Imam Husein Bin Ali

Oleh AHMAD SAHIDIN

“Husein dari aku, dan aku dari Husein. Semoga Allah mencintai orang yang mencintainya. Siapa yang ingin melihat laki-laki ahli surga, lihatlah Husein. Ya Allah aku sangat mencintainya. Cintailah ia, ya Allah,” ucap Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Ibnu Majah.
Perlu diketahui ikhwan kelahiran Madinah, 5 Sya`ban 4 H ini adalah putera pasangan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra yang wajahnya mirip kakeknya, Rasulullah. Karena itu az-Zahra bila teringat kepada ayahnya, cepat-cepat memeluk Imam Husein.
Dalam Ensiklopedi Islam—entri Husein (Jakarta : PT Ichtiar Baroe Van Hoeve 1995)—disebutkan bahwa adik dari Imam Hasan bin Ali ini menikah dengan puteri Khosru Yazdajird III, raja terakhir dari kerajaan Sasanid di Persia (Iran). Dari pernikahannya Husein dianugerahi delapan anak, empat putra dan empat putri. Namun hanya Imam Ali bin Husein az-Zainal Abidin yang selamat dalam tragedi asyura.
Imam Husein dikenal seorang yang hafidz al-qur`an wa hafidz al-hadits. Bahkan dalam kesehariannya pun memilih hidup seperti kakeknya, Rasulullah, yang akrab dengan kemiskinan dan kekurangan materi. Inilah yang menjadikannya begitu dekat dengan kaum mustadhafin—ketika sebagian muslimin hidup bergelimang dengan harta-kekayaan.
Diceritakan bahwa sepeninggal ayahnya, tampuk khilafah Islam dipegang kakaknya, Imam Hasan bin Ali. Dikarenakan kondisi umat tidak kondusif dan penuh dengan intrik politik, maka Imam Hasan didesak untuk menyerahkan kepemimpinan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan. Namun Muawiyah sendiri dinilai kurang amanah. Atas alasan itu sebagian umat Islam menyarankan Husein untuk mengambil alih kepemimpinan Islam. Namun pihak Bani Umayah tidak mau menyerahkannya, malah dipertahankan secara turun temurun.
Di sinilah akar pergolakan antara Ahlulbayt Nabi dengan Banu Umayah mulai berkembang. Terutama ketika Muawiyah mengangkat Yazid, anaknya, sebagai pengganti khilafah setelah dirinya wafat. Dan sebagian besar umat Islam tidak mau membaiat Yazid bin Muawiyah sebagai khalifah Islam karena hidupnya penuh dengan kemaksiatan. Penolakan baiat inilah yang kemudian menjadi pemicu lahirnya tragedi asyura.
“Aku tidak boleh membaiat orang seperti Yazid,” kata Imam Husein ketika gubernur Khalid bin Walid memaksanya. Penolakannya diketahui penduduk Kufah sehingga mereka meminta kesediaannya untuk menjadi pemimpin dengan mengundangnya datang. Husein menyanggupinya. Namun salah seorang saudaranya berkata, “Ya Imam Husein, penduduk Kufah siap berjuang bersamamu. Sebaiknya engkau terlebih dahulu meminta mereka menyingkirkan para pejabat Yazid dari sana. Bila mereka melaksanakannya engkau akan aman di sana.”
“Tidak, aku akan berangkat. Sebab aku datang untuk menimbulkan perbaikan dalam tubuh umat kakekku, Muhammad SAW. Aku ingin mengikuti perjalanan hidup ayahku, Imam Ali bin Abi Thalib. Aku ingin melakukan amar ma`ruf nahi munkar. Jika orang menerimaku dengan penerimaan kebenaran, maka Allah lebih utama untuk dipatuhi kebenaran-Nya. Barangsiapa yang menolakku, aku akan bersabar sampai Allah memutuskan kebenaran antara aku dan mereka. Karena Dialah sebaik-baiknya hakim.”
Lalu ia menempuh jarak sekitar 600 km bersama keluarga dan kafilahnya menuju Mekkah. Di sana ia mengumumkan perihal keberangkatannya. Setelah itu berangkatlah menuju Kufah dan tibalah di Karbala, Irak. Di sana, malam 10 Muharam 61, Husein mengutus rombongan kecil untuk mengambil air. Setelah semua meminumnya, Husein memberitahukan air itu merupakan persediaan terakhir yang dapat mereka peroleh. Sebab pada 9 Muharram sebelumnya pihak Yazid telah mengultimatumkan, jika perjalanan ke Kufah tetap dilaksanakan maka mereka akan dihabisinya. Maka malam itu juga Husein mengkabarkan bahwa yang berada bersamanya akan syahid di esok hari.
Ya, 10 Muharram 61 adalah hari yang paling menyedihkan. Di hari itu kafilah Imam Husein yang berjumlah 72 orang telah dihadang pasukan sekitar 30.000 orang. Akhirnya, peperangan yang tidak seimbang pun terjadi. Satu persatu sahabat dan keluarganya gugur. Bahkan bayinya, Ali Ar-Radhi, yang dalam gendongan disambar anak panah. Husein berlari ke medan laga. Tidak sedikit musuh yang jatuh ditangannya. Namun tidak disangka sebatang anak panah telah menancap didahinya; yang perlahan-lahan wajah dan janggutnya bermandikan darah. Imam Husein tersenyum melihat darahnya mengalir. Kemudian berdiri. Namun beberapa anak panah melesat menancapi dadanya. Dan tiba-tiba, blugh, rubuh tak berdaya. Dan pasukan Yazid pun cepat-cepat menggerubutinya. Ada yang menusuk-nusukkan tombak. Ada yang menginjak-injakkan kuda pada punggungnya. Bahkan ada yang memenggal kepala Imam Husein hingga putus—naudzubillahimindzalik. Akhirnya, gugurlah sang cucu Nabi Muhammad SAW yang selalu ditimang-timang itu.
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”
(QS Al-Baqarah : 154).
Sungguh benar ayat ini. Imam Husein memang wafat, namun spirit perjuangan untuk menegakkan kebenaran dan dienullah tetap bergema, dan bahkan dibeberapa daerah menjadi tradisi keagamaan lokal. Misalnya pada tiap 10 Muharram masyarakat Jawa sering merayakan hari asyura dengan membuat Bubur Suro. Di Aceh dengan tradisi Kanji Acura. Di Bengkulu dan Padang Pariaman, Sumatera Barat, dengam upacara Hoyak Tabuik (Tabut). Inilah fakta bahwa tragedi yang menewaskan cucu Rasulullah ini menjadi spirit religius dalam melakukan perlawanan terhadap kedzaliman yang dilakukan kaum mustakbarin.
Dan memang jihad melawan kaum mustakbarin merupakan sunnatullah yang tidak boleh kita tolak. Buktinya perjuangan melawan kezaliman atas tindakan kaum mustakbarin masih berlangsung di Fallujah, Najf, Mosul, Baghdad, Karbala, Palestina, Philifina, dan Timor Leste. Dan tentunya, kita sebagai umat Islam jangan pernah berdiam diri dan bermalas-malasan, atau hanya berpangku tangan melihat segala kedzaliman yang nampak di dunia ini.
Ingatlah Allah SWT berfirman, Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu : berangkatlah pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenkmatan hidup di dunia ini (dibandingkan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya dengan kaum yang lain; dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS At-Thaubah : 38-39).

~ oleh lateral pada Maret 31, 2007.

Satu Tanggapan to “Imam Husein Bin Ali”

  1. Allahu Akhbar, Allahu Akhbar…
    senang hati ini selama melihat penderitaan
    musuh-musuh Imam Husein terpanggang dan membusuk di neraka Jahanam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: