Ibnu Thufail, Novelis Muslim dari Spanyol

Oleh AHMAD SAHIDIN

Peradaban Islam melahirkan banyak ahli filsafat yang ternama. Namun entah mengapa filsafat dan kesusastraan Islam tetap dianggap sebagai satu kelompok yang hilang dalam sejarah pemikiran manusia. Jangan heran bila dalam studi sejarah pemikiran lebih mengenal tokoh-tokoh yang berasal Yunani dan Barat ketimbang dari Islam.
Meskipun para ulama Islam yang ahli di bidang pemikiran dan kebudayaan seperti seperti al-Kindi, al-Farabi, dan Ibn Sina dianggap berilian, namun mereka tak mendapat tempat yang sewajarnya dibandingkan dengan tokoh Yunani seperti Plato dan Aristoteles. Karena itu, kajian-kajian mengenai tokoh-tokoh Islam berkenaan dengan khazanah intelektual Islam masih belum memadai dan jauh dari memuaskan. Hal ini dikarenakan beberapa ulama dan sarjana kita, tampaknya tak mau mengkaji dan mengkomentari sejumlah karya-karya ulama dan cendekiawan muslim terdahulu yang karyanya monumental dan susah dicari tandingannya.
Memang dalam sejarah, tidak kurang karya yang musnah disebabkan peperangan dan penaklukan yang dilakukan penguasa asing. Sehingga orang Barat yang mengkajinya, seringkali menilai karya-karya Muslim terdahulu disesuaikan dengan informasi yang di dapat dari karya tersebut. Maka tak jarang bila apresiasi atas karya-karya tersebut digeser dan diarahkan untuk kepentingan mereka. Namun ada juga yang jujur dan bersikap objektif dalam menilainya. Misalnya terhadap pemikiran Ibnu Rusyd yang berasal dari Andalusia (Spanyol) diberikan penilaian yang adil oleh S.Van den Berg, terhadap kitab “Lima Baida al-Thaan”—mengenai metafisika. Begitu juga dengan renungan filosofis yang tertuang dalam novel Hay ibn Yaqzan karya Ibnu Thufail, tak banyak diketahui umat Islam. Ibnu Thufail yang lahir pada 1106 Masehi, di Asya, Granada (Spanyol) lebih dikenal sebagai ahli hukum, tabib, dan ahli politik yang handal. Semasa pemerintahan al-Mu’min ibn Ali, Ibnu Thufail, yang bernama lengkapnya Abu Bakr Muhammad ibn Abdul Malik ibn Muhammad ibn Muhammad Ibnu Thufail al-Qisi, pernah dilantik sebagai pembantu Gubernur Wilayah Sabtah dan Tonjah di Maghribi.
Ibnu Thufail juga pernah menjadi dokter pribadi Abu Ya’kub Yusuf, penguasa Dinasti al-Muwahidin. Kemudian posisinya itu digantikan oleh muridnya, Ibnu Rusyd. Ia juga melibatkan dirinya dalam bidang pendidikan, pengadilan, dan penulisan. Walaupun Ibnu Thufail dikatakan telah menulis banyak buku, tapi hanya satu kitab yang masih ada hinnga kini. Kitab “Hay ibn Yaqzan”, sebuah novel filsafat bergaya sastra yang mengkisahkan petualangan dan benturan intelektual yang terjadi dimasanya. Di dalamnya juga menunjukkan pemikiran filosofisnya secara umum, dengan gaya bahasa yang menarik dan imajinasi yang indah. Tak heran bila diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia.
Yang menarik pada buku itu, Ibnu Thufail berusaha menerangkan bagaimana manusia mempunyai potensi untuk mengenal Allah. Menurutnya, semua orang bisa ma`rifatullah bila melakukan penelitian terhadap alam sekitar dan sekelilingnya. Karena dari aktivitasnya itu bila terus dipelajari, seseorang akan sampai pada hakikat dari alam semesta sekaligus mengenal siapa yang menciptakannya. Ibnu Thufail juga mencoba menerangkan satu sistem filsafat berdasarkan perkembangan pemikiran yang ada pada diri manusia, yang mengungkap hubungan antara manusia, akal, dan Allah, melalui tokoh fiktif Hay ibn Yaqzan yang hidup di sebuah pulau di khatulistiwa yang memiliki empat unsur penting seperti panas, sejuk, kering, dan basah. Tokoh Hay hidup terpencil dan bisa mempertahankan kelangsungan hidupnya hanya dengan menggunakan akal dan pancaindera. Hay digambarkan sebagai sosok manusia alam yang tak pernah mengenali orangtuanya. Tetapi alam telah memberinya seekor kijang yang menyusu dan memberinya makan. Setelah dewasa, dia mengarahkan pandangannya terhadap perkara yang ada di sekelilingnya. Di sini, dia mulai memahami tentang kejadian, pengalaman, dan rahasia perubahan yang terjadi di sekelilingnya; sehingga ia tahu, bahwa di balik alam ini terdapat sebab-sebab yang tersembunyi yang menciptakan dan membentuk alam raya dan dirinya. Hay bin Yaqzan selalu membahas dan menganalisa sesuatu perkara secara sendiri melalui akalnya, sehingga dia mampu mengetahui bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan manusia itu bergantung kepada hubungannya dengan sang pecipta. Ia kemudian dikenalkan dengan nama Allah, sebagai Yang Mahasegalanya, setelah bertemu dengan Asal, tokoh fiktif yang berperan sebagai pendakwah (da`i) yang membawa kebenaran agama.
Dengan melalui lika-liku perdebatan yang kritis dan dialogis, Hay menerima pandangan-pandangan agama yang disampaikan Asal. Hay mengakui adanya kesamaan tentang Allah sebagai Tuhan yang menciptatakan alam semesta raya dengan “sang-realitas” yang berada dibalik alam raya yang diakuinya sebagai Tuhan. Dengan karakter tokoh Hay itu, Ibnu Thufail berhasil membuat uraian yang menarik sekaligus membantu memahami pemikiran-pemikirannya. Dari buku itu, tampak bahwa Ibnu Thufail melihat alam ini sebagai baru yang diciptakan Allah sebagai Yang Mahatunggal dan berkuasa penuh atas ciptaannya.
Ibnu Thufail dalam khazanah sejarah dikenal sebagai Muslim yang berhasil mengungkap perpindahan musim. Menurutnya, lapisan udara yang tinggi akan lebih sejuk dan tipis dari lapisan yang rendah. Hal ini disebabkan kepanasan berlaku di permukaan bumi, bukannya di ruang dan lapisan udara. Begitu juga dengan kepanasan boleh dihasilkan melalui gesekan dan gerakan cahaya berasal dari matahari.
Dalam sejarah, Ibnu Thufail juga dikenal kritis dalam menerima sebuah pemikiran atau riwayat-riwayat yang menjadi sumber dalam menjalankan keagamaannya, dengan melakukan kajian-kajian terlebih dahulu.
Bertitik tolak dari sikap yang kritis itu, Ibnu Thufail tidak menyepi dan mengasingkan diri seperti yang dilakukan segelintir ahli filsafat dan tasawuf. Sebaliknya, Ibnu Thufail justru bergiat dalam aktivitas kemasyarakatan dan urusan pemerintahan serta kenegaraan. Aktivitasnya itu dijalani hingga wafat pada 185 Masehi.

~ oleh lateral pada Juli 3, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: