bahwa saudara-saudara itu mengakui dan turut memiliki Presiden tersebut, dan seakan-akan keberadaan Presiden tersebut itu ada berkat kerja keras saudara-saudara pada saat pemilu yang lalu, karena mekanisme pemilihan Presiden dilakukan melalui Pemilu, padahal saudara-saudara adalah kelompok orang-orang yang menyakini dan memfatwakan bahwa Pemilu (Demokrasi) itu haram sehingga saudara-saudara Salafiyin pada saat itu tidak ada yang turut mencoblos, alias Golput.nah sekarang kok ujuk-ujuk dengan merasa tidak bersalah mengatakan Presiden kami Susilo bambang Yudoyono, kalau saya tidak salah yang mendukung pencalonan SBY-Kala itu kan PKS dan PD, inikan lucu? Mungkin saudara-saudara akan memberi hujjah, boleh melakukan hal itu bila dalam keadaan darurat, setahu saya belum ada pernayataan pemerintah yang menyudutkan saudara-saudara? Mbok ya mohon kepada Alloh semoga Alloh melindungi saudara-saudara.Dan tidak perlu disembunyi-sembunyikan akan jati diri saudara-saudara, bahwa saudara-saudara Salafiyin itu dimata musuh-musuh Alloh adalah penganut Islam garis keras (Islam Fundamentalis) karena menurut mereka orang-orang/kelompok atau apalah itu namanya kalau yang tidak mengakui Demokrasi maka mereka adalah musuh. Apa lagi? Sedang saudara-saudara sudah jelas-jelas mengharamkan Demokrasi, jelas dimata mereka adalah musuh laten. // Aduuh, akhuna Suripan, mbok yo jangan buru-buru menyalahkan suatu pendapat yang antum belum tahu dasar dan dalil-dalilnya. Dan menurut hemat saya, akhuna Suripan benar-benar kurang membaca sejarah Islam. Untuk sedikit membuktikan ucapan ini, saya harap akhuna Suripan membaca sejarah berdirinya khilafah Umawiyyah, Abbasiyyah, Utsmaniyyah. Ketiga dinasti (baca: khilafah) islam ini dimulai dengan kesalahan, yaitu menentang dan melawan khalifah yang sah. Khilafah Umawiyyah dimulai dari perlawanan sahabat Mu’awiyyah terhadap khalifah yang sah yaitu sahabat Ali Bin Abi Thalib, dan setelah melalui berbagai kejadian sejarah, akhirnya terjadilah penyerahan kekuasaan oleh sahabat Hasan bin Ali bin Abi Thalib kepada sahabat Mu’awiyyah. Khilafah Abbasiyyah dimulai dari pemberontakan besar-besaran yang dilakukan oleh Bani Abbasiyyah melawan khilafah yang sah, yaitu khilafah Bani Umawiyyah, dan akibat pemberontakan ini tertumpahlah ratusan ribu jiwa umat islam. Begitu juga halnya dengan khilafah Utsmaniyyah. Walau proses perebutan kekuasaan ini telah disepakati oleh ulama sebagai tindakan yang diharamkan, dan pelakunya berdosa karenanya, akan tetapi bila kekuasaan berhasil direbut, dan para pemberontak berhasil menata kekhilafahan sehingga terciptalah stabilitas keamanan, kekuatan, perekonomian dll, maka umat islam semenjak dahulu telah sepakat untuk mengakui khalifah hasil pemberontakan tersebut. Jadi bisa jadi metode perebutan kekuasaan diharamkan, akan tetapi bila telah berhasil direbut dan yang merebutnya memiliki kemampuan untuk menjalankan khilafah, maka umat islam seluruhnya diwajibkan untuk mengakui khalifah tersebut, dan khalifah tersebut menjadi khalifah yang sah dan wajib ditaati. Oleh karena itu tidak pernah ada seorang ulama’-pun yang menyatakan bahwa khilafah Abbasiyah tidak sah, dan wajib digulingkan, walaupun semua orang tahu bahwa mereka dapat sampai kepada kekuasaan/khilafah dengan cara yang diharamkan. Bukankah demikian sejarahnya wahai akhuna Suripan?! Oleh karena itu kami juga berkata: Pemilu dan demokrasi adalah haram dan bukan ajaran islam, akan tetapi ajaran orang-orang kafir, akan tetapi bila dari pemilu ada seorang yang berhasil menjadi pemimpin, maka kami akan mengakuinya dan taat kepadanya dan menentang setiap upaya pemberontakan kepadanya, kecuali bila pemimpin tersebut melakukan kekufuran yang nyata-nyata kufur dan tidak ada lagi keraguan padanya, dan umat islam memiliki kekuatan untuk menggantinya, tanpa mengakibatkan pertumpahan darah yang lebih berat dibanding berada di bawah kekuasaannya, maka kita akan katakan boleh untuk menggantinya dengan paksa. Inilah metode berpikir Ahlusunnah yang penuh dengan hikmah dan senantiasa mementingkan kepentingan umat dibanding kepentingan pribadi. Dari sedikit uraian di atas, jelaslah bahwa khilafah/kekuasaan bukanlah tujuan utama yang harus ditegakkan. Akan tetapi khilafah adalah sarana untuk menegakkan hukum Alloh. Jadi bila upaya menegakkan khilafah dengan jalur kekuatan hanya akan menimbulkan kerusakan, dan pertumpahan darah yang tiada hentinya, maka apalah artinya. Karena khilafah ada di antara tujuannya adalah guna melindungi jiwa dan agama umat islam. Oleh karena itu saya harap akhuna Suripan kembali membaca dan merenungi kisah negosiasi yang dilakukan oleh ‘Utbah bin Rabi’ah kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Walau demikian saya katakan menurut sunnatullah, hukum-hukum Alloh tidak akan dapat ditegakkan dengan sempurna tanpa adanya khilafah yang islamiah. // Akhuna Suripan berkata: b. Permasalahan Bom Bunuh Diri (BBD) Secara terang-terangan bahwa saudara-saudara telah mengarahkan kesalah satu gerakan Islam, padahal pemerintah sendiri dalam hal ini polisi tidak berani melakukan hal itu.Bahkan tuduhan-tuduhan itu saudara-saudara lakukan tanpa kajian mendalam dan tanpa melakukan tawazunitas terlebih dulu, hanya karena ada fatwa bahwa BBD yang dilakukan kaum muslimin palestina adalah bukan BBD tapi Bom Syahid lalu dengan entengnya saudara-saudara kait-kaitkan bahwa BBD itu karena akibat dari fatwa tersebut.Padahal fatwa tersebut jelas-jelas menyebutkan bahwa bila BBD itu yang dilakukan diwilayah konflik ummat Islam seperti Palestina hari ini yang boleh dikatakan sebagai Bom Syahid, bukan BBD yang dilakukan di wilayah aman seperti di wilayah Indonesia, itu jelas tidak termasuk yang difatwakan. (Penjelasan lebih lanjut masalah bom syahid, lain kali akan saya terlampir). // Ya akhi pernahkah antum bertanya, siapakah korban pengeboman yang terjadi di JW Mariot, Kedubes Australia, dll, siapakah yang menjadi korbannya? Apakah orang-orang muslim ataukah orang non muslim atau campur antara keduanya? Nah dengan dosa dan sebab apa orang muslim menjadi korban pengeboman? Pernahkah anda menelusuri dalil-dalil tentang haramnya penumpahan darah seorang muslim? Sebagai pengingat diri saya dan diri antum, saya ajak antum untuk merenungi hadits berikut: عن عبد الله بن عمرو أن النبي قال : (لزوال الدنيا أهون على الله من قتل رجل مسلم) رواه الترمذي والنسائي وصححه الألباني “Dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh sirnanya dunia seisinya lebih ringan di sisi Alloh dibanding membunuh seorang muslim.” (Tirmizy dan An Nasa’I dan disahihkan oleh Al Albani). Dan berikut saya nukilkan fatwa ulama’ tentang masalah ini: Jawaban Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan: Apa hukumnya orang yang meletakkan bom ditubuhnya, guna membunuh segerombolan orang yahudi? Jawaban: Menurut saya (dan tentang hal ini, kami telah ingatkan berkali-kali) bahwa aksi tersebut tidak benar, sebab aksi ini merupakan aksi bunuh diri. Alloh berfirman: ولا تقتلوا انفسكم “Janganlah kamu membunuh dirimu”. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: من قتل نفسه بشيئ عذب به يوم القيامة “Barang siapa membunuh dirinya dengan cara sesuatu, maka ia akan disiksa dengannya pada hari Kiamat.” Seorang muslim harus berusaha melindungi jiwanya, dan jika telah dikumandangkan panggilan jihad, maka dia pergi berjihad bersama kaum muslimin, kalau ia terbunuh maka Alhamdulillah. Adapun ia membunuh dirinya sendiri dengan cara mengikatkan bahan peledak pada dirinya, agar terbunuh bersama diri orang-orang yahudi, maka ini adalah metode yang salah dan tidak boleh, atau dengan menikam dirinya agar ada orang kafir yang terbunuh bersamanya. Tapi jalan yang benar adalah, jika telah disyariatkan jihad, ia berjihad bersama umat Islam lainnya. Adapun aksi yang dilakukan remaja-remaja Palestina, adalah satu kesalahan, lagi tidak baik. Kewajiban mereka adalah berdakwah, mendidik dan membimbing serta menasihati, tanpa melakukan aksi kekerasan. (Kaset Aqwalul Ulama Fil Jihad. Studio Minhajus Sunnah Riyadh) Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rohimahulloh Beliau rohimahulloh pada waktu menjelaskan kisah ashhabul ukhdud (Kisah mereka diriwayatkan oleh Imam Muslim, pada Kitab Az Zuhud wa Ar Raqaiq, bab: Kisah Ashhabil Ukhdud, No:3005), tatkala menyebutkan faedah darinya, berkata: “Sesungguhnya boleh bagi seseorang untuk mengorbankan dirinya demi kemaslahatan seluruh kaum muslimin, karena anak ini telah menunjukkan raja tersebut kepada hal yang bisa membunuhnya dan membinasakan dirinya, yaitu dengan mengambil anak panah dari tempatnya… Syeikhul Islam berkomentar: “Karena perbuatan anak tersebut adalah jihad fii sabilillah, satu umat beriman (karenanya), sedang dia tidak kehilangan sesuatu apapun, walau dia mati, karena dia pasti mati, cepat atau lambat”. Adapun yang dilakukan sebagian orang, dengan membawa bahan peledak (bom), dan maju kepada orang-orang kafir, kemudian apabila telah berada di tengah-tengah mereka, ia meledakkannya, maka sesungguhnya tindakan ini termasuk bunuh diri wal’iyadzu billah, dan barang siapa yang bunuh diri, maka dia akan kekal di neraka jahanam selama-lamanya, seperti yang disebutkan dalam hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam (Beliau mengisyaratkan kepada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, pada kitab: At Thib, bab: Hukum meminum racun dan obat yang dapat mematikan, No:5778). Karena orang ini, telah membunuh dirinya sendiri, tanpa mendatangkan kemaslahatan sedikit pun bagi kaum muslimin, karena apabila dia telah membunuh dirinya dan membunuh 10 atau 100 atau 200 orang kafir, agama islam tidak mendapat manfaat darinya, manusia tidak juga masuk islam, berbeda dengan kisah anak kecil tersebut, barangkali musuh akan lebih mengganas, hingga membantai kaum muslimin dengan membabi buta. Sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap penduduk Palestina, karena penduduk Palestina apabila satu di antara mereka mati dengan sebab bom bunuh diri, dan berhasil membunuh 6 atau 7 orang yahudi, maka orang-orang yahudi itu akan membunuh 60 orang atau lebih dengan sebab perbuatannya itu, maka hal ini tidak mendatangkan manfaat bagi kaum muslimin, dan juga bagi orang yang bunuh diri tersebut. Oleh karena itu, kami berpendapat bahwa tindakan sebagian orang, dengan melakukan bom bunuh diri, tergolong dalam perbuatan bunuh diri tanpa alasan yang dibenarkan, dan menjadikan pelakunya masuk neraka wal‘iyadzu billah, dan pelakunya tidak dikatakan syahid. Akan tetapi jika orang itu melakukan tindakan tersebut karena menta’wil, dia mengira bahwa hal ini diperbolehkan, kami mengharap dia terbebas dari dosa, adapun untuk kemudian dia dijuluki sebagai orang syahid, maka tidak bisa, karena dia tidak menempuh jalan syahadah (cara mati syahid yang benar), barang siapa yang berijtihad dan dia salah, maka ia mendapat satu pahala” (Syarah Riyadhus Sholihin 1/165-166 ) Pertanyaan: Apa hukum syariat mengenai orang yang meletakkan bom di tubuhnya dan kemudian meledakkan dirinya sendiri di tengah-tengah kerumunan orang-orang kafir, dalam rangka membantai mereka? apakah benar berdalil dengan kisah anak kecil yang seorang raja memerintahkan agar dibunuh (kisah Ashhabul Ukhdud) ? Jawaban: Orang yang meletakkan bom di tubuhnya dengan tujuan untuk kemudian meledakkan dirinya di tempat keramaian musuh, maka dia telah membunuh dirinya, dan akan diazab di neraka jahanam dengan alat yang ia gunakan untuk membunuh dirinya, ia kekal di neraka selama-lamanya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang membunuh dirinya dengan sesuatu, maka dia akan diazab dengan alat tersebut di neraka jahanam. Sungguh mengherankan orang-orang yang melakukan perbuatan seperti ini, padahal mereka telah membaca firman Alloh Ta’ala: وَلاَتَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا “Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Alloh amat kasih sayang terhadapmu.” (QS An-Nisa’: 29) lalu tetap nekat melakukan tindakan tersebut, apakah mereka berhasil memetik sesuatu? apakah musuh terkalahkah dengan cara itu? apakah malah sebaliknya, musuh bertambah ganas terhadap orang-orang yang melakukan tindakan ini, seperti yang kita saksikan di negara Yahudi. Mereka tidaklah jera dengan adanya tindakan seperti ini, bahkan semakin brutal, bahkan kita dapatkan negara Yahudi pada jajak pendapat terakhir, kelompok garis kanan yang berkeinginan membasmi orang-orang Arab berhasil meraih kemenangan. Akan tetapi orang yang melakukan tindakan ini dengan dasar ijtihad, dia mengira hal itu termasuk amal baik yang akan mendekatkan dirinya kepada Alloh subhanahu wa ta’ala, maka kami mohon kepada Alloh ta’ala untuk tidak menyiksanya, karena dia menta’wil dan jahil. Adapun berdalih dengan kisah anak kecil (ashhabul ukhdud), maka kisah anak kecil itu menyebabkan masuknya satu umat ke dalam agama islam, bukan membantai musuh, oleh karena itu ketika sang raja tersebut mengumpulkan masyarakat dan mengambil anak panah dari tempatnya anak kecil tersebut, sambil berkata: dengan menyebut nama Alloh Tuhan anak kecil ini, manusia berteriak semuanya: Tuhan Yang Benar adalah Tuhannya anak kecil ini, dari sinilah suatu umat yang banyak masuk islam, seandainya dihasilkan seperti kisah ini, maka kami akan mengatakan mungkin bahwa ada benarnya berdalil dengan kisah ini, dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkannya kepada kita, agar kita mengambil pelajaran darinya. Akan tetapi mereka yang melakukan peledakan dirinya sendiri, apabila berhasil membunuh 10 atau 100 orang musuh, maka musuh semakin brutal dan kokoh dalam berpegang teguh dengan prinsip mereka. Pertanyaan: Ada orang yang mengaku bahwa dirinya melakukan aksi jihad dengan model bunuh diri, sebagai contoh, seseorang dari mereka memuati kendaraannya dengan bahan peledak dan kemudian menerobos musuh, dan dia yakin bahwa ia pasti akan menemui ajalnya dalam aksi tersebut: Jawaban: Aksi ini menurut saya, adalah aksi bunuh diri dan ia akan disiksa di Jahanam dengan cara yang dia tempuh untuk menghabisi nyawanya, seperti yang dikatakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shohih. Namun orang bodoh yang tidak mengerti dan ia melakukannya dengan anggapan bahwa perbuatannya tersebut baik dan diridhoi Alloh, saya harap semoga Alloh mengampuninya, karena ia melakukannya berdasarkan ijtihad. Meskipun saya berpendapat bahwa dia tidak memiliki alasan di masa kini, sebab bunuh diri dengan bentuk di atas, telah dikenal dan menyebar di kalangan umat. Seharusnya ia menanyakannya kepada ulama, agar jelas baginya kebenaran dari kesesatan. Yang mengherankan, mereka membunuh diri mereka sendiri, padahal Alloh melarangnya. Alloh berfirman: وَلاَتَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا “Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Alloh Maha Penyayang kepadamu” (QS An Nisaa: 29). Kebanyakan mereka hanya terdorong oleh keinginan balas dendam terhadap musuh, dengan cara apapun, baik itu cara yang haram ataupun yang halal, ia hanya ingin memuaskan dirinya. Semoga Alloh memberikan kepada kita penguasaan terhadap ilmu agama dan mengamalkan setiap yang membuat-Nya ridho. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Majalah Ad Dakwah, edisi 1598) // Akhuna Suripan berkata: c. Walaupun berjenggot tetapi beda antara salafiyin dengan harakah lain Saudara-saudara Salafiyin yang di Rahmati Alloh. Musuh-musuh Alloh tidak perlu dikecoh dengan pernyataan-pernyataan seperti itu, mereka sudah kenyang dengan bermacam-macam tipu daya, 32 tahun mereka berkuasa (khusus Indonesia) dengan perlakuan zolimnya, intelijen mereka banyak lebih banyak dari jumlah saudara-saudara, lagi pula Alloh juga sudah mengingatkan kita didalam salah satu ayatnya (QS.2:120) agar kita hati-hati kepada mereka, disana Alloh nyatakan dengan jelas bahwa mereka tidak akan senang kepada sampai engkau mengikuti millah mereka. Jelas, mereka benci kita bukan karena jenggot tapi karena kita punya millah yang hanif yaitu millah yang mengakui bahwa Alloh itu Esa, Syariat Alloh adalah yang tertinggi tidak boleh ada yang lain, karena itulah mereka benci, kebencian mereka akan hilang kalau kita mau ikut millah mereka.Mereka sudah tahu siapa saudara-saudara, fatwa-fawta saudara yang saudara-saudara rilis di website saudara terlihat jelas bahwa saudara-saudara mengharamkan, Pemilu, Demokrasi, Demontrasi dll dan itu sudah cukup bagi mereka untuk memasukkan saudara-saudara kedaftar pengikut Islam garis keras.Mungkin kalau selama ini mereka tidak mengutik-utik saudara-saudara, bukan berarti bahwa mereka senang pada saudara-saudara, menurut saya sekurang-kurangnya ada 2 hal, mengapa mereka tidak mengganggu saudara salafiyin sbb: 1. Selama ini, secara tidak langsung sikap saudara-saudara kepada harakah Islam yang lain sangat menguntungkan mereka, dimana salafiyin sikapnya keras terhadap kaum muslimin dan lemah lembut terhadap kaum kafirin?. Inilah poin penting bagi mereka untuk tetap memelihara saudara-saudara, mereka tidak susah susah mengeluarkan banyak energi, tenaga dan biaya untuk membunuh gerakan-gerakan Islam, cukup dengan tulisan dan lisan saudara salafiyin.Nanti bila tiba saatnya, manakala kekuatan Islam yang selama ini bisa menghambat kezaliman mereka sudah lumpuh, maka mata meriam-meriam mereka akan mereka arahkan kepada sasaran tunggal yaitu kaum yang mengaku kaum Salafy. Bukankah saudara-saudara sadar dan ingat bahwa manusia paling licik dan jahat adalah Yahudi? Contoh peristiwa dari kelicikan mereka adalah Afganistan, dan Iraq. Dulu mereka adalah negara yang mereka bantu, namun sekarang mereka hujani mereka dengan misil, bom dan meriam. 2. Saudara-saudara salafiyin yang dirahmati Alloh.Saudara-saudara dimata musuh-musuh Alloh masih dikatagorikan da’wah yang masih difase teoritis, pada fase ini mereka tidak ambil pusing dengan beberapa fatwa yang saudara-saudara keluarkan yang hakikatnya sangat bertentangan dengan prinsip mereka. Nanti pada saatnya saudara-saudara mau melangkah ke fase aplikatif, nah disini pereng sesungguhnya dimulai, saudara-saudara harus siap mengerahkan segala kemampuan baik materi, sumber daya manusia dan tenaga bahkan juga nyawa.Mereka tidak akan segan-segan untuk menggunakan cara-cara yang keji untuk melumpuhkan musuh-musuhnya, sementara saudara-saudara umat islam (harokah islam) yang lain mungkin sudah duluan terkubur bahkan mungkin jadi mereka terkubur oleh andil dari tangan dan lisan saudara-saudara. Ah, kan masih ada Alloh yang akan membantu hambanya. Saudara-saudara harusnya malu kepada seorang salafus shaleh yang mengatakan bahwa : yang haq tidak akan bisa mengalahkan yang bathil kalau yang haq itu bercerai berai sedang kebathilan begitu kuat dan rapinya. // Ya akhi, sebenarnya yang menjadikan pemerintah ORBA senantiasa menguber-uber berbagai macam sekte/firqah yang ada di Indonesia adalah karena rasa khawatir akan kekuasaannya, yang mereka sadari sedang diganggu oleh firqoh-firqoh tersebut. Adapun bila kita tidak berupaya mengganggu kekuasaan mereka, niscaya mereka tidak akan mengusik dakwah kita. Apalagi bila mereka sadar bahwa kekuasaan akan tetap berada di tangan mereka bila mereka menerima dakwah kita, niscaya mereka akan tenang dan tidak akan nguber-nguber dakwah kita. Bukankah antum semenjak dahulu sering membaca dan mendengar sebutan “Subversi”, akan tetapi apakah antum pernah mendengar bahwa ORBA menangkap orang atau memenjarakan orang karena ia sholat dengan benar, atau tidak mau syirik, tidak mau menyembah kuburan dll? Saya yakin antum tahu dengan pasti hal ini. Nah inilah rahasianya mengapa pemerintah di manapun senantiasa nguber-nguber setiap sekte yang berupaya merebut kekuasaan, dan senantiasa mengawas-awasi setiap gerak mereka. Apalagi sekte yang mengajarkan kepada para pengikutnya bai’at kepada pemimpin mereka atau mengaku mendirikan negara Islam bawah tanah atau yang serupa. Adapun musuh-musuh Islam dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka sebenarnya yang paling mereka takuti adalah orang-orang yang bertauhid dengan benar, dan senantiasa memerangi tindak kesyirikan dan bid’ah, oleh karena itu mereka dengan dana besar-besaran mendukung berbagai program kesesatan, dimulai dari seruan persatuan agama melalui JIL Paramadina, gerakan tasawuf melalui Zikir berjama’ah, Jama’ah Tabligh, dll. Ini semua mereka lakukan demi mencari budak-budak yang akan menjadi kambing hitam dalam menghancurkan kekuatan umat Islam. Dan di antara makar yang senantiasa mereka persiapkan untuk menghancurkan umat islam ialah dengan mendidik sekte-sekte garis keras, baik secara langsung atau tidak, agar suatu saat dapat dijadikan kambing hitam, dan alasan untuk menyerang negara islam, sebagaimana yang mereka lakukan dengan Usamah Bin Laden dan kelompoknya. Dahulu Amerika mendidik mereka menggunakan senjata, dan juga mempersenjatai mereka, bahkan menurut pengakuan sebagian kawan saya yang berasal dari Afghanistan dan pernah ikut andil dalam melawan Uni Soviet: setiap orang Afghan yang angkat senjata melawan Uni Soviet setiap hari mendapat gaji 1/2 dolar US. sebagaimana dan ketika tiba saatnya mereka ingin menyerang Afghanistan dan menguasai negeri muslim ini, mereka jadikan antek-antek mereka (Usamah bin laden CS) sebagai dalih /kambing hitam. (Lah, akhuna Suripan di tulisannya di atas telah menyadari akan hal ini, kok ya tidak mengambil Ibrah). Dan tidak mustahil, berbagai pengeboman di negeri Islam termasuk Indonesia ada campur tangan dari mereka, baik dengan suplai bahan peledak, atau pendidikan/kaderisasi para perakit bom dll. Saya menjadi heran dengan akhuna Suripan, mengesankan bahwa ikhwah salafiyyin keras terhadap sesama muslim, padahal yang mereka lakukan hanyalah mengkritik, dan membuktikan kesalahan dan penyelewengan sekte-sekte yang ada kepada masyarakat. Akan tetapi mengapa akhuna Suripan tidak merasa kebakaran jenggot melihat nyawa sebagian kaum muslimin direnggut dan jasad sebagian umat islam bergelimpangan akibat terkena bom yang dipasang oleh sebagian sekte yang mengebom pasar umum atau perhotelan, atau fasilitas umum lainnya? Ataukah akhuna Suripan memang menganut paham, bahwa selain kelompoknya adalah kafir, sebagaimana yang diyakini oleh LDII? Ataukah akhuna Suripan menganggap bahwa masyarakat kita adalah masyarakat jahiliyyah, sehingga seluruh anggota masyarakat kita selain anggota kelompoknya layak untuk menjadi tumbal atau dikorbankan? La haula wala quwwata illa billah. Pada kesempatan ini saya anjurkan antum untuk mengkaji sejarah perjuangan umat Islam di Indonesia melawan penjajah Belanda. Perjuangan yang dilakukan oleh Umat Islam di bawah kepemimpinan Imam Bonjol melawan Nasrani dan budak mereka yaitu kaum adat. Dan hendaknya antum juga mengkaji sejarah perjuangan umat Islam di India melawan Nasrani Inggris beserta anteknya Ahmadiyyah. Bila antum telah mengkaji sejarah ini, saya yakin antum akan berkesimpulan lain. Yang sangat mengherankan lagi dari seluruh tulisan akhuna Suripan adalah: Akhuna Suripan merasa bersedih dan seakan tersayat-sayat hatinya melihat sebagian orang dan sekte yang dikritik dan dibongkar kesesatannya, akan tetapi Akhuna Suripan tidak merasa terusik dengan kesalahan dan penyelewengan yang dilakukan oleh berbagai sekte dari ajaran agama, misalnya seperti yang dilak

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s