RAHBAR ISLAM : Imam Ali Khamenei

SELAMA bertahun-tahun lamanya, saya telah mengenal Anda. Hubungan di antara kita bahkan sudah terjalin, jauh sebelum meletusnya revolusi. Hingga kini, saya mengenal Anda sebagai salah satu tulang punggung revolusi Islam Iran. Anda juga saya kenal sebagai seorang yang sangat faham masalah-masalah hukum Islam, dan Anda sangat taat dengan hukum-hukum tersebut. Terkait dengan penegakkan sistem pemerintahan Islami yang berlandaskan konsep Wilayatul Faqih, Anda terbukti telah berani mengorbankan apapun, termasuk nyawa, demi tegaknya sistem pemerintahan suci ini. Di antara orang-orang yang setia kepada revolusi dan agama, Anda bagaikan mentari yang memberikan cahaya kepada sekelilingnya (Ucapan Imam Khomeini kepada Sayyid Ali Khamenei, Shahifeye Nour jilid XX halaman 173).

Sebuah Keluarga Sederhana
28 Shafar 1382 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 18 April 1939, keluarga miskin dan sederhana Hujjatul Islam Sayyid Jawad Husaini melahirkan putera kedua yang diberi nama Ali. Tak ada tanda-tanda berarti yang menunjukkan bahwa bayi tampan yang dilahirkan dari keluarga religius itu akan menjadi salah satu pilar revolusi Islam di Iran. Sayyid Jawad, sang ayah, saat itu tidak mengira bahwa sang putera yang dilahirkan di kawasan Khamene, sebuah kota kecil sekitar Masyhad, Iran Timur itu, kelak akan dikomentari oleh Ayatullah Taleqani, imam Jumat pertama setelah revolusi, sebagai pemimpin masa depan Iran dan dunia Islam.
Padahal, Sayyid Ali yang menjalani masa-masa pertumbuhan dimasa kanak-kanaknya dengan kehidupan yang sangat sederhana tersebut, kini adalah pemimpin tertinggi di Iran. Beliau kini dikenal dengan sebutan Ayatullah Al-‘Udhma Sayyid Ali Khamenei. Beliau bahkan seorang wali faqih yang berdasarkan kepercayaan para pengikut Ahlul Bait, ia adalah wakil dari Imam Zaman yang saat ini sedang dalam masa ghaibah (menghilang dari pandangan lahiriah).
Ke manapun beliau mengunjungi tempat di Iran, ribuan bahkan terkadang sampai jutaan rakyat mengelu-elukannya. Orang-orang secara histeris menyebut beliau dengan kata-kata “Khamanei Khomeini-ye digar ast!” (Khamenei adalah penjelmaan dari Imam Khomeini). Setiap beliau menyelesaikan pidato yang berisikan seruan kepada rakyat Iran untuk melakukan sesuatu menghadapi arogansi kekuatan-kekuatan besar dunia, orang-orang itu akan berteriak “Ma hame sarbaz-e tu im Khamenei! Gush be farman-e tu im Khamanenei” (Kami semua adalah prajuritmu wahai Khamenei! Telinga kami selalu siap mendengarkan titahmu wahai Khamanei!).
Sayyid Ali Khamanei memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin yang tumbuh dari bawah. Kakeknya, Sayyid Husein, memang seorang ulama pejuang yang bahkan sempat menjadi utusan Provinsi Tabriz pada Majelis Nasional Iran, sebuah jabatan yang kemudian dipergunakan Sayyid Husein untuk melawan kesewenang-wenangan rezim despotik Pahlevi dan kemudian berakhir dengan gugurnya beliau di tangan antek-antek Reza Khan. Akan tetapi, semua itu tidaklah cukup untuk menjadikan Sayyid Ali remaja sebagai orang yang dikenal sebagai keturunan pejuang. Sayyid Ali tetaplah menjadi sosok sederhana yang menapaki jenjang kepemimpinannya lewat perjuangannya sendiri.

Masa Kanak-Kanak
Masa kanak-kanak Sayyid Ali dilalui dengan belajar Al-Quran dari ayahandanya sendiri. Pada usia tujuh tahun, sebagaimana anak-anak seusianya, Sayyid Ali memasuki pendidikan di sekolah dasar. Selesai menamatkan pendidikan dasar, Sayyid Ali melanjutkan pendidikan di sekolah menengah. Pada saat yang bersamaan, Sayyid Ali juga mulai memasuki dunia hauzah,yang dikenangnya sebagai masa paling mengesankan selama hidupnya. Sekitar tahun 2000 lalu, saat diwawancarai oleh para pelajar sekolah menengah di Teheran, dan saat ditanya tentang cita-cita beliau waktu kecil, Sayyid Ali menjawab bahwa beliau tidak begitu ingat, apa cita-citanya ketika masih kanak-kanak. Hanya saja, menurut beliau, yang paling mengesankan dari masa kanak-kanak dan remajanya adalah ketika ia memutuskan untuk belajar ilmu-ilmu keagamaan di hauzah ilmiah.
Hauzah seakan sudah dipersiapkan sebagai dunia masa depan Sayyid Ali. Ayahnya, dan terutama ibunya, selalu mengatakan kepada Sayyid Ali bahwa satu-satunya keinginan keduanya menyangkut masa depan Sayyid Ali adalah mengirimkannya ke hauzah ilmiah. Sayyid Ali sendiri memang sangat menyukai ilmu-ilmu keagamaan. Pengetahuan luas ayahnya di bidang ilmu-ilmu agama adalah salah satu penyebab kekaguman Sayyid Ali kepada ayahandanya.
Sejak awal memasuki dunia hauzah, Sayyid Ali remaja sudah mengenakan pakaian ruhani sebagai busana sehari-hari, yaitu gamis, qaba (jas berukuran panjang), aba’ah (jubah), dan serban hitam yang menandakan bahwa ia seorang sayyid (keturunan Rasulullah). Mengenai pakaian ruhani yang sudah dipakainya sejak masih remaja itu, Ayatullah Khamenei mengatakan bahwa pakaian ruhani tersebut baginya merupakan upaya imaginary self (pencitraan diri) sedari dini bahwa ia adalah penentang rezim despotik Syah. Reza Khan, ayah dari Reza Pahlevi, memang sangat membenci jenis pakaian seperti itu. Tapi, justru karena itulah, Sayyid Jawad sudah menyuruh anaknya agar mengenakan pakaian ruhani ketika baru saja memasuki dunia hauzah, sebagai bentuk penentangan terhadap Syah.

Belajar di Hauzah dan Menjadi Kritikus Sastra

Di hauzah, hanya dalam tempo lima tahun, Sayyid Ali menunjukkan talentanya yang luar biasa di bidang ilmu-ilmu agama. Pada usia 18 tahun, Sayyid Ali sudah diperbolehkan untuk mempelajari bahtsul kharij, sebuah tahapan dalam strata ilmu-ilmu hauzah yang memungkinkan seorang santri untuk mempelajari ilmu-ilmu keagamaan tingkat tinggi. Sekolah umum sendiri ditinggalkan Sayyid Ali setelah ia menamatkan pendidikan menengahnya. Akan tetapi, ia tetap mempelajari ilmu-ilmu umum secara otodidak. Sayyid Ali memang sangat gemar membaca. Segala bidang ilmu ia pelajari. Akan tetapi, yang paling disukainya adalah sejarah dan sastra. Di bidang sastra, Sayyid Ali muda sempat bergabung dengan sebuah sanggar sastra. Di sana ia menjadi kritikus karya-karya sastra dari para sastrawan kota Masyhad. Ia juga sempat menulis sejumlah syair yang dimuat di beberapa buletin sastra Masyhad. Saat menulis, ia menggunakan nama samaran: Amin.
Sampai usia 20 tahun, Sayyid Ali belajar bahtsul khariz pada Ayatullah Ashena’i di Masyhad. Selepas itu, ia melanjutkan pelajaran tingkat tingginya di kota Najaf, Irak, yang saat itu dikenal sebagai salah satu pusat belajar ilmu-ilmu keislaman dunia.
Pada tahun 1959, Sayyid Ali kembal ke Iran, dan melanjutkan belajar di Qom Al-Muqaddasah. Di sinilah ia berkenalan dengan guru yang kemudian menjadi mentor politiknya: Ayatullah Khomeini. Selain belajar kepada Imam Khomeini, Sayyid Ali muda juga belajar pada sejumlah ulama besar waktu itu seperti Ayatullah Ha’iri dan Ayatullah Boroujerdi. Sayyid Ali yang sejak masa remaja sudah terasah bakat-bakat keilmuannya di hauzah ilmiah Masyhad dan Najaf, menjadi semakin cemerlang lewat bimbingan yang cerdas dari para ulama besar. Dari Imam Khomeini, Sayyid Ali juga menyerap secara sempurna semangat kebangkitan dan perjuangan melawan kezhaliman.

Gelora Revolusi
Tahun 1962 adalah titik permulaan dari bergulirnya sebuah gerakan besar yang bukan hanya mengguncang Iran, melainkan juga mengguncang dunia. Menurut Rahimpour, cendekiawan muda Iran masa kini, revolusi yang bergulir di Iran adalah sebuah bentuk koreksi atas kebangkitan renaissance Barat di abad pertengahan yang saat itu menentukan arah perjalanan peradaban ummat manusia. Menurut Rahimpour, segala sendi-sendi renaissance Barat seperti relativitas ilmu, pluralisme, dan tatanan kehidupan politik yang demokratis a la Barat, dikoreksi secara brilyan oleh gerakan yang dipimpin kaum agamawan yang dipimpin oleh Imam Khomeini. Karenanya, meminjam terminologi Barat, renaissance Barat dan kelompok pendukungnya saat ini bisa disebut sebagai kaum konservatif, yang tentu saja, akan berjuang sekeras mungkin untuk mempertahankan apa yang telah mereka peroleh. Sedangkan gerakan revolusi Islam Iran, karena memang memberikan koreksi praktis, langsung, dan frontal terhadap sendi-sendi renaissance Barat, maka gerakan ini bisa disebut reformasi atas kemapanan yang ada.
Revolusi Islam yang sangat khas dan sangat tidak bisa dibandingkan dengan revolusi apapun di dunia ini secara perlahan namun pasti mulai menciptakan irama-irama “cressendo”-nya, makin lama makin keras dan bergaung. Semua itu berporos di kota suci Qom. Sayyid Ali muda saat itu juga berada di kota itu. Bakat dan minatnya yang besar dalam perjuangan menegakkan kepentingan agama membuatnya semakin mendapatkan perhatian dari para pemimpin gerakan revolusi, termasuk Imam Khomeini. Pada tahun 1963, Sayyid Ali bahkan mendapatkan kepercayaan yang sangat besar dari Imam Khomeini untuk menyampaikan pesan penting kepada para ulama dan kelompok revolusioner lainnya di Kota Masyhad. Saat itu, Masyhad, sebagai sebuah kota suci (pusara suci Imam Ali bin Musa Ar-Ridha, imam kedelapan dalam madzhab Syi’ah Imamiyyah, berada di kota itu), Masyhad menjelma menjadi pusat kedua gerakan revolusi. Karenanya, penyampaian pesan revolusi haruslah diemban oleh orang yang betul-betul dipercaya. Sayyid Ali yang saat itu baru berusia 24 tahun telah mendapatkan kepercayaan yang sangat besar itu.
Tentu saja yang dimaksud dengan pembawa pesan di sini tidaklah seperti kurir biasa yang hanya bertugas menyampaikan surat. Sayyid Ali secara cerdas bahkan menjadi juru bicara yang mampu menjelaskan segala hal yang termuat dalam pesan Imam Khomeini kepada kelompok revolusioner di kota Masyhad. Di beberapa tempat di Masyhad, bahkan di kota-kota antara Masyhad dan Qom yang berjarak lebih dari 1.000 kilometer itu, Sayyid Ali menyampaikan pidato-pidato revolusinya dengan gaya dan retorika yang sangat mengesankan. Tugas mulia menjadi representasi dari pesan-pesan revolusi Imam Khomeini ini terus diemban oleh Sayyid Ali di kota-kota lainnya di Iran.
Gerakan Revolusi Islam makin mengental saat Imam Khomeini mengumumkan hari tahun baru Iran yaitu tanggal 21 Maret 1963 (jatuh pada setiap awal musim semi) sebagai Hari Duka Nasional. Imam mengatakan bahwa tahun ini, kelompok pro-revolusi tidak boleh merayakan tahun baru. Seruan Imam itu kemudian mendapatkan sambutan meluas dari rakyat Iran. Tahun baru Iran pada saat itu tercatat sebagai hari raya paling muram di Iran sepanjang sejarah. Situasi ini tentu saja sangat mengkhawatirkan Syah Pahlevi. Seruan seorang ulama ternyata disambut positif oleh rakyat Iran.
Besoknya, tanggal 22 Maret, bertepatan dengan peringatan hari syahadah Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s., Rezim Syah semakin mengkhawatirkan gerakan-gerakan Imam. Mereka takut acara peringatan tersebut bisa berubah menjadi ajang gerakan politik lagi. Inilah awal mula tindakan represif secara fisik antek-antek Rezim Syah. Awalnya mereka mengepung rumah Imam. Akan tetapi, karena mengkhawatirkan adanya tindakan balasan, mereka mendatangi Madrasah Faizhiah. Di sana, tentara keamanan Syah membubarkan acara peringatan yang sedang berlangsung. Sejumlah santri muda yang mencoba menghalang-halangi tindakan para petugas keamanan, diseret dan di bawa ke atap madrasah. Dari ketinggian atap bangunan, mereka dijatuhkan ke bawah. Melihat kejadian ini, Sayyid Ali muda dan rekan-rekan seperjuangannya mendatangi rumah Imam. Rasa khawatir mereka mendadak sirna setelah mendengar kata-kata Imam yang tetap tenang dan berkharisma.

Orasi Muharam di Birjand
Pada bulan Muharram tahun 1383 Hijriah (bulan Juni tahun 1963), terjadi gerakan besar yang digulirkan Imam Khomeini dengan cara kembali mengumumkan hari duka nasional. Ummat Syiah memang memiliki tradisi sejarah berupa peringatan duka atas gugurnya Imam Husein dan keluarga Rasulullah lainnya di Karbala yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Pada tahun 1963, momentum itu dimanfaatkan oleh Imam Khomeini untuk mengingatkan rakyat Iran tentang esensi perjuangan Imam Husein a.s. hingga gugur syahid secara heroik di Padang Karbala. Imam Khomeini juga menghubungkan tragedi heroik tersebut dengan situasi represif yang dirasakan rakyat Iran di bawah pemerintahan Reza Pahlevi.
Pesan itu disampaikan oleh Imam Khomeini kepada sejumlah orang kepercayaannya dengan cara mengutus mereka ke sejumlah tempat penting Iran. Sayyid Ali muda juga mendapatkan kehormatan untuk mengemban tugas penting ini. Ia diutus ke kota Birjand, sebuah kawasan di sekitar kota Masyhad yang saat itu, berdasarkan pengakuan Asadullah Alam, Perdana Menteri Iran, termasuk di antara pusat pengawasan pihak keamanan Iran.
Sayyid Ali muda sudah mulai menyampaikan ceramahnya sejak tanggal 3 Muharram. Ceramah-ceramah Sayyid Ali selalu dipenuhi oleh hadirin. Saat inilah kemampuan orasi dan retorikanya makin terlihat. Memasuki hari ketujuh, Sayyid Ali mulai menggugah kesadaran religio-politis hadirin dengan mengupas tuntas insiden berdarah di Madrasah Faizhiah tanggal 22 Maret.
Pidato bergelora Sayyid Ali dilanjutkan pada keesokan harinya. Puncak gelora pidato Sayyid Ali berlangsung pada tanggal 9 Muharram (Hari Tasu’a). Pidato inilah yang membuat pihak keamanan menjadi sangat mengkhawatirkan dampak yang ditimbulkan oleh pidato tersebut hingga tanpa menghiraukan akibatnya, Sayyid Ali ditangkap dengan tuduhan melakukan tindakan menghasut massa. Untuk pertama kalinya, pihak keamanan Iran berani melakukan penangkapan terhadap seorang penceramah di hari peringatan duka, yaitu hari 9 dan 10 Muharram.
Sayyid Ali ditahan oleh Badan Intelejen Kerajaan Iran (SAVAK) selama dua hari. Penahanan ini sama sekali tidak membuat gentar Sayyid Ali. Ia sama sekali tidak kehilangan semangat, meskipun ditahan oleh badan yang paling ditakuti oleh rakyat Iran saat itu. Setelah kasus kontroversial penahanan Sayyid Ali tersebut, warga Birjand dan Kota Masyhad sendiri malah makin tergugah untuk bangkit melawan represi Syah. Peringatan Asyura tahun 1963 di Masyhad kemudian tercatat sebagai yang paling bergelora di seluruh Iran setelah Teheran. Setelah dibebaskan dari tahanan oleh SAVAK, Sayyid Ali kembali melanjutkan aktivitas perlawanannya.
Setelah itu terjadilah peristiwa tanggal 5 Juni 1963 (tanggal 13 Muharram) di Madrasah Faizhiah, Qom dan kota-kota penting Iran lainnya. Setelah momentum gerakan penentangan terhadap pemerintahan Rezim korup Syah semakin menemukan bentuknya pada peringatan Asyura, Syah rupanya mulai kalap. Pada tanggal itu, Syah memerintahkan penahanan atas Imam Khomeini. Hari itu juga, berita penangkapan Imam tersiar ke seluruh penjuru Iran. Rakyat marah. Mereka turun ke jalan menuntut pembebasan Imam. Saat itu, pasukan keamanan pemerintah melakukan pembantaian massal dan meluas terhadap para ulama dan santri. Berdasarkan perkiraan kasar, jumlah syuhada aksi represif tersebut dilaporkan mencapai angka minimalnya 5.000 orang.
Setelah tragedi berdarah 5 Juni itu, aksi-aksi represif Rezim Syah semakin menakutkan. Pembantaian makin sering terjadi. Imam sendiri, kemudian beberapa kali dipenjara untuk akhirnya diasingkan ke Irak, Turki, dan Perancis. Selama masa pengasingan Imam yang berakhir tahun 1979, perjuangan revolusi terus berkobar. Para pengikut setia Imam, termasuk Sayyid Ali, adalah di antara tulang punggung perjuangan yang terus mengobarkan revolusi di dalam negeri hingga meraih kemenangannya tanggal 11 Februari 1979 (lihat bagian revolusi). Setelah revolusi mencapai kemenangannya, Sayyid Ali juga dipercaya untuk mengemban sejumlah amanah yang sangat besar, di antaranya menjadi khatib shalat Jumat Teheran dan menjadi presiden Iran (kembali lihat revolusi).

Tenggelam dan Terbitnya Mentari
Iran, 4 Juni 1989. Ini adalah pertengahan bulan terakhir dari musim semi. Sekitar 2 minggu lagi, Iran akan memasuki musim panas. Waktu di siang hari makin memanjang, dan sinar matahari tidak lagi bersahabat. Tanggal 4 Juni juga dikenang oleh rakyat Iran sebagai akhir dari sebuah musim semi yang indah dari kehadiran seorang pemimpin agung abad 20. Beberapa hari menjelang tanggal tersebut, kesehatan Imam Khomeini mengalami penurunan secara drastis. Meskipun kekhusyuan tetap menyelimuti shalat-shalatnya, tangan Imam sudah harus bertelekan kepada orang lain setiap menjalankan ibadah shalatnya.
Pagi hari itu, sejak adzan shubuh dikumandangkan, radio-radio secara serentak memperdengarkan bacaan Al-Quran. Pukul 22 malam harinya, Imam memang telah mengembuskan nafasnya yang paling akhir untuk bertemu dengan Allah, Sang Kekasih. Pagi hari itu juga, Majelis-e Khubregan (Dewan Ahli) Iran mengadakan sidang darurat dengan satu agenda: mendengarkan pembacaan surat wasiat Imam. Sebelum wafat, Imam telah menulis sebuah surat wasiat. Menurut beliau, hanya dua orang yang berhak untuk membacakan suratnya itu. Pertama, putra tercintanya, Sayyid Ahmad Khomeini. Dan yang kedua, Sayyid Ali Khamenei yang saat itu menjabat sebagai Presiden Iran. Sayyid Ahmad kemudian meminta dengan sangat agar Sayyid Ali yang membacakan surat wasiat itu. Sayyid Ali pun dengan berat hati menyanggupi permintaan itu. Pembacaan surat wasiat itu kemudian tercatat sebagai elegi yang sangat memilukan. Berkali-kali Sayyid Ali menghentikan pembacaan surat tersebut karena harus menyeka air mata yang dengan deras mengalir tidak terbendung. Air mata duka dan kehilangan yang sangat dalam.
Setelah itu, sesuai dengan amanat konstitusi, Majelis-e Khubregan (Dewan Ahli) bersidang untuk menunjuk pemimpin baru revolusi Islam Iran. Meskipun masih diliputi suasana duka, anggota Majelis yang berjumlah 72 orang itu tetap menghadiri sidang. Dalam suasana tertekan akibat rasa kehilangan, mereka harus segera memutuskan siapa yang menjadi pemimpin tertinggi menggantikan Imam Khomeini. Kepribadian dan integritas Imam yang sangat besar telah membuat semua pihak, termasuk kalangan internal Iran, meragukan kemampuan Dewan Ahli dalam menunjuk pemimpin baru yang paling tidak, mendekati kapabilitas Imam Khomeini.
Dengan kekhawatiran yang sangat mendalam, sejumlah media dalam negeri pro revolusi juga memprediksikan krisis besar yang akan timbul setelah wafatnya Imam Khomeini. Koran Pasdaran edisi nomor 91 menulis:
“Dengan wafatnya Imam, sebuah kesenjangan yang sangat lebar akan tercipta pada sistem politik nasional Iran. Berbagai laporan dari media massa menunjukkan bahwa kesenjangan itu tidak akan mungkin teratasi dengan cara apapun”.
Sementara itu kalangan media massa luar negeri juga berpendapat yang sama. Tentu saja, pendapat kalangan luar itu disertai dengan rasa gembira, karena jika Iran kacau, maka gerakan raksasa kebangkitan Islam akan ikut runtuh. Koran Resalat edisi 6 Juni mengutip pernyataan Radio BBC sbb. “Kekosongan keuasaan yang ditimbulkan oleh wafatnya Imam tidak akan mungkin bisa ditutupi oleh siapapun”. Radio AS (Voice of America) mengemukakan analisisnya bahwa kematian Ayatullah Khomeini akan menimbulkan kerusuhan besar berskala nasional. Menurut VOA, kondisi ini diprediksikan akan berakhir dengan perang saudara besar-besaran di Iran.
Hampir semua pihak saat itu, jika ditanya mengenai pengganti Imam sebagai rahbar, akan menggelengkan kepalanya. Situasi yang sama mencekam sidang Dewan Ahli yang harus segera memutuskan pengganti Imam. Sayyid Ali yang saat itu baru berusia 50 tahun termasuk di antara anggota Dewan Ahli. Bersama Hashemi Rafsanjani, sahabat dekatnya, Sayyid Ali menggulirkan ide pembentukan presidium pemimpin (kepemimpinan kolektif) untuk menggantikan kepemimpinan tunggal Imam Khomeini. Sistem ini memang termaktub dalam konstitusi Iran, bahwa jika rahbar tunggal tidak memungkinkan untuk terpilih, maka Dewan Ahli diperbolehkan untuk membentuk dan memilih para anggota presidium pemimpin (syura-ye rahbari).
Kondisi yang ada sepertinya memang akan menggiring Dewan Ahli untuk menyetujui saran dari Rafsanjani dan Sayyid Ali tersebut. Di awal sidang, tanpa didahului oleh proposisi apapun, tercipta aklamasi pembentukan presidium pemimpin. Para anggota Dewan Ahli juga dipastikan sepakat memasukkan nama Sayyid Ali sebagai salah satu anggota presidium. Ketika sidang mulai membahas mekanisme pemilihan para anggota presidium lainnya, mendadak suasana aneh tercipta di gedung tersebut. Hening dan sangat kudus. Para anggota Dewan Ahli belakangan bercerita tentang sinar ilham yang menyeruak ke dalam kalbu mereka. Tangan Tuhan memang tengah bertindak. Tiba-tiba, nama Sayyid Ali secara serantak digumamkan oleh para anggota Dewan Ahli sebagai kandidat utama pemimpin tunggal pengganti Imam. Para anggota dewan tidak lagi berbicara masalah pembentukan presidium karena kepemimpinan tunggal bisa mereka bentuk dengan Sayyid Ali sebagai kandidat tungggal. Opsi pembentukan presidium dengan sendirinya ditolak oleh mayoritas anggota Dewan Ahli, kecuali oleh Sayyid Ali sendiri.
Pimpinan sidang saat itu langsung menawarkan voting kepada anggota sidang untuk mengambil suara antara memilih atau menolak Sayyid Ali sebagai pemimpin tunggal. Seluruh anggota Dewan menyetujui usulan pimpinan sidang. Ide yang bergulir begitu saja itu dirasakan oleh para anggota Dewan sebagai sebuah jalan keluar dari kebuntuan yang mereka rasakan selama ini. Terasa ada harapan yang manyala-nyala akan masa depan revolusi yang cemerlang saat nama Sayyid Ali disebutkan.
Sebagaimana yang dikutip oleh Koran Jumhuriye Islami edisi 10 Juni 1989, Hashemi Rafsanjani mengatakan bahwa ia, yang tadinya ikut menggulirkan ide pembentukan presidium, tiba-tiba diingatkan kepada sosok kepimimpinan ideal yang dimiliki oleh Sayyid Ali. Dalam benaknya, berkelebatan pujian dan kata-kata Imam Khomeini kepada Sayyid Ali. Ia langsung mampu mendeskripsikan situasi kebanggaan Imam atas muridnya itu. Rafsanjani bahkan langsung mengingat peristiwa saat ia mengajukan kekhawatirannya atas situasi vacum of power yang sangat mungkin terjadi seandainya “putra mahkota” rahbar, Ayatullah Montazeri, betul-betul dipecat dari jabatannya oleh Imam. Saat itu, Imam tersenyum dan berkata, “Itu tidak akan mungkin terjadi karena kalian sebenarnya punya pemimpin”.
Kemudian, kata Rafsanjani, Imam menunjuk Sayyid Ali sambil berkata, “Inilah Agha Khamenei, pemimpin kalian”. Kata-kata Imam itu , menurut Rafsanjani, didengar oleh para ketua lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang hadir. Hadir pula Perdana Menteri Mir Muosavi dan Sayyid Ahmad Khamenei.
Saat kertas suara dibacakan, hasilnya menunjukkan bahwa dari 72 anggota Dewan, 71 menyetujui, dan satu suara abstain. Aneh dan sangat sulit untuk bisa diprediksikan sebelumnya. Dengan gamang, Sayyid Ali maju ke depan dan berbicara di atas mimbar sidang. Ia saat itu mengajukan penolakan atas hasil voting. Di bawah sorotan tatapan penuh harap para anggota Dewan, Sayyid Ali mengemukakan keberatannya atas pilihan anggota Dewan yang menurutnya keliru itu.
Simaklah penuturan Sayyid Ali Khamenei tentang situasi hari itu.
“Sejak dulu saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan diminta mengemban amanat yang sangat berat ini. Saya selalu mengatakan kepada siapapun bahwa saya bukan orang yang tepat untuk mengemban amanat sebagai pejabat negara. Jangankan menjadi rahbar, menjadi presiden ataupun jabatan yang ada di bawahnya pun bukanlah kapasitas saya. Saat saya akan mengakhiri jabatan presiden periode kedua yang akan berakhir beberapa bulan lagi, saya mengatakan kepada Imam bahwa secara konstitusional, saya tidak mungkin lagi menjadi presiden. Saya meminta kepada Imam untuk memberikan tugas di bidang budaya kepada saya karena saya meyakini bahwa kapabilitas saya hanya di bidang ini.
“Itulah yang membuat saya menolak habis-habisan hasil pemungutan suara Dewan Ahli pada tanggal 4 juni tahun 1989 itu. Banyak yang menyaksikan jalannya sidang pada hari itu, dan mereka melihat betapa saya tidak main-main saat menolak keputusan Dewan Ahli itu. Yang akhinya membuat saya menyerah untuk menerima tugas ini adalah pernyataan tulus yang dikemukakan oleh sahabat-sahabat saya di sidang itu saat menjawab penentangan saya. Saya sangat mengenal mereka sebagai orang-orang yang tulus dan jujur. Saya menyaksikan pengabdian luar biasa mereka kepada Islam dan revolusi. Selama ini, mereka tidak pernah saya dengar berkata buruk atau salah. Karenanya, ketika mereka berulang-ulang menegaskan keputusan bulat mereka, akhirnya saya menyerah.” (Zendegi Name Maqam-e Moazzam-e Rahbari, hal. 225-227)
Ketika hasil pemilihan Dewan Ahli ini diumumkan, rakyat Iran menyambutnya dengan heran bercampur gembira. Mereka heran dengan diri sendiri, mengapa Sayyid Ali Khamenei, dengan segala intergritas dan kapabilitasnya yang telah teruji, tidak pernah mereka bayangkan sebagai pemimpin tertinggi mereka menggantikan almarhum Imam Khomeini? Mungkin semua itu disebabkan oleh kerendahhatian Sayyid Ali Khamenei selama ini. Tidak akan bisa ditemukan seorang pun di Iran yang pernah mendengar Sayyid Ali menyebut-nyebut kelebihan atau prestasi dirinya.
Dari sisi lain, mereka sangat bergembira karena Allah telah membimbing anggota Dewan Ahli hingga tidak memilih siapapun sebagai rahbar selain Sayyid Ali Khamenei. Gema takbir berkumandang di seluruh penjuru Iran. Orang-orang juga turun ke jalan untuk menyatakan dukungan tersebut. “Dast-e khuda bar sar-e ma. Khamenei rahbar-e ma”. ”Tangan Tuhan di atas kepala kami (sebuah asosiasi yang menunjukkan kebulatan tekad untuk bersumpah setia, pen). Khamenei pemimpin kami”. Demikianlah ungkapan-ungkapan sumpah setia diteriakkkan rakyat Iran. Matahari Sayyid Ruhullah Musawi Khomeini telah menjalankan tugasnya dengan sempurna. Ia telah tenggelam di ufuk barat. Kini di ufuk timur, semburat sinar merah mentari baru bernama Sayyid Ali Khamenei menyinari jagad raya semesta, menyongsong episode baru revolusi Islam Iran.
“Khuda-ya, khudaya! Ta enqlab-e Mahdi Az Nehzat-e Khomeini, Mohafezat befarmo. Khamenei rahbar. Be lutf-e khud negahdar. Razmandegan-e Islam. Nusrat ata befarma. Amin, ya rabbal Alamin.”
“Ya Allah, jagalah revolusi Islam pimpinan Khomeini ini hingga bangkitnya revolusi Imam Mahdi nanti. Khamenei adalah pemimpin tercinta kami. Lindungilah ia. Berikan pertolongan dan kemenangan kepada para prajurit Islam di manapun mereka berada. Amin, ya Rabbal ‘alamin.”

http://www.irib.com

~ oleh lateral pada April 8, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: