Imam Hasan Bin Ali

Oleh AHMAD SAHIDIN
Di Madinah, seorang pendatang dari negeri Syam berpapasan dengan laki-laki berperawakan sedang. Entah kenapa pendatang itu memaki dan mencaci laki-laki itu. Namun laki-laki itu tampak tenang dan tidak membalasnya.
Hari berikutnya, laki-laki itu terlihat bersama kaum mustadhafin. Ia makan bersama mereka di bawah pohon kurma kering. Ia mendengarkan keluh-kesah mereka dan berusaha membahagiakannya. Ketika menjelang malam barulah ia pulang ke rumah.
Namun di tengah perjalanan ia dicegat lelaki kekar dari Bani Asad. Tanpa basa-basi, lelaki dari Bani Asad itu langsung mengayuhkan kampak pada pahanya. Anehnya, yang ditebas itu tidak melawan. Ia malah tersenyum dan pergi menuju rumah dengan kaki berdarah. Di sana ia membaringkan diri, dan istrinya cepat-cepat mengambil air untuk membersihkan darah dan untuk air minumnya.
Beberapa hari setelah kejadian itu tubuhnya menggigil kedinginan dan luka dikakinya pun membengkak. “Siapakah yang berani membuatmu menderita seperti ini? Demi Allah, aku akan membalasnya.”
“Tidak, saudaraku. Aku tahu siapa yang berada dibalik semua kejadian yang menimpaku ini. Kita tidak boleh membalasnya. Biarlah aku serahkan hukumannya kepada Allah.”
Mereka berdua kemudian diam. Berpelukan. Namun salah satu dari mereka melemah, terkulai dan lepaslah ruh dari jasadnya.
Siapakah ia? Yang begitu sabar dalam menghadapi berbagai kejadian yang menimpanya. Menurut sejarah, ia adalah cucu Rasulullah pertama dari putrinya, Fatimah Az-Zahra. Ia lahir tahun 3 hijriyah di Madinah. Nama lengkapnya, Hasan bin Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib Al-Hasyimi Al-Quraisy. Yang biasa dipanggil Imam Hasan bin Ali ini lebih dikenal dengan nama Abu Muhammad ini, pada tahun 40 H (660 M) tercatat sebagai khalifah terakhir Khulafa Ar-Rasyidun dikalangan mazhab ahlussunah dan imam kedua dalam mahzab ahlulbayt.
Ia menjadi khalifah Islam atas peralihan dari Imam Ali bin Abi Thalib, ayahnya. Ketika Hasan memegang tampuk kekuasaan Islam, kepemimpinannya sangat lemah. Sebab beberapa wilayah Islam seperti Suriah dan Damaskus (Irak) telah dikuasai Muawiyah bin Abu Sufyan. Wilayah kekuasaan Hasan hanya Mekkah dan Madinah. Keadaan ini diperburuk dengan gencarnya firqah Khawarij melakukan pembantaian terhadap sebagian umat Islam. Di sisi lain, kalangan munafik juga bertambah disertai dengan berbagai rongrongan subversif dan bahkan gencar menanamkan pengaruhnya kepada umat Islam. Karena pengaruh mereka telah merasuk dan berkembang hingga beberapa sahabat Hasan berpaling. Bahkan orang-orang dekatnya telah menukarkan rahasia pemerintahan dengan uang dan melakukan persengkokolan.
Akhirnya, dikarenakan situasi yang tidak kondusif untuk mempertahankan kekuasaan, Imam Hasan bin Ali menyanggupi perjanjian damai yang ditawarkan Muawiyah. Ia rela menyerahkan kepemimpinan Islam kepada Muawiyah bin Abu Sufyan dengan syarat harus menghentikan penghinaan dan pembunuhan terhadap keluarga ahlulbayt dan pengikutnya. Sejak itulah Muawiyah memproklamirkan dirinya sebagai khalifah Islam, amirul-mukminin—dan berhasil membangun Dinasti Muawiyah.
Begitulah perjalanan kepemimpinan Imam Hasan bin Ali berakhir. Hasan bin Ali oleh kakeknya disebut pemuda ahli surga. Misalnya dari Abu Said Al-Khudriy ra menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Al-Hasan dan Al-Husein adalah penghulu para pemuda ahli surga” (HR Ahmad dan Al-Hakim). Dari Abu Hazm menceritakan bahwa Abu Hurairah mendengar Rasulullah berkata, “Barangsiapa yang mencintai Hasan dan Husein berarti telah mencintaiku, dan barangsiapa yang membencinya berarti telah membenciku”(HR Ahmad). Shafiyah binti Syaibah menuturkan bahwa Aisyah ra menyatakan bahwa Rasulullah keluar dari rumah dengan memakai pakaian bulu. Datanglah Hasan bin Ali menghampirinya. Begitu juga Husein. Kemudian kedua orangtuanya (Imam Ali dan Sayyidah Fatimah) menghampiri dan bergabung dengan mereka. Ketika itu Nabi Muhammad SAW bersabda,“Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan kotoran dari kalian, hai ahlulbayt, menyucikan sesuci-sucinya”(HR Muslim).
Demikianlah hadits-hadits yang menggambarkan bahwa Imam Hasan bin Ali dihadapan kakeknya, benar-benar punya nilai agung. Namun alangkah sayangnya, keutamaan dan keagungan cucu Nabi Muhammad SAW ini berakhir karena istrinya, Ja`dah binti Asy`ad, menaruh racun pada air minum Imam Hasan bin Ali. Karena racun itulah cucu Rasulullah SAW ini wafat tahun 50 hijriyah. Bahkan yang paling tragis, dalam buku Syarh Nahjul Balaghah karya Abu al-Hasan al-Madaini disebutkan, Imam Hasan sebelum wafat berwasiat kepada adiknya bahwa dirinya ingin dikuburkan di samping makam kakeknya. Tapi ketika jenazahnya dibawa ke tempat tersebut, tampak pasukan yang bergamis dengan wajah-wajah garang tengah bersiaga melepas anak panah ke arah rombongan pengiring jenazah. Akhirnya, demi keselamatan keluarga dan rombongan, maka jenazah Imam Hasan bin Ali dikebumikan di pemakaman umum Jannatul Baqi, Madinah Al-Munawarah, Arab.

~ oleh lateral pada Maret 30, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: