“Menyingkap Akar Sejarah Poligami DUDUK PERKARA POLIGAMI”

Judul Asli: The Right of Women in Islam
Penulis: Murthadha Muthahhari
Penerbit: Serambi, Jakarta, Cetakan I, 2007, 154 halaman

POLIGAMI merupakan topik kajian yang selalu sengit diperdebatkan dalam diskursus fiqh munakahat Islam. Tak jarang sejumlah sejarawan melancarkan serangan telak bahwa Nabi Muhammad-lah yang pertama kali memprakarsai tradisi poligami. Jelas, tudingan macam itu terlalu mengada-ada. Sejarah membuktikan bahwa tradisi poligami sudah ada jauh sebelum Islam datang di kalangan suku-suku Arab pra-Islam, Persia, Yahudi, dan lain-lain. Tak hanya oleh suku-suku primitif, poligami juga beroleh tempat di kalangan suku-suku beradab.

Inilah cikal bakal silang pendapat poligami yang didedahkan Murthadha Muthahhari dalam bukunya, Duduk Perkara Poligami. Ia menggali akar poligami sejak perkembangannya yang paling purba. Bagaimana mungkin para sejarawan berkesimpulan bahwa Islam menumbuhsuburkan adat poligami, padahal usia poligami lebih tua dari usia Islam itu sendiri.

Sayang sekali, buku ini hanya hasil terjemahan satu bab dari The Right of Women in Islam (1981), bukan gagasan utuh Murthadha yang sangat erat kaitannya dengan polemik poligami. Inilah risiko yang mesti ditanggung akibat ketergesaan penerbit dalam mengejar target tema yang sedang santer diperbincangkan, tapi abai pada bagian-bagian yang “diduga” tak punya nilai jual.

Murthadha menyangkal poligami sebagai tirani, dominasi, dan perbudakan pria atas wanita. Muasal sejarah munculnya poligami bukan karena pria mendominasi wanita, lalu mereka merancang tradisi yang menguntungkan mereka. Kemunduran poligami juga bukan karena dominasi pria sudah mulai goyah.

Dalam konteks ini, ia menggunakan logika terbalik, kalau memang dominasi pria menjadi sebab poligami, kenapa Barat tidak menerapkannya? Padahal, di Abad Pertengahan, wanita Barat adalah wanita yang paling tidak beruntung di dunia. Seperti diakui Gustave le Bon bahwa pada zaman peradaban Islam, wanita diberi kedudukan yang persis sama dengan wanita Barat jauh hari kemudian. Setelah mempelajari sejarah zaman dahulu, tak ada lagi keraguan bahwa Islam mengajari kakek-kakek kita mengasihi wanita dan menghormatinya.

Kalau memang Islam menaruh hormat pada hak-hak wanita, kenapa hanya kaum pria yang boleh menikahi lebih dari satu istri (poligami), sementara wanita tidak? Murthadha merujuk sebuah riwayat ketika sekelompok wanita menghadap Sayidina Ali dan bertanya, “Mengapa Islam memperkenankan laki-laki punya lebih dari seorang istri tapi tidak mengizinkan wanita bersuami lebih dari seorang? Bukankah ini tidak adil?”

Ali menyuruh masing-masing dari mereka mengambil cangkir berisi air, lalu meminta mereka menuangkannya ke dalam mangkuk besar. Setelah cangkir-cangkir mereka kosong, Ali meminta mereka mengisi kembali cangkir dengan air dari mangkuk besar itu, dengan ketentuan mereka harus mengambil air yang tadi ditumpahkannya. “Air itu sudah tercampur, tak mungkin dipisahkan lagi,” kata mereka. Maka, Ali berkata, “Bila seorang istri punya beberapa orang suami, ia akan melakukan hubungan seks dengan setiap suaminya, kemudian ia akan hamil. Bagaimana ia menentukan ayah anak yang dikandungnya?”

Murthadha hendak meluruskan pemahaman yang keliru terhadap tradisi poligami. Ia tak berpretensi memaklumatkan poligami lebih bermartabat ketimbang monogami. Ia hanya mempertanyakan, mengapa banyak orang mengecam keras poligami, sementara pada saat yang sama seks bebas dan homoseksual justru diperkenankan. Pria-pria modern bisa gonta-ganti pacar tanpa memerlukan formalitas mahar, nafkah, atau perceraian.

Bertrand Russell, pemikir yang paling keras mengecam poligami, dalam otobiografinya berkisah bahwa dalam hidupnya ada dua wanita setelah ibunya, yaitu Alys (istrinya) dan Lady Ottoline Morell (kekasihnya). Meski Russell tidak menyukai poligami, suatu hari filsuf itu jujur mengakui: “Mendadak saya sadar bahwa saya tidak lagi mencintai Alys.” Kalau sudah begini, tentu poligami tak berguna lagi. Poligami atau tidak, hubungan perkawinan tentu bukan sebatas urusan seks.

Damhuri Muhammad, Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta [Buku, Gatra Nomor 31 Beredar Kamis, 14 Juni 2007]

~ oleh lateral pada Juni 30, 2007.

2 Tanggapan to ““Menyingkap Akar Sejarah Poligami DUDUK PERKARA POLIGAMI””

  1. Walaupun tulisan di atas adalah resensi sangat tidak lengkap dari sebuah buku, saya ingin mencoba memberikan komentar.
    Pertama, memang bukan Muhammad yang memprakarsai Poligami ketika itu Muhammad hanya mengikuti tradisi arab. Dan, di satu sisi bahkan memperbaikinya karena Muhammad membatasi jumlah istri dan beliau pun hanya memperistri wanita-wanita yang membutuhkan santunan (kecuali Aisyah). Poligami di zaman Muhammad adalah sesuatu yang sangat bisa dimengerti.

    Tetapi ketika kita mencoba membawa sesuatu dari 14 abad yang lalu ke konteks sekarang, poligami bukan lagi sesuatu yang bisa dimengerti dan dibela.
    Poligami saat ini memang kekerasan terhadap perempuan.

    Saya mencoba menjawab beberapa pernyataan dari tulisan di atas.
    Kalau anda mencermati sejarah eropa lebih dalam lagi, memang kalangan bangsawan eropa ketika itu hanya memiliki istri 1. tapi itupun karena istri-istri mereka biasanya mampunyai kekuasaan atas tanah, dan uang yang setara dengan suami. Karena kesetaraan ekonomi, laki-laki bangsawan Eropa tidak bisa sembarangan mengambil istri lain. tetapi mereka diperbolehkan mempunyai mistress (simpanan/selir) yang lazim dipraktekkan ketika itu.
    Kalau perempuan bersuami banyak, apa identitas anaknya? jelas anak itu adalah anak ibunya. Dan dengan teknologi sekarang sangat mudah menentukan siapa ayahnya. Pun, orang yang tidak mampu melakukan tes DNA, dapat dengan mudah mencek dengan sistem kalender.
    Kalau keadaan seorang suami tidak lagi mencintai istrinya bisa dijadikan alasan untuk berpoligami, maka sebaliknya istri pun bisa berpoliandri ketika tidak lagi mencintai suaminya. Tidak lagi saling mencintai adalah alasan untuk bercerai bukan berpoligami. Perceraian adalah lebih adil bagi kedua belah pihak. Jadi kedua belah pihak, dan bukan hanya laki-laki, bebas untuk mencintai orang lain.
    Pernikahan memang bukan hanya soal seks. Tetapi poligami membatasi pernikahan hanya sebatas kegiatan seksual. Karena secara logika lelaki yang ingin beristri banyak berarti ingin melakukan kegiatan seksual dengan banyak wanita. Apabila laki-laki berkata ingin membantu wanita dengan menikahinya, ketahuilah bahwa banyak cara membantu yang lebih tulus tanpa melibatkan unsur seksual didalamnya.

  2. Menarik memang apa yang dikatakan oleh mbak Lia, bila kemudian dikatakan bahwa poligami sebagai “kekerasan terhadap perempuan”, bisakan dijelaskan dari mana term tersebut muncul?dan poligami dinyatakan “hanya sebatas kegiatan seksual”?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: