Kepedulian Sosial Harus Tumbuh di Jiwa

Oleh AHMAD SAHIDIN

PADA suatu malam, seorang lelaki buta tidak dapat melelapkan matanya. Ia mengeluh dan merinti, “Ya Tuhanku, betapa kerasnya hati manusia di sekelilingku. Tak ada seorang pun yang mau memikirkan yang dhuafa dan miskin. Ya Tuhan, pada siapakah aku meminta bantuan?”.

Dia terdiam mengingat istrinya yang baik saat masih hidup. Air mata pun bergenang di kelopak mata dan membasahi wajahnya.

Esok paginya, lelaki buta itu bangun dari tempat pembaringannya, mencari sesuatu untuk mengisi perut. Perlahan-lahan tangannya meraba-raba ke seluruh penjuru kamar. Tapi, tak ada yang dapat ditemukan selain sekeping roti kering. Dengan pakaian yang sudah robek, ia berjalan melewati lorong-lorong kota dengan tongkatnya.

Ia duduk di satu sudut kota, di bawah sebuah pohon dan mendengarkan langkah kaki orang-orang yang melewati tempat duduknya. Dia menanti seseorang yang akan melontarkan kepingan uang atau makanan dalam tangannya, namun tak ada yang menghiraukannya.

Tiba-tiba terdengar suara tapak kaki yang mendekatinya. Lelaki buta itu memusatkan perhatiannya kepada langkah tersebut. Tapi langkah tersebut tidak lagi terdengar. Meskipun tak bisa melihat, tap ia merasakan bahwa seseorang sedang memperhatikannya. ”Siapakah gerangan orang tersebut,” gumamnya.

Beberapa saat kemudian, dengan perlahan-lahan suara tapak kaki terdengar berjalan melewati dirinya. Orang yang melewatinya itu bertanya,, ”Apakah lelaki buta ini tidak mempunyai siapa pun untuk membantunya?”.

Bersamaan dengan itu, orang-orang dan pedagang yang melewati tempat tersebut melihat kehadiran Sayyidina Ali bin Abu Thalib di sisi lelaki buta itu. Mereka menghampirinya dan memberi salamnya. Kini pahamlah lelaki buta itu bahwa lelaki yang memandanginya itu adalah pemimpin umat Islam, Sayyidina Ali bin Abu Thalib.

Sayyidina Ali menjawab salam orang-orang itu dan bertanya, “Kenalkah kalian dengan lelaki tua ini?”

”Wahai Amirul mukminin, lelaki tua ini seorang penganut kristen. Istrinya telah meninggal dunia. Ia seorang lelaki yang amat baik dan bekerja keras. Tapi sejak ia buta, dan tidak punya saudara di sini, dia terpaksa mencari uang dengan meminta sedekah,” kata seseorang memberitahu.

Lelaki tua yang mendengarnya dengan serta merta berdiri dengan berpegang kepada tongkatnya. Dia menanti jawaban dari Amirul mukminin Ali yang sedang menundukkan kepalanya karena merasa terharu. Tak lama kemudian, Amirul mukminin Ali berkata, “Sungguh menakjubkan! Ketika lelaki ini mempunyai kemampuan, dia telah bekerja keras dan kini bila dia berada dalam keadaan lemah, dia ditinggalkan? Ketika dia bisa melihat dan mempunyai kemampuan, dia bekerja keras untuk masyarakat. Kini, ketika dia sudah tua dan tidak lagi mampu untuk bekerja, maka menjadi tanggungjawab pemerintah dan masyarakat untuk menyediakan keperluannya.”

Ketika mendengar kata-kata itu, lelaki tua yang buta itu berdoa, “Ya Tuhan, limpahkanlah kebaikan untuk Ali.”

Saat maghrib tiba, lelaki tua itu mengambil keputusan untuk pulang ke rumahnya. Tiba-tiba, dia didatangi utusan Amirul mukminin Ali yang meletakkan satu pundi uang ke tangan lelaki tua itu dan berkata, ”Ambillah uang ini! Amirul mukminin Ali Ali memberi perintah sejak kini Anda akan mendapat bagian dari baitul mal. Oleh karena itu engkau tidak perlu lagi meminta-minta.”

Lelaki tua itu membuka pundi tersebut. Dia meremas-remas uang dalam tangannya. Beberapa kali bibirnya menyebut nama Ali dan berkata, ”Ya Tuhanku, betapa baiknya Ali. Walaupun aku adalah seorang kristen dan bukan seagama dengannya, tetapi dia tetap berbuat baik kepadaku. Betapa aku telah membuat kesalahan. Ternyata, masih ada manusia yang sedemikian baik. Ya Tuhanku, aku mengucapkan syukur kepadamu atas segala karunia ini”.

Sejarah menyaksikan, Amirul mukminin Ali senantiasa berperilaku baik dalam perbuatan, khususnya kepada mereka yang miskin. Inilah yang perlu diteladani umat Islam. Meskipun berkedudukan sebagai khalifah Islam, tapi tetap memperhatikan masyarakatnya yang dhuafa, wlaupun tak se-agama. Inilah jiwa kemanusiaan dan kesalehan sosial yang merupakan perwujudan dari akhlak Islami.

Amirul mukminin Ali dalam sebagian dari suratnya kepada Malik Asytar, Gubernur Mesir menulis, ”Penuhilah hati dengan kasih sayang kepada rakyat dan berbuat baiklah kepada mereka semua. Rakyat terbagi kepada dua golongan, satu golongan ialah mereka yang seagama denganmu dan satu golongan lagi ialah yang sama-sama diciptakan Allah sepertimu. Di antara rakyat yang kesusahan, yang memerlukan bantuan, dan berada dalam kesulitan, serta yang sakit, yang tidak punya siapapun selain dari Tuhan, ada dua golongan. Ada kelompok yang sabar dan menahan diri dari meminta-minta dan ada kelompok yang menadahkan tangan meminta sedekah. Maka jadilah engkau orang yang membela mereka ini”.

Ya begitulah seharusnya. Amirul mukminin Ali perlu diteladani dalam memperlakukan kaum duhafa atau berkhidmatan kepada umatnya di tengah masyarakat yang majemuk. Karena itu, kepedulian bagi seorang muslim atau muslimah harusnya ditumbuhkan sebagai karakter yang tertanam dalam jiwa. Marilah kita upayakan jiwa kita lebih peduli untuk berbagai pada sesama.

~ oleh lateral pada Maret 29, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: