Jafar Bin Abu Thalib, Pemilik Dua Sayap Surga

Oleh AHMAD SAHIDIN

Seorang laki-laki dengan tongkat bendera menerjang ke depan. Namun seseorang menghadang dengan sekali tebasan pedang membuatnya tersungkur. Dan syahidlah panglima perang itu.
Saudara menantu Rasulullah SAW itu cepat-cepat mengambil alih pimpinan. Dengan memegang bendera, Ja`far bin Abu Thalib menerobos ke dalam barisan pasukan Rum, hingga tangan kanannya terkena pedang dan putus. Lalu bendera itu dipegang tangan kirinya, tetapi tidak lama tangan kirinya di tebas hingga putus. Kemudian bendera itu didekapnya di dadanya dengan kedua tangan yang buntung. Darah di kedua lengan Ja`far mengucur deras. Tak lama kemudian dadanya terkena sabetan pedang yang membelah badannya menjadi dua. Syahid-lah Ja`far.

“Aku telah melihat Ja`far bin Abu Thalib di surga memiliki dua sayap berbulu putih berlumur darah!,” ujar Rasulullah seraya mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya.
Dikabarkan saat itu Makkah dilanda paceklik. Perekonomian tidak berjalan sebagaimana mestinya. Keadaan ini membuat masyarakat resah dan gelisah, terutama bagi yang berada digaris kemiskinan seperti Abu Thalib bin Abdul Muthalib dan istrinya, Fatimah binti Al-Asad. Mereka berdua merasakan beratnya beban hidup sehari-hari bersama tiga putranya, Aqil, Ja`far, dan Ali. Sebagai keponakan, Nabi Muhammad SAW sadar atas masalah itu. Beliau bersama pamannya yang lain, Abbas, bersepakat mengambil anak-anak Abu Thalib sebagai anak asuh. Kedunya lalu pergi menemui Abu Thalib.
“Kalian kuizinkan mengambil anak-anakku, tapi biarlah Aqil bersamaku,” jawab Abu Thalib. Kemudian Nabi SAW mengambil Ali, dan Abbas mengambil Ja`far bin Abu Thalib.
Ja`far di bawah asuhan Abbas menjadi sosok pemuda yang energik dan taat beribadah. Ketika beranjak dewasa Ja`far dinikahkan oleh Abbas dengan Asma binti Umais. Dalam kesehariannya, suami istri ini seringkali mendapat gangguan dari kaum kafir-musyrik Quraisy. Karena itulah Ja`far dan Asma meminta izin kepada Rasulullah untuk hijrah beserta kaum muslimin ke Habasyah. Dan peristiwa inilah yang mengawali hijrah yang pertama kaum Muhajirin ke Habasyah di bawah pimpinan Ja`far bin Abu Thalib. Mereka tinggal di sana di bawah perlindungan Raja Najasyi yang adil dan baik.
Kaum Quraisy mengetahui peristiwa itu, sehingga berencana untuk meminta dikembalikan ke Makkah. Mereka mengutus Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah dengan membawa berbagai hadiah untuk Raja Najasyi. Amr bin Ash kepada Raja Najasyi berkata, “Paduka, sesungguhnya segerombolan anak jahat dari kaum kami telah berlindung di kerajaanmu ini. Mereka meninggalkan agama kami dan tidak masuk agamamu. Untuk inilah kami diutus untuk meminta agar engkau mengembalikan orang-orang tersebut, karena kahadirannya akan membahayakan paduka”.
Mendengar pernyataan itu Raja Najasyi tidak langsung percaya. Sebagai raja yang adil ia kemudian memanggil mereka. Tak berselang lama, Ja`far bin Abu Thalib beserta sahabatnya menghadap Raja Najasyi yang ketika itu sedang duduk berhadapan dengan kedua utusan kaum Quraisy tadi. Setelah dipersilahkan duduk, Najasyi membuka pembicaraan, ”Agama apakah yang kalian peluk, sehingga meninggalkan agama kaummu, dan juga tidak masuk dalam agamaku?”.
Ja`far bin Abu Thalib kemudian maju ke depan memberikan jawaban, ”Wahai raja, semula kami adalah kaum jahiliyah, penyembah berhala dan pemakan bangkai, melakukan perbuatan keji dan memutuskan ikatan kekeluargaan, jahat dan selalu menindas yang lemah. Kami hidup dalam suasana itu, hingga Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan kami. Kami mengenal nasab, kejujuran, amanat, dan harga dirinya. Beliau mengajak kami untuk meng-esa-kan Allah dan menyembah-Nya serta melepaskan kami dari penyembahan batu dan arca-arca berhala. Beliau menyuruh kami menyembah Allah Yang Mahatunggal dan tidak mempersekutukan dengan yang lain, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan bershaum di bulan Ramadhan. Tetapi kaum kami tidak menerimanya. Mereka memusuhi kami dengan aneka kekejaman, agar meninggalkannya dan kembali menyembah berhala lagi. Karena itulah kami lari ke luar yaitu ke negeri ini (Habasyah). Kami memilih negeri ini karena mengharap perlindungan seorang raja yang adil dan baik sepertimu”.
“Apakah kau hafal yang dibawa Nabimu itu?”
“Ya, akan kubacakan. Kaaf Haa Yaa `Ain Shad. Yang dibacakan ini adalah penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau ya Tuhanku” (QS. Maryam : 1- 4).
Mendengar ayat itu Raja Najasyi tiba-tiba menangis hingga membasahi buku-buku mereka, karena mendengar kalam Allah. “Sesungguhnya yang dibawa oleh Nabi kalian dan yang dibawa oleh Isa adalah keluar dari sumber cahaya yang satu,” ujar Raja Najasyi seraya menyuruh pulang kepada kedua utusan Quraisy Makkah itu, “Kembalikan kepada kedua orang ini semua hadiah yang dibawanya. Aku tidak membutuhkan itu semua!”. Akhirnya Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah pulang ke Makkah dengan hati remuk dan dongkol di samping menelan rasa kecewa, keduanya meninggalkan negeri Habasyah tanpa hasil. Sedangkan kaum muslimin yang berada di bawah pimpinan Ja`far bin Abu Thalib bersama istrinya tinggal di negeri itu dalam kedudukan baik. Sepuluh tahun lamanya kaum muslimin tinggal dalam lindungan Raja Najasyi.
Pada tahun ketujuh hijrah, Ja`far dan Asma meninggalkan negeri Habasyah bersama sekelompok kaum muslimin menuju Yatsrib. Kedatangan mereka bersamaan dengan datangnya Rasulullah dari perang Khaibar yang menaklukan benteng pertahanan Yahudi.
“Aku tidak mengerti, mana yang lebih menggembirakan aku. Apa karena menaklukan Khaibar atau karena datangnya Ja`far,” ucap Rasulullah. Perlu diketahui keberadaan Ja`far, baik ketika di negeri Habasyah maupun saat di Makkah selalu dekat dengan orang-orang lemah. Tak aneh bila kedatangannya di Yatsrib disambut dengan hangat oleh kaum mustadhafin. Bahkan Rasulullah SAW menjuluki Ja`far bin Abu Thalib dengan gelar Abul Masakin (bapak orang-orang miskin).
Setelah satu tahun Ja`far beserta kaum musllimin berada di Yatsrib, Rasulullah menyiapkan tiga ribu pasukan untuk menghadapi tentara Rum di negeri Syam. Di hadapan kaum muslimin beliau mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai panglima sambil berpesan, “Apabila Zaid wafat, maka pimpinan pasukan digantikan oleh Ja`far bin Abu Thalib. Apabila Ja`far wafat, maka pimpinan digantikan olah Abdullah bin Rawahah. Dan apabila Abdullah wafat, maka kalian dapat memilih sendiri sebagai penggantinya.”
Memang benar yang dikatakan Rasulullah itu, bahwa Zaid bin Haritsah syahid di medan laga. Ja`far bin Abu Thalib pun mengambil alih pimpinan dan syahid dengan kedua tangan terputus dan badan yang terbelah dua.
“Ya Rasulullah, Innalillahi wa inna lillahi rajiun. Anak pamanmu syahid,” kata seseorang yang mengkabarkannya kepada Rasulullah. Sambil mengusap air mata Nabi Muhammad SAW berujar, “Aku telah melihat Ja`far bin Abu Thalib di surga memiliki dua sayap berbulu putih berlumur darah!”.

AHMAD SAHIDIN, alumni Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab IAIN Sunan Gunung Djati Bandung

~ oleh lateral pada Juli 9, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: