SALAFI: Risalah Membawa Masalah

SEDIKITNYA 70 jamaah dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Lajnah Perwakilan Daerah (LPD) Surakarta mendatangi Masjid Ibnu Taimiyyah. Kedatangan mereka ke masjid yang berada di kompleks Pondok Pesantren Daarus Salafi, kawasan Cemani, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, itu guna memprotes pengajian yang diselenggarakan pada pagi harinya. Pihak pengurus masjid dituding telah mendiskreditkan majalah Risalah Mujahidin, yang diterbitkan oleh MMI.

Sebelum pengajian digelar, sejumlah selebaran beredar di tengah-tengah masyarakat. Isinya, menurut juru bicara MMI LPD Surakarta, Adi Basuki, membuat panas-dingin komunitas MMI. Di antaranya, “Membongkar Kedustaan Risalah Mujahidin”. Adi dan jamaah MMI meminta diadakan debat terbuka saja, bukan menghakimi secara sepihak. “Tapi mereka tak mengindahkan permintaan kami,” tutur Adi.

Karena merasa tak mendapat tanggapan, Adi dan teman-temannya melaporkan kasus pencemaran nama baik itu ke polisi. Kemarahan jamaah MMI juga dipicu oleh pembicara dalam pengajian Senin pagi itu, Abu Karimah Asykary. Selain menyinggung Risalah Mujahidin, Abu Karimah juga menghujat Amir MMI, Ustad Abu Bakar Ba’asyir.

Ihwal kelompok salafi menghujat, karena di edisi 7 yang terbit bulan April itu, di halaman 42, Risalah Mujahidin menurunkan judul berita “Mengenal Agen Mossad dalam Gerakan Islam”. Isinya memuat wawancara dengan seorang agen Israel yang ditangkap Pemerintah Palestina. Dalam pengakuannya, sang agen mengatakan bahwa orang-orang salafi telah dapat mereka peralat. Antara lain dengan menerbitkan buku-buku yang menimbulkan fitnah dan perpecahan di kalangan umat Islam. Isi wawancara itu mengutip dari hidayatullah.com.

“Bagi kami, tuduhan itu bukan permasalahan yang simpel,” kata Ayip Syaifuddin, pengajar Pesantren Daarus Salafi. Bagi Ayip, secara keseluruhan, isi Risalah Mujahidin itu mengandung pemikiran-pemikiran berbahaya. “Membuat pemikiran umat terkacaukan, terutama dalam menyikapi hubungan dengan pemerintah dan sesama muslim,” ujar Ayip.

Tidak ditanggapinya permintaan untuk debat terbuka, menurut Ayip, karena tidak ada manfaatnya. “Kalau berdebat, standardisasi pemikiran mereka berbeda dengan pemikiran kami, tidak akan medapatkan titik temu, kecuali mereka mendapatkan hidayah,” katanya.

Tapi Irfan S. Awwas, Ketua Lajnah Tanfidziah MMI –yang juga Pemimpin Umum Risalah Mujahidin– punya penilaian lain tentang penolakan atas debat terbuka tersebut. “Itu berarti kelompok tersebut tidak ingin penyelesaian perkara secara damai,” kata Irfan. Dalam pandangan Irfan, semua umat Islam itu juga seorang salafi. “Jadi, kalau menganggap pihak lain bukan salafi, itu sebuah kejahatan. Berarti dia mengafirkan pihak lain yang tidak sependapat,” ia menjelaskan.

Majalah Risalah Mujahidin, menurut Irfan, diterbitkan sebagai bagian dari sarana untuk sosialisasi syariah Islam di kalangan MMI. “Juga untuk pencerahan pemikiran umat Islam dalam menumbuhkan semangat bersyariah,” ujar Irfan. Isinya pun beragam, dari berita politik yang juga bersinggungan dengan Islam sampai soal bagaimana mengatur kehidupan negara ataupun keluarga. “Kami juga membedah gerakan organisasi Islam yang sesuai syariah Islam maupun yang sebaliknya,” ia menguraikan.

Perseteruan antara pihak salafi eks Laskar Jihad dan MMI bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, terbit buku bertitel Mereka Adalah Teroris yang ditulis Al-Ustad Luqman bin Muhammad Ba’abduh, mantan Wakil Panglima Laskar Jihad. Buku yang terbit tahun 2005 itu ditujukan untuk menanggapi buku Imam Samudra berjudul Aku Melawan Terorisme. Rupanya, tidak hanya Imam yang diserang, sejumlah tokoh Islam, baik dari dalam maupun luar negeri, ikut-ikutan jadi sasaran.

Ustad Abu Bakar Ba’asyir, misalnya, dituding sebagai sindikat teroris. Sedangkan mantan Panglima Laskar Jihad, Ustad Ja’far Umar Thalib, disebut sebagai sosok yang bergaul dengan ahli bid’ah karena ikut mengisi acara zikir Ustad Muhammad Arifin Ilham. Karena amirnya dicemarkan, pihak MMI pernah mengajak debat Luqman. “Tapi yang bersangkutan tak pernah nongol,” tutur Fauzan al-Anshari, Ketua Departemen Data dan Informasi MMI.

Sebagai tanggapan, keluarlah buku Siapa Teroris? Siapa Khawarij?, yang ditulis Abduh Zulfidar Akaha, tahun 2006. Buku ini secara akademis cukup dipujikan karena mampu membantah setiap argumentasi yang dijadikan landasan oleh Luqman. Abduh Zulfidar menulis dengan bahasa yang cukup santun dan ditopang dengan rujukan kitab yang cukup memadai. Sebuah modal awal yang baik untuk dilakukan dialog antara komunitas eks Laskar Jihad dan MMI.

Herry Mohammad, dan Mukhlison S. Widodo (Solo)
[Agama, Gatra Nomor 30 Beredar Kamis, 7 Juni 2007]

~ oleh lateral pada Juli 9, 2007.

5 Tanggapan to “SALAFI: Risalah Membawa Masalah”

  1. Saya mau bilang salafi sesat, wah susah juga, tapi saya yakin, orang-orang yang pengikut salafi orang-orang bodoh dan sombong, dari pengalaman saya sendiri melihat mereka menghujat orang lain di tempat saya, ketika diajak debat gak mampu, yang mampu hanya menghujat dan mentahzib orang lain, maka saya bilang mereka itu bodoh…
    dan sombong, kenapa?, karena mereka merasa paling benar dan menganggap remeh orang lain..
    Hancurkan salafi…., tegakkan persatuan umat, salafi pemecah belah umat

  2. Anda jangan asal ngomong ya, berat pertanggung jawabannya di dunia lebih2 di akhirat.

  3. hahaha……semuanya juga pasti dimintapertanggungjawabannya mas…
    salam buat temen2salafmu….

  4. Sudah baca belum bantahan Ustadz Luqman atas bukunya Abduh “Saya Teroris Saya Khawarij (STSK)?

    Abduh itu mudah2n orang jahil alias bodoh. Kalau engga maka dia itu pendusta besar.

    Licik bak ular kadut. Baca saja Buku Ustadz Luqman ‘Menebar Dusta Membela Khawarij’ maka kalian akan sampai pada kesimpulan spt saya.

    Tuh dia ga berani komentar sedikitpun. Atau si kadut itu lagi bikin buku bantahan berikutnya, lumayan bakal laku keras lagi dikalangan orang PKS, hi hi.Maka kalau begitu dia memang benar benar ular kadut.

  5. Antara Abduh dan Luqman Ba’abduh (10)

    (Koreksi singkat terhadap dua Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? & Mereka Adalah Teroris!)

    Disusun oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri & Ustadz Firanda Andirja

    BAGIAN KEEMPAT
    KOREKSI SINGKAT BUKU “MEREKA ADALAH TERORIS”

    Adapun buku karya Saudara Luqman Ba’abduh, maka secara garis besar dan muatan ilmiyahnya kami sepakat dengannya, hanya saja pada kesempatan ini, kami ingin menyampaikan tiga kritikan kepada saudara Ba’abduh, semoga dengan tiga kritikan ini karya tulis beliau semakin bermanfaat:

    Kritikan pertama: Penggunaan Kata “Teroris”
    Kata “teroris” tidak pernah ada dalam kamus kaum muslimin, terlebih-lebih para ulama’ Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Kata “teroris” bukan hanya tidak ada dalam kamus umat Islam, akan tetapi kata tersebut lebih sering digunakan untuk menjelek-jelekkan umat Islam secara umum, dan ahlis sunnah secara khusus. Ahlus sunnah dimana-mana senantiasa mereka hantui dengan tuduhan-tuduhan semacam ini. Oleh karena itu hingga saat ini musuh-musuh Islam beranggapan dan mempropagandakan bahwa pusat teroris adalah negara tauhid dan negara yang berdiri di atas dasar aqidah Ahlis sunnah wal jama’ah, yaitu Saudi Arabia.
    Padahal setiap orang tahu betapa besar teror dan kekejaman yang telah dilakukan oleh Israel dan anteknya yaitu Amerika dan konco-konconya terhadap umat manusia secara umum dan umat Islam secara khusus. Betapa banyak darah manusia yang telah mereka tumpahkan?
    Akan tetapi kenapa umat islamlah yang saat ini selalu dicurigai sebagai teroris, atau dituduh berpaham teroris?!
    Dahulu mereka senantiasa menghantui umat Islam secara umum dan ahlis sunnah secara khusus dengan kata “fundamentalis” dan sekarang mereka menghantui mereka dengan kata “teroris”. Momok semacam ini senantiasa diarahkan kepada umat Islam, dan tidak pernah ditujukan kepada selain mereka.
    Fakta ini telah menjadi bagian nyata dari kehidupan umat Islam di mana-mana, sehingga menurut hemat kami tidak lagi memerlukan pembuktian. Dan saya yakin saudara Luqman mengetahui akan hal ini. Bila demikian ini halnya, maka tidaklah layak bagi seorang muslim untuk ikut membeo, taklid dan latah dengan selain mereka sehingga menggunakan kata-kata sesat ini.
    Sikap latah semacam ini termasuk cermin lemahnya kepribadian seseorang dan rapuhnya aqidah seseorang. Oleh karena itu jauh-jauh hari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari sikap semacam ini, sampai-sampai beliau bersabda:
    من تشبه بقوم فهو منهم
    “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia tergolong dari mereka.” (Riwayat Ahmad, Ibnu Abi Syaibah dll, serta dishahihkan oleh Al Albani)
    Larangan menyerupai selain umat Islam bukan hanya pada perilaku, penampilan, keyakinan, ibadah, ucapan, bahkan mencakup segala aspek kehidupan kita. Sebagai salah satu penerapannya Allah Ta’ala melarang kaum muslimin untuk menyerupai orang-orang yahudi dalam hal ucapan:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقُولُواْ رَاعِنَا وَقُولُواْ انظُرْنَا وَاسْمَعُوا ْوَلِلكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad), ‘Raa’ina,’ tetapi katakanlah, ‘Unzhurna,’ dan ‘Dengarlah.’ Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.” (QS. Al Baqarah: 104)
    Kata “raa’ina” dalam bahasa arab berartikan: “perhatikanlah/tunggulah kami” akan tetapi kata ini dapat diplesetkan menjadi “ra’unah” yang artinya “dungu”.
    Allah Ta’ala pada ayat ini melarang kaum muslimin untuk mengucapkan kata “raa’ina” karena dahulu orang-orang Yahudi mengucapkan kata ini kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mengesankan mereka meminta kepada beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak terlalu cepat ketika berbicara, akan tetapi mereka memelesetkannya, sehingga mereka dengannya menghina Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan anggapan dungu. Umat Islam di larang mengucapkan kata ini, walaupun maksud mereka benar dan tidak ada niat keji semacam ini, guna menghindari segala hal yang menyerupai perbuatan orang-orang Yahudi.
    Ibnu Katsir setelah menyebutkan hadits di atas berkata: “Pada hadits ini terdapat larangan keras, ancaman tegas dari menyerupai orang-orang kafir dalam ucapan, perilaku mereka, pakaian, hari perayaan, peribadatan dan urusan mereka lainnya yang tidak disyari’atkan kepada kita dan kita juga kita tidak diizinkan untuk melakukannya.” [Tafsir Ibnu Katsir 1/148]’
    Larangan untuk menyerupai kelompok sesat bukan hanya berlaku pada menyerupai kaum kafir semata, bahkan menyerupai ahlil bid’ah pun kita dilarang(*) Oleh karena itu dahulu para ulama’ tidaklah menggunakan istilah-istilah hasil rekayasa ahlul bid’ah, kecuali dalam kesempatan tertentu dan dalam batasan tertentu pula. Ini semua demi menjaga pemahaman, persepsi dan kepribadian umat Islam secara umum dan ahlus sunnah secara khusus.
    (*)Tasyabuh dengan selain ahlis sunnah dilarang bila tidak memenuhi beberapa persyaratan berikut ini: (a) Tidak ada kemanfaatan yang dapat dipetik darinya, (b) Perbuatan tersebut tidak disyari’atkan dalam Islam, (c) Adanya niat untuk sengaja menyerupai. (d) Perbuatan tersebut merupakan kekhususan/ciri khas mereka. Bagi yang ingin mengetahui hukum tasyabuh lebih mendalam, silahkan baca kitab: At Tasyabuh Al Manhi ‘Anhu fil Fiqhil Islami, karya Jamil bin Habib Al Luwaihiq.
    Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al Hanafy: “Mengungkapkan kebenaran dengan menggunakan istilah-istilah yang diajarkan dalam syari’at Nabi dan yang diturunkan oleh Allah, adalah metode/manhaj Ahlus sunnah wal Jama’ah. [Syarah Al ‘Aqidah At Thahawiyyah, oleh Ibnu Abil ‘Izzi 63. Silahkan baca juga Majmu’ Fatawa 6/36-37].
    Oleh karena itu amat mengherankan bila saudara Luqman yang berpenampilan ganas dan garang dalam memperjuangkan as sunnah atau aqidah atau manhaj ahlis sunnah dan memerangi bid’ah ternyata amat mudah dan dengan perasaan tak bersalah membeo dengan orang-orang lain sehingga ikut-ikutan menggunakan kata “teroris”.
    Ditambah lagi, saudara Luqman pasti tahu bahwa masyarakat internasional hingga saat ini tidak pernah menyepakati akan definisi dan kriteria “teroris”. Masing-masing negara atau organisasi yang ada menggunakan kata ini selaras dengan pemahamannya masing-masing. Oleh karena itu tidak sepantasnya sebagai seorang da’i untuk menggunakan suatu kata yang memiliki banyak penafsiran dan diperselisihkan kandungannya. Sehingga kata ini dapat diartikan selaras dengan al-haq/kebenaran, dan juga dapat diartikan dengan pemahaman yang menyelisihi al-haq, dan bahkan malah menghancurkan al-haq.
    Diantara metode Ahlus sunnah, adalah tidak menggunakan kata-kata semacam ini kecuali setelah menjelaskan dan merinci kandunganya, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman dan kerancuan (talbis & tadlis). Dan hal ini tidak pernah dilakukan oleh saudara Luqman, sehingga sikapnya ini dapat menimbulkan salah penafsiran tentang kata “teroris”. Bahkan saudara Luqman dalam banyak kesempatan menafsirkan kata “teroris’ dengan “khawarij”. Misalnya pada ucapannya berikut ini: “Padahal jelas-jelas dengan tegas Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa para khawarij/teroris itu sebagai anjing-anjing jahannam.” (Mereka adalah Teroris 14, cet II).
    Penafsiran ini bila dipandang dari kaca mata ahlis sunnah, perlu ditinjau ulang dari berbagai sisi pandang, diantaranya dari sisi pendalilan, sehingga dikatakan kepada saudara Luqman: Apa dalil anda bahwa khawarij adalah teroris? Siapakah panutan anda dalam penafsiran ini? Dst.
    Ditambah lagi mengubah-ubah istilah yang telah berlaku dalam syari’at adalah tradisi ahlul bid’ah yang berusaha mengaburkan pemahaman masyarakat terhadap istilah tersebut dan kemudian menjadikannya sebagai sarana untuk melanggar batasan-batasan syari’at. Hal ini sebagaimana yang banyak terjadi di zaman sekarang ini, riba dinamakan dengan bunga, khomer dinamakan dengan minuman berkarbonasi, penyegar dll, perzinaan dinamakan dengan pekerja seks komersial (PSK), suap dengan hadiah dst.
    Tatkala menjabarkan tentang sikap ahlis sunnah terhadap berbagai istilah yang digunakan oleh ahlul bid’ah dalam permasalahan asma’ dan sifat Allah Ta’ala, Ibnu Taimiyyah berkata: “Adapun kata-kata yang diperselisihkan kandungannya oleh para pencetusnya sendiri dari kalangan orang-orang mutaakhirin, misalnya kata: Al Jismu, Al Jauhar, Al Mutahayyiz, Jihah [Ini adalah beberapa kata hasil rekasaya ahlul kalam dalam mensifati Allah Ta’ala], dan kata-kata yang serupa dengannya, maka tidaklah sepatutnya untuk diingkari secara mutlak dan tidak juga diakui secara mutlak, sampai ditilik maksud pengucapnya. Bila ia memaksudkan dari penetapan dan pengingkaran kata tersebut suatu makna yang benar lagi selaras dengan yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka makna yang ia inginkan dari kata tersebut kita akui/benarkan, akan tetapi seyogyanya dia mengungkapkan makna tersebut dengan kata-kata yang telah disebutkan dalam dalil. Tidak sepatutnya ia menggunakan kata-kata hasil rekayasa lagi bersifat global semacam ini, melainkan pada saat diperlukan saja, dengan disertai berbagai qarinah (pertanda) yang menunjukkan akan maksudnya…… Adapun bila yang ia maksudkan adalah suatu makna yang batil, maka makna tersebut harus diingkari, dan bila kata tersebut mengandung makna yang benar dan batil secara bersamaan, maka makna yang benar diakui dan yang batil diingkari.” (Minhajus Sunnah oleh Ibnu Taimiyyah 2/554-555).
    Demikianlah seyogyanya kita mensikapi kata “teroris”, tidaklah kita menggunakannya kecuali setelah merinci berbagai penafsiran yang ada, kemudian kita menjelaskan sikap kita terhadap setiap penafsiran tersebut.
    Kritikan kedua: Menghujat Diri Sendiri
    Setelah membaca karya saudara Luqman ba’abduh ini, kami hanya memiliki satu kesimpulan, yaitu: saudara Ba’abduh sebenarnya melalui karyanya ini sedang menghujat diri sendiri. Mengapa demikian?
    Kami berkesimpulan demikian ini karena kami membandingkan sepak terjang dan ulah, serta berbagai ucapan saudara Luqman beberapa waktu lalu dengan apa yang tertera dalam karyanya ini.
    Setiap orang yang membandingkan antara perilaku saudara Luqman beberapa waktu lalu dengan apa yang ia torehkan pada karyanya ini –insya Allah- akan berkesimpulan seperti kesimpulan kami ini. Agar kesimpulan ini menjadi jelas bagi setiap pembaca, maka berikut akan kami nukilkan pengakuan seseorang yang pernah senasib dan seperjuangan dengan saudara Luqman semasa menjalani “jihad Ambon” di bawah komando panglima Ja’far Umar Tholib dengan FKAWJ-nya.
    Orang yang pernah senasib dan seperjuangan dengan saudara Luqman ini dengan jujur dan penuh rasa tanggung jawab mengatakan: “Tanpa terasa kami terjerumus ke dalam berbagai penyimpangan yang bermuara pada satu titik yaitu politik massa atau penggunaan potensi massa dalam perjuangan. Sungguh kesesatan seperti inilah yang terjadi pada Ahlul Bid’ah dan Hizbiyyun dari kalangan Ikhwanul Muslimin, Qutthbiyyin (pengikut Sayid Quthub) dan Sururiyyin (pengikut Muhammad Surur) dan lain-lain. Dengan penyimpangan yang kami jalani saat itu, muncullah tindakan-tindakan persis seperti yang dilakukan Ikhwanul Muslimin, diantaranya:
    1. Sistem komando yang meluas menjadi organisasi yang digerakkan dengan sistem imarah dan bai’at.
    2. Lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas dalam organisasi.
    3. Demonstrasi, unjuk rasa dan yang sejenisnya menjadi hal yang biasa.
    4. Mencari dukungan politik dari berbagai kelompok dengan tidak memperhatikan apakah mereka ahlus sunnah, orang awam, atau ahlul bid’ah.
    5. Dari sinilah timbul ide untuk mengadakan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) dengan mengundang tokoh-tokoh politik dan ahlul bid’ah.
    6. Mulai menggampangkan dusta dengan dalih bahwa perang adalah tipu daya.
    7. Bermudah-mudah dalam maksiat, seperti photografi, dan ikhtilath karena mengimbangi orang awam.
    8. Mengingkari kemungkaran dengan menggunakan gerakan massa dan kekerasan, yang akhirnya jatuh ke dalam kesalahan berikutnya, yaitu:
    a. Menghalalkan darah kaum muslimin.
    b. Melawan aparat atau pemerintah yang sah.
    c. Dan seterusnya. (Lihat Meredam Amarah Terhadap Pemerintah hal: xi-xii, oleh Muhammad Umar As Sewed)”
    Bila pembaca membaca pengakuan ini kemudian membaca karya saudara Ba’abduh yang nota bene adalah anggota FKAWJ, niscaya kesimpulan di atas akan menjadi hal pertama yang terbetik dalam benaknya.
    Pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Ustadz Muhammad Umar As Sewed yang telah dengan tegas dan jujur mengakui kesalahannya dan menyatakan ruju’ kepada kebenaran. Ini adalah satu pertanda bahwa beliau adalah seorang yang benar-benar berjiwa salafi dan tidak dibelenggu oleh rasa egois walaupun dalam kesalahan. Semoga Allah memberkati pengakuan beliau ini, dan senantiasa melimpahkan hidayah dan taufiq-Nya kepada Ustadz Muhammad As Sewed, serta orang-orang yang berjiwa besar sehingga dengan lapang dada mau menerima kebenaran dan mengakui kesalahan.
    Saudara Ba’abduh yang semoga dirahmati Allah, mengapa anda tidak berterus terang mengakui kesalahan dan menyatakan ruju’ darinya sebagaimana yang dialakukan oleh Ustadz Muhammad As Sewed?! Mungkinkah anda mengingkari dan mendustakan pengakuan Ustadz Muhammad As Sewed?!
    Sikap lempar batu sembunyi tangan semacam yang anda tunjukkan ini tidaklah mencerminkan kepribadian seorang salafi dan ahlis sunnah. Mari kita menyadari dan merenungi dosa dan kesalahan kita masing-masing tanpa harus membuat trik-trik yang mengesankan kita terbebas dari dosa dan kesalahan.
    Bila kita bersalah, maka nyatakan dengan tegas kita salah, dan jangan kita berusaha cuci tangan, lalu melemparkan tuduhan kepada orang lain.
    ***
    Dan pada kesempatan ini kami juga menyeru seluruh saudara kami untuk berintrospeksi diri, sebab bila kita sedikit menoleh kebelakang beberapa tahun silam, niscaya kita akan dapat menyadari jati diri kita sendiri. Beberapa tahun silam, kami dan juga banyak dari saudara-saudara kami yang telah mengenal manhaj salaf dan berusaha untuk dapat menjiwai dan menerapkannya dalam kehidupan nyata, harus mengakui kenyataan pahit dan kelam.
    Beberapa tahun silam kita telah didoktrin dan dibisikkan ke telinga kita bahwa kita meniti manhaj salaf dan berakidah salaf. Walau demikian bisikan dan doktrin yang diajarkan, akan tetapi kitab-kitab yang diajarkan kepada kita kala itu, tidaklah beda dengan kitab-kitab yang diajarkan kepada berbagai harokah atau gerakan-gerakan dakwah lainnya. Sehingga kala itu kita diajari dengan kitab-kitab berikut:
    1. Tafsir Fi Dhilalil Qur’an, karya Sayyid Quthub.
    2. Al ‘Adalah Al Ijtima’iyyah, karya Sayyid Quthub.
    3. Ma’alim Al Inthilaqathul Kubra’, karya Abdul Hadi Al Mishry.
    4. Al Ghuraba’ Al Awwalun, karya Salman bin Fahed Al Audah.
    5. Sifatul Ghuraba’, karya Salman bin Fahed Al Audah.
    6. Fiqhul Waqi’, karya Nashir Umar.
    7. Al Imamatul ‘Uzhma’, karya Abdullah Ad Dumaijy.
    8. dll
    Dan setelah sekian lama dan setelah berbagai ajaran dan pemahaman yang termuat dalam kitab-kitab tersebut dan juga lainnya tertanam dengan baik dalam akal pikiran kita, barulah kita mengetahui bahwa pada kitab-kitab tersebut terdapat berbagai kesalahan fatal nan berbahaya menurut aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan akhirnya kita rame-rame meninggalkan kitab-kitab tersebut. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan: Akankah semudah yang dibayangkan, berbagai pemikiran dan doktrin yang telah terlanjur tertanam dalam jiwa kita akibat langsung dari mempelajari kitab-kita tersebut dapat kita ketahui letak kesalahannya lalu dengan mudah kita menggantikannya dengan pemahaman yang benar?
    Sebagai percontohan bahwa suatu pemahaman yang telah tertanam kokoh dalam hati tidak mudah dihapuskan dan biasanya masih menyisakan bekas hingga beberapa waktu ialah kisah berikut:
    “Dari sahabat ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia menuturkan: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam tentang dinding (hijir Ismail), ‘apakah itu termasuk dari Ka’bah?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’ Aku-pun (’Aisyah) bertanya: ‘Mengapa mereka (orang-orang Quraisy) tidak memasukkannya ke dalam (bangunan) Ka’bah?’ Beliau menjawab: ‘Sesungguhnya kaummu kekurangan biaya.’ Aku pun bertanya: ‘Lantas mengapa pintunya tinggi?’ Beliau menjawab: ‘Kaummu melakukan itu agar mereka dapat memasukkan orang yang mereka kehendaki dan menghalangi orang yang mereka kehendaki. Dan kalaulah bukan karena kaummu baru saja meninggalkan (kehidupan) jahiliyyah, sehingga aku khawatir hati-hati mereka akan merasa aneh (menganggap sebagai kemungkaran/kesalahan -pen) niscaya aku akan masukkan dinding itu (hijir Ismail-pen) ke Ka’bah, dan aku akan tempelkan pintunya dengan bumi.’” (Muttafaqun ‘alaih)
    Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menyabdakan hadits ini pada tahun ke 10 H, sedangkan kota Makkah telah berhasil ditundukkan pada tahun ke 8 H, dan penduduk Makkah telah masuk Islam pada tahun ke 8 H pula. Sehingga pada saat terjadi percakapan antara Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan ‘Aisyah ini telah berjarak +/- 2 tahun. Walau demikian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam masih mengkhawatirkan tentang tersisanya berbagai hal-hal dan keyakinan jahiliyyah pada diri penduduk Makkah, oleh karena itu beliau mengurungkan keinginannya untuk memugar Ka’bah.
    Bila mereka para sahabat yang telah masuk Islam selama +/- 2 tahun dikhawatirkan masih memiliki sisa-sisa akidah atau pemikiran jahiliyyah, padahal mereka hidup semasa dengan
    Rasululah shollallahu ‘alaihi wa sallam, keimanan mereka, keilmuan, pemahaman bahasa arab dll jauh lebih besar dan bagus dibanding kita sekarang ini, apakah tidak lebih layak bagi kita untuk senantiasa mengkhawatirkan hal tersebut terjadi pada diri kita?!
    Oleh karena itu hendaknya kita tidaklah terlalu merasa besar kepala sehingga mengganggap diri kita telah menjadi seorang salafy tulen tidak layak di kritik, atau disalahkan atau bahkan merasa menjadi panutan dakwah salaf di negri kita.
    Fakta dan fenomena yang terjadi pada perjalanan dakwah salaf di negri kita membuktikan bahwa kita tidak mudah meninggalkan dan menghapuskan masa lampau kelam tersebut, sehingga berbagai kejadian janggal dan menyeleweng sering menodai perjalanan dakwah salaf. Berikut beberapa indikasi yang menunjukkan bahwa hingga kini masih banyak warisan dari masa kelam itu yang masih melekat pada diri kita:
    Indikasi pertama: Sikap fanatis dan kultus kepada seorang figur atau ustadz, sehingga bila ustadz kita menguatkan suatu pendapat, maka banyak dari kita yang merasa berang atau tidak suka bila ada ustadz lain atau orang lain yang mengamalkan pendapat ulama’ yang menyelisihi pendapat ustadz kita. Dan tidak jarang kita menjadi seperti orang yang kebakaran kumis bila diajak berdiskusi atau beradu argumen dengan orang yang menyelisihi pendapat kita.
    Sikap-sikap semacam ini sudah barang tentu menyelisih prinsip Dakwah Salaf yang senantiasa mendahulukan kebenaran di atas segala hal. Sebagaimana sikap semacam ini akan memadamkan ilmu dan sikap-sikap ilmiyyah yang tercermin pada kesiapan kita untuk menerima kebenaran dari siapa saja datangnya dan meninggalkan kesalahan dari siapa saja datangnya.
    Indikasi kedua: Sikap ceroboh dalam menjatuhkan suatu vonis atau klaim terhadap seseorang, misalnya dengan mengatakan fulan mubtadi’ atau ahlul ahwa, atau yang serupa, tanpa melalui tahapan yang telah dijelaskan oleh para ulama’. Sehingga tidak jarang kita mendengar tuduhan: fulan sururi hanya karena berhubungan dengan suatu yayasan tertentu, atau berbaik muka dengan orang-orang tertentu misalnya, atau yang serupa, tanpa menempuh tahapan-tahapan yang semestinya ditempuh.
    Indikasi ketiga: Masih berlakunya sebutan “nama hijrah”, yaitu bila ada seseorang yang oleh orang tuanya diberi nama yang tidak islamy, misalnya diberi nama paijo, kemudia ia mengganti nama tersebut dengan nama “Ahmad”, maka nama ahmad ini disebut oleh banyak orang dengan “nama hijrah”. Kita tidak pernah bertanya: hijrah dari mana? Bolehkah menyebut nama tersebut dengan sebutan semacam ini? Padahal pergerakan-pergerakan yang biasa menggunakan sebutan tersebut memaksudkan hijrah di situ ialah hijrah dari masyarakat jahiliyah. Mereka beranggapan bahwa masyarakatnya ialah masyarakat jahiliyah alias kafir, karena tidak berhukum dengan hukum Allah.
    Indikasi keempat: Kesan bahwa seorang yang telah bermanhaj salaf atau beraqidah tidak mungkin berbuat salah atau dosa, sehingga bila kita melihat seorang yang telah lama belajar aqidah salaf dan rajin menghadiri pengajian-pangajian yang dipandu oleh ustadz-ustadz salaf terjatuh dalam perbuatan dosa, muncullah ucapan-ucapan yang aneh, misalnya: Masak seorang ikhwan salafi berbuat demikian? Masak seorang ustadz salafi berbuat demikian?! Masak seorang salafi atau ustadz salafi kok tidap tepat membayar hutang atau memenuhi janjinya…..?!
    Seakan-akan ada kesan bahwa seorang ustadz atau seorang salafi adalah seorang yang sempurna dan tak mungkin salah atau berdosa? Subhanallah, seakan-akan setiap orang yang telah belajar manhaj salaf atau beraqidah salaf adalah insan yang sempurna dan suci dari dosa, bak malaikat atau nabi.
    Dan bila ada seorang yang melakukan kesalahan atau dosa, dengan serta merta timbul kesan bahwa orang tersebut telah keluar dari manhaj salaf atau bukan salafi lagi atau anggapan yang serupa.
    Sampai-sampai timbul kesan bahwa yang layak untuk dijuluki dengan sebutan ikhwan atau akhwat hanyalah orang yang telah ngaji dengan seorang ustadz salafi, sedangkan seorang muslim atau muslimah yang belum mengaji dengan seorang ustadz salafi, akan tetapi ia orang awam atau mengaji kepada guru-guru ngaji lainnya tidak disebut dengan ikhwan atau akhwat. Sehingga banyak dari kita yang akan tertawa kesal atau geli bila ada orang yang mengatakan kepada kita: Awas hati-hati, di depan rumah ada seorang akhwat! Dan setelah dicek ternyata yang ada hanyalah seorang ibu-ibu muslimah yang datang dari kampung dengan pakaiannya yang khas jawa. Seakan-akan kita semua mengubur dalam-dalam firman Allah Ta’ala:
    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ
    أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
    “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujurat: 10)
    Dan juga sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,
    كونوا عباد الله إخوانا المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا
    يخذله ولا يحقره
    “Jadilah kalian itu hamba-hamba Allah yang saling bersaudara, seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidaklah menzholiminya, tidaklah menyerahkannya kepada musuh, dan tidaklah meremehkannya.” (Muslim)
    Dan pada kesempatan ini kami juga ingin mengingatkan saudara-saudara kita yang pernah ikut dalam FKAWJ dan juga LJ (Laskar Jihad) dibawah komando Ustadz Ja’far Umar Thalib, bahwa walaupun antum semua telah meninggalkan FKAWJ dan LJ, dan telah banyak yang menyatakan bertaubat, akan tetapi, pelajaran yang diambil dari kisah percakapan antara Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan ‘Aisyah di atas hendaknya senantiasa diilhami dan direnungkan kemudian diterapkan dalam kehidupan nyata. Agar kesalahan masa lampau tersebut tidak kembali muncul atau bahkan tidak menyisakan bekasnya dalam perilaku, ucapan dan pemikiran antum semua.
    Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan taufiq dan ‘inayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat membersihkan diri kita dari noda warisan kelam masa lampau dan dapat meningkatkan iman, amal serta ilmu kita.
    Kritikan Ketiga: Bersikaplah Lebih Lembut
    Kesalahan dan dosa adalah suatu hal yang tidak mungkin dihindari secara keseluruhan. Masing-masing manusia pasti memiliki kesalahan dan dosa, baik ia sengaja atau tidak. Oleh karena itu syari’at Islam mensyari’atkan amar ma’ruf nahi mungkar, guna menutupi kekurangan yang ada pada umat manusia ini.
    Fakta yang ada pada setiap manusia ini perlu untuk senantiasa diingat oleh setiap orang yang hendak menjalankan syari’at amar ma’ruf dan nahi mungkar. Dengan mengingat kenyataan ini, kita akan bisa lebih sabar dan bersikap lembut kepada orang yang memiliki kesalahan, karena kita akan selalu berkata kepada diri sendiri, bahwa dahulu –karena kebodohan- saya berbuat kesalahan seperti dia –sekarang ini- berbuat kesalahan. Sehingga kita akan merasa iba, dan kasihan terhadap orang tesebut, akibatnya, kita akan lebih gigih untuk menjalankan segala daya dan upaya agar orang tersebut bisa mendapatkan hidayah, sebagaimana kita telah mendapatkan hidayah.
    Marilah kita renungkan bersama ayat berikut:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلامَ لَسْتَ مُؤْمِناً تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيراً
    “Hai orang-orang yang beriman, apabila engkau pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah, dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: ”Kamu bukan seorang muslim” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugrahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An Nisa: 94)
    Pada ayat ini Allah melarang orang-orang Muhajirin –ketika dalam keadaan peperangan- dari mengatakan kepada seorang musuh yang menampakkan keislaman dengan cara mengucapkan salam kepada kaum muslimin: ”Engkau bukanlah seorang muslim, engkau mengucapkan salam hanya sekedar takut dibunuh” lalu dibunuh, karena sangat dimungkinkan bahwa orang tersebut adalah orang yang benar-benar telah masuk islam, akan tetapi takut untuk menampakkan keislamannya. Kemudian Allah mengingatkan orang-orang Muhajirin akan keadaan mereka sebelum berhijrah, dimana didapatkan dari mereka banyak orang yang telah masuk islam, akan tetapi takut untuk menampakkan keislamannya.
    Kaitannya dengan permasalahan yang kita hadapi, bila sekarang saudara Luqman telah menyadari bahwa “menghalalkan darah kaum muslimin” tanpa alasan yang dibenarkan adalah kesesatan dan sebagai salah satu perangai sekte khawarij. Dan bila sekarang saudara Luqman menyadari bahwa “melawan aparat pemerintah” adalah dosa dan merupakan satu dari sekian banyak kriteria sekte khawarij dst, maka mengapa saudara Luqman tidak bisa bersikap sedikit lembut dan berkata-kata halus dalam mengkritik dan membantah orang lain yang masih terfitnah atau tertipu dengan propaganda dan tipu muslihat mereka? Bukankah kemarin saudara juga telah tertipu dan terfitnah dengan propaganda mereka?
    Mungkinkah sikap keras dan berlebih-lebihan saudara Ba’abduh adalah sebagai ekspresi penyesalan saudara Ba’abduh dari penyelewengannya kala itu? Atau mungkinkah sikap kerasnya dan berlebih-lebihannya ini adalah sisa-sisa dari penyelewengannya yang telah sampai pada tingkatan menghalalkan darah kaum muslimin?
    Kami ingatkan saudara-saudaraku seiman dan seaqidah, bahwa diantara kriteria ahlus sunnah yang banyak dilalaikan oleh umat islam sekarang ini ialah: mereka adalah orang yang paling sayang terhadap sesama manusia, dan ini adalah salah satu dari tauladan yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka:
    كان رسول الله صلى الله عليه و سلم أرحم الناس بالصبيان و العيال وفي رواية : كان أرحم الناس بالناس
    “Dahulu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling sayang terhadap anak-anak dan keluarga,” dan pada riwayat lain: “Orang yang paling sayang terhadap orang lain.” (Al Jami’ As Shoghir oleh As Suyuthi 1/211).
    ***
    Dan sebagai salah satu contoh nyata bagi sikap lembut Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang lain, bahkan kepada orang yang telah berbuat jahat kepadanya, simaklah kisah berikut:
    “Dari sahabat ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia menuturkan: Ada sebagian orang Yahudi yang meminta izin kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka berkata: ‘Assaamu ‘alaikum’ (semoga kematian menimpamu), spontan ‘Aisyah berkata: ‘Atas kalianlah semoga kematian menimpa, dan juga kutukan.’ Kemudian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Wahai ‘Aisyah! Sesungguhnya Allah itu mencintai kelembutan dalam segala urusan.’ ‘Aisyah menjawab: ‘Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka katakan?’ Beliau menjawab: ‘Aku telah menjawab: Dan semoga atas kalian juga.’” (Muttafaqun ‘alaih)
    Betapa lembut sikap Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, beliau hanya mencukupkan untuk membalas doa jelek dan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dengan mengucapkan “Dan semoga atas kalian juga”. Bukan hanya itu, beliau juga menegur ‘Aisyah yang ketika membalas doa jelek mereka menambah dengan doa kutukan. Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan alasan teguran ini, yaitu karena pada sikap ‘Asiyah tersebut terdapat pembalasan yang melebihi perbuatan, dan ini menyelisihi sikap lembut yang diajarkan dalam syari’at. Karena dalam syari’at kita hanya dibenarkan untuk membalas kejahatan orang lain dengan hal yang serupa dan setimbang.
    “Barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah dia seimbang dengan serangannya terhadapmu.” (QS. Al Baqarah: 194)
    Dan pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman,
    “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An Nahl: 126)
    Oleh karena itu hendaknya kita semua banyak-banyak belajar akan hal ini, sehingga kita senantiasa dapat menjadi rahmat bagi orang lain.
    Pada kahirnya kami menyampaikan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah ikut andil dalam penulisan makalah ini, baik dengan memberikan saran, atau kritikan atau masukan. Semoga Allah membalas kebaikan mereka semua dengan ganjaran yang setimpal. Dan semoga Allah Ta’ala senantiasa melindungi kita dari segala fitnah dan mensucikan hati kita dari syubhat dan syahwat. Tak lupa, kami mohon saran dan kritikan dari para pembaca, dan bila ada kesalahan atau hal yang kurang berkenan maka kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tulisan ini bukanlah upaya dari kami untuk menyatakan bahwa kami adalah yang paling pandai atau paling bersih dari kesalahan, akan tetapi tulisan ini adalah sarana yang kami tempuh untuk menyampaikan nasehat dan menegakkan kebenaran yang sesuai dengan keilmuan dan pemahaman kami yang amat dangkal ini. Kami menyadari bahwa pada diri kami terdapat kesalahan dan kekhilafan, sehingga yang mungkin tidak kalah besar dari kesalahan dua saudara kita ini, yaitu saudara Abduh Zulfidar Akaha dan Luqman Ba’abduh. Oleh karena itu kami amat bersyukur kepada Allah kemudian kepada saudara kami, siapapun dia yang dapat menghadiahkan kepada kami kesalahan dan aib kami.
    والله أعلم بالصواب
    اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِيْ
    قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ
    وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنِ.
    اللَّهُمَّ تَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ وَأَحْيِنَا
    مُسْلِمِيْنَ وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِيْنَ غَيْرَ
    خَزَايَا وَلاَ مَفْتُوْنِيْنَ.
    “Ya Allah, limpahkanlah kepada kami kecintaan kepada keimanan dan jadikanlah ia indah dalam hati kami, dan limpahkanlah kepada kami kebencian kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. Ya Allah wafatkanlah kami dalam keadaan muslim, dan hidupkanlah kami dalam keadaan muslim, dan kumpulkanlah kami dengan orang-orang sholeh tidak dalam keadaan hina tidak juga tertimpa fitnah.” Amiin.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: