Sayyidah Fathimah Az-Zahra

Oleh AHMAD SAHIDIN

MENURUT Abbas Mahmout al-Akkad dalam buku, Fatimah Zahra: Ibu Para Pahlawan (Jakarta: PT Bulan Bintang 1976) bahwa Sayyidah Fatimah adalah puteri bungsu dari pasangan Muhammad Bin Abdullah dan Khadijah binti Khuwailid. Sayyidah Fatimah adalah satu-satunya puteri Nabi Muhammad SAW yang diberi umur cukup panjang. Dari ayahnya nama Sayyidah Fatimah ditambahkan Az-Zahra.

Sayyidah Fatimah, menurut Abdurahman Umairah, dilahirkan ketika kaum Quraisy Mekkah merenovasi Ka`bah. Tepatnya lima tahun sebelum Rasulullah diangkat sebagai Nabi. Sejak masa kanak-kanak ia telah memahami bahwa keluarganya serang mendapatkan teror dari kaum musyrikin. Sayyidah Fatimah sejak masih kecil oleh ayahnya sering dibawa bepergian. Suatu hari Rasulullah sedang sujud di Masjidil Haram, saat itu beberapa orang musyrik datang dan melemparkan bangkai kambing ke arah punggung Nabi. Kemudian dengan cepat Sayyidah Fatimah menyingkirkan bangkai kambing yang menimpa ayahnya itu. Ketika itu juga Nabi langsung bermunajat, “Ya Allah, engkau yang akan menghadapi para pemuka Quraisy. Engkaulah yang akan menghadapi Abu Jahal Bin Hisyam, Utbah Bin Rabiah, Syaibah Bin Rabiah, Uqbah Bin Abi Muith dan Ubay Bin Khalaf ” (HR.Muslim).

Itulah salah satu bentuk gangguan mereka. Apalagi setelah Khadijah wafat gangguan makin banyak datang dari sana-sini. Karena itu, setelah wafat Khadijah, Rasulullah jarang di rumah dan Sayyidah Fatimah pun sering ditinggal sendirian. Namun itu tidak membuatnya resah maupun gelisah. Ia tahu bahwa ayahnya itu seorang Rasulullah yang mengemban tugas ilahiyah.

Ketika Sayyidah Fathimah Az-Zahra beranjak dewasa banyak ikhwan yang ingin melamarnya. Umar Bin Khatab dan Abu Bakar serta para sahabat lainnya pun termasuk mereka yang lamarannya ditolak Rasulullah. Tidak sembarang orang berhak untuk menjhadi suami puteri Rasulullah. Sebab keluarga Ahlulbayt Nabi terjaga dan terpelihara dari kekeliruan. Inilah yang Allah SWT firmankan dalam Surat Al-Ahzab ayat 33, sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bayt, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Maka sudah sepantasnya jika yang menjadi pendamping Sayyidah Fatimah Az-Zahra Binti Rasulullah adalah orang yang berilmu, shaleh, bijak dan setingkat Ahlulbayt Nabi. Siapakah ikhwannya? Dialah seorang anak yang terdidik sejak belia di bawah bimbingan Rasulullah. Dialah seorang ikhwan yang akan menjadi pewaris ilmu dan hikmah Rasulullah. Dialah Ali Bin Abi Thalib. Dialah yang kemudian menjadi pilihan Rasulullah untuk membawa bahtera keluarga puteri Nabi ke tengah lautan hidup.

Pada satu riwayat, diceritakan Ali datang kepada istrinya untuk memberitahu bahwa Rasulullah telah datang dari peperangan bersamanya dengan membawa harta ghanimah dan tawanan. Ali berkata kepadanya, “Hai istriku, aku lelah. Ayahmu membawa tawanan dan mintalah salah seorang di antara mereka untuk menjadi pelayanmu. Bukankah engkau teramat berat bekerja sendirian?”

Sayyidah Fathimah Az-Zahra tersenyum. Walazu pun saat itu tengah berada dalam keadaan letih karena menggiling gandum, ia pun berangkat juga. Saat tahu bahwa puterinya datang, Rasulullah langsung bertanya, “Hai anakku, ada apa?”

”Aku hanya ingin menyampaikan salam atas dirimu ayah,” jawabnya. Ia berdiri sejenak dan kemudian kembali lagi ke rumah. Sesampainya di rumah, Sayyidah Fathimah Az-Zahra bercerita kepada suaminya bahwa dirinya malu untuk mengutarakan maksudnya kepada ayahnya itu. Suaminya hanya tersenyum dan kemudian membawa istrinya itu kembali menghadap Rasulullah. Ali kemudian mengungkapkan maksud kedatangan dirinya beserta istrinya itu. Namun alangkah kagetnya permintaan mereka itu ditolaknya. Rasulullah berkata,”Tidak, demi Allah. Aku tidak akan memberi kalian dengan membiarkan ahlussuffah melipat perutnya. Aku akan membagikan ghanimah dan meminta tebusan atas para tawanan ini. Kemudian hasilnya akan kuserahkan kepada ahlussuffah dan kaum mustadhafin yang keadaannya lebih kurang dari aku dan kalian.”

Mereka kemudian pergi. Rasulullah memang merasakan hatinya tidak tega berbuat seperti demikian. Terlebih kepada anaknya sendiri. Karena perasaannya tetap terpaut kepada puterinya, maka Nabi Muhammad SAW pergi ke rumah Fatimah dan menghampirinya di dekat pintu seraya berkata, “Maukah aku beritahukan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari yang kalian minta?”

“Tentu, ya Rasulullah,” jawab mereka serempak. Kemudian Rasulullah berkata, “Ada beberapa kalimat yang diajarkan Jibril, yaitu membaca tasbih 10 kali, tahmid 10 kali, dan takbir 10 kali tiap selesai shalat. Jika kamu beranjak hendak tidur, bacalah masing-masing 33 kali”(HR. Muslim-Bukhari).

Sebagai seorang perempuan, Sayyidah Fathimah Az-Zahra secara mental tidak jauh berbeda dengan akhwat lainnya. Terbukti ketika suatu hari tersiar kabar bahwa suaminya hendak menikah lagi dengan perempuan lain, Sayyidah Fathimah merasa sakit hati dan kemudian berdiam diri dan tidak mau berbicara. Atas fenomena ini ayahnya, Muhammad SAW pergi ke Masjid seraya berkata kepada jamaah, “Sesungguhnya Bani Hisyam Ibnul Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan puterinya dengan menantuku, Ali. Aku tidak akan mengizinkan mereka. Aku tidak akan mengizinkannya kecuali putra Abu Thalib itu menceraikan puteriku terlebih dahulu. Aku merasakan sakit dan kecemasan yang dialami puteriku. Sungguh ini ujian dari Allah yang hendak menguji keimanannya.”

Setelah itu dikabarkan Ali mendatangi istrinya yang berdiam murung. Ali mendekati dan duduk disampingnya. Ali tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tapi tiba-tiba Sayyidah Fathimah menangis dan Ali tidak bisa menahan air matanya yang mulai membasahi pipinya. Saat itu juga Ali meminta maaf atas isu-isu yang beredar menyangkut dirinya dan keluarga Bani Hisyam.

“Hai Fathimah, aku telah melakukan kesalahan menyangkut hakmu. Maafkan aku,” ujar Ali yang kemudian mencium jemari Sayyidah Fathimah. Lalu Ali pun menceritakan penolakan Rasulullah perihal permintaan Bani Hisyam yang meminta izin kepadanya atas keinginan untuk menikahkan Ali dengan puteri mereka. Akhirnya, kedua sudut mata Sayyidah Fathimah tidak henti-hentinya mengalir. Sayyidah Fathimah bangkit, berwudhu dan kemudian sujud syukur kepada Allah atas terselesaikannya masalah. Ia bersyukur karena prahara dan perceraian yang akan mengancam keutuhan keluarganya telah sirna. Hilang dan berganti dengan rasa cinta dan kebahagiaan yang menenangkan hidup. Dari kebahagiaan itu kemudian terlahir dua putra shaleh yang begitu dicintai Rasulullah. Mereka itu adalah Hasan dan Husein. Berkenaan dengan lahirnya mereka, Rasulullah sebagai kakeknya bersabda, “Keduanya merupakan anakku dan anak puteriku. Ya Allah sungguh aku mencintainya. Karenanya cintailah keduanya dan cintai pula yang mencintai keduanya” (HR. Tirmidzi).

Tahun demi tahun beganti tahun. Sampailah pada masa yang memilukan keluarga Nabi, yaitu ketika sakit keras yang menjadi tanda tibanya masa akhir hidup Rasulullah. Dari salah seorang istri Nabi, yaitu Aisyah Binti Abu Bakar berkata, seluruh istri Nabi hadir. Tiba-tiba datanglah Sayyidah Fathimah. Dia berjalan persis seperti berjalannya Rasulullah. Tatkala melihat puterinya datang, Rasulullah langsung berucap, selamat datang puteriku. Kemudian beliau menyuruhnya untuk duduk disampingnya dan mendekatkan telinga kepadanya. Pada bisikan pertama Fatimah menangis tersedu-sedu. Kemudian pada bisikan kedua ia tertawa. Namun ketika ditanyakan perihal apa yang dibisikan ayahnya, Fatimah berkata, aku tidak mau menyebarkan rahasia Rasulullah. Rahasia ini kemudian ditanyakan kembali pada Sayyidah Fathimah. Ia memberitahu bahwa pada bisikan pertama Rasulullah mengkabarkan bahwa malaikat maut telah tiba. Itulah sebabnya Fatimah menangis karena sebentar lagi ia menjadi yatim-piatu. Pada bisikan kedua, ayahnya memberitahukan bahwa Fatimah adalah muslimah pertama yang akan bertemu dengannya kelak di akhirat. Inilah yang membuatnya tertawa.

Selanjutnya, masih menurut Aisyah, bahwa selang beberapa jam Rasulullah mulai menutupkan matanya seraya menggumamkan Al-Quran dari bibirnya hingga berakhir senyum. Saat tahu bahwa ayahnya telah tiada, Sayyidah Fathimah menangis dan berlari ke luar rumah seraya menutupkan kain menjadi cadar yang menutup wajahnya.

Setelah ayahnya wafat, Fatimah mengalami sakit berat. Kian hari sakitnya makin parah dan akhirnya, puteri Rasulullah ini pada malam Selasa, 3 Ramadhan 11, dalam usia sekitar 29 tahun dijemput malaikat maut untuk menghadap ayahnya.

Ya, Sayyidah Fatimah Az-Zahra adalah muslimah yang sabar dan taat. Tidak ada seorang pun yang melihat Fatimah mengeluh atas hidup yang dialaminya. Az-Zahra, puteri tercinta Rasulullah, adalah cermin bagi kaum akhwat yang hendak menjadikannya dirinya sebagai muslimah sejati. Muslimah yang pantang mengeluh dan pantang menyerah. Semoga Allah meridhai Az-Zahra dengan setinggi-tingginya. Amiin.

PENULIS adalah Alumni Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati Bandung

~ oleh lateral pada Maret 29, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: