Tasawuf, Langkah Menuju Kebahagiaan Ruhani

•Agustus 26, 2008 • 1 Komentar

Oleh AHMAD SAHIDN

Islam sebagai agama tidak hanya berwajah lahiriah, tapi juga bernuasa rohani. Dalam kajian ushuluddin (pokok-pokok ajaran Islam), ilmu yang mempelajari aspek lahiriah disebut syariah atau fiqh. Sedangkan aspek ruhani disebut ilmu tasawuf atau spiritualitas Islam.

Ayatullah Murtadha Muthahhari, ulama dari Iran, menyebut ilmu yang berkaitan dengan spiritualitas ini dengan istilah irfan. Menurutnya, irfan ini merupakan ilmu Islam yang membahas dimensi ruhani (batin) Islam. Isi, ajaran, dan nilai-nilai yang dibahasnya tak jauh dengan ilmu tasawuf. Hanya istilahnya yang berbeda. Hal ini untuk menghindarkan dari tuduhan bahwa ilmu tasawuf berasal dari luar Islam.

Muthahhari membagi dua kajian dalam irfan, yaitu nazariyah (teoritis) dan `amaliyah (praktis). Yang pertama ini kajiannya fokus pada masalah wujud (ontologi), yaitu Tuhan, manusia dan alam semesta. Bagian ini menjelaskan ada tidaknya Allah, dan hubungannya dengan manusia dan alam semesta. Intinya, irfan nazariyah membuka tabir atau penghalang yang menutupi diri sehingga ia yakin dan jelas akan kebenaran Islam.

Sedangkan yang kedua, menjelaskan hubungan dan pertanggungjawaban manusia terhadap dirinya, dunia dan Tuhan. Bagian ini lebih mirip etika dalam menjalani hidup yang sesuai tuntunan Ilahi. Muthahhari menyebut irfan `amaliyah sebagai sayr wa suluk (perjalanan ruhani), yang menjelaskan bagaimana seorang penempuh ruhani (salik) yang ingin mencapai puncak kesempurnaan. Biasanya mereka ini dibimbing seorang mursyid atau guru spiritual agar langkah-langkahnya teratur dan mengetahui apa yang seharusnya, melalui maqam (tahapan) awal hingga terakhir. Selanjutnya, seseorang yang menempuh perjalanan ruhani ini menjadi manusia sempurna (insan kamil).

Memang harus diakui, hadirnya tasawuf dalam Islam merupakan sebuah upaya mendekatkan diri pada Allah melalui rutinitas ibadah dan pelatihan-pelatihan spiritual. Jadi, tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian ruhani. Lanjutkan membaca ‘Tasawuf, Langkah Menuju Kebahagiaan Ruhani’

Bisnis Pendidikan, Etiskah?

•September 3, 2007 • 1 Komentar

SECARA teoretis tidak bisa disangkal bahwa biaya pendidikan atau penyelengaraan pendidikan sangatlah tinggi. Asumsi ini paling tidak hidup di benak kalangan profesional dan para ahli pendidikan. Semakin tinggi biaya pendidikan, semakin tinggi kualitas pendidikan. Sepertinya asumsi ini perlu dipertanyakan ulang. Mungkin benar bahwa semakin tinggi biaya pendidikan semakin tinggi pula kualitas pendidikan, akan tetapi sulit dan mahalkah pendirian lembaga pendidikan? Pertanyaan itu pernah terlontar dalam sebuah obrolan sambil lalu yang tiba-tiba menjadi sangat serius. Seorang teman jebolan perguruan tinggi luar negeri menceritakan mahal dan rumitnya penyelenggaraan lembaga pendidikan, khususnya lembaga pendidikan tinggi.

Yang lain mengungkap sejumlah sarat, prasarat, serta sarana yang mesti disediakan, secara teoretis tentunya. Pokoknya penyelenggaraan pendidikan tinggi bukan sesuatu yang bisa dilakukan sambil lalu. Di tengan pembicaraan yang serius tersebut, tiba-tiba salah seorang teman tertawa terbahak-bahak. Ia bilang bahwa mendirikan lembaga pendidikan itu murah dan mudah. Cukup mempunyai yayasan dan beberapa lokal kelas. Bahkah, bila membangun lokal kelas masih dianggap terlalu mahal dan tidak ada dananya, bisa nebeng (ngontrak, sewa) lokal kelas dari sekolah yang ada. Kurikulum dan tetek bengek konsep sistem pendidikan yang akan didirikan tinggal menjiplak dari lembaga pendidikan yang telah berdiri. Lanjutkan membaca ‘Bisnis Pendidikan, Etiskah?’

Nasib Bangsa

•September 3, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Oleh MUHAMMAD ANIS MAULACHELA

Seiring dengan bergulirnya revolusi industri pada abad ke-18 M, para kapitalis (pemilik modal) berlomba-lomba membangun perusahaan industri, dari hulu hingga hilir. Tak ayal, nasib perekonomian negara pun berada di tangan mereka. Ketergantungan inilah yang kemudian menjadikan mereka merambah dunia politik. Sehingga, terbentuklah pemerintahan kapitalis, yang kemudian berkembang menjadi korporatokrasi (kekuasaan yang dikendalikan oleh elit politik, pengusaha, dan bank).

Namun pada akhirnya kapitalisme ini tidak hanya bersifat lokal, melainkan dikembangkan secara global. Kaum kapitalis rupanya tidak hanya puas menguasai negaranya, mereka juga ingin menguasai dunia. Mereka berpendapat bahwa ekonomi tidak memiliki batasan teritorial, dan pemerintah tidak semestinya mencampuri urusan pasar. Sehingga muncullah gagasan dan praktik demokrasi pasar, liberalisasi ekonomi, korporasi global, perdagangan bebas, deregulasi ekonomi, privatisasi, hutang luar negeri, globalisasi, dan lain-lain. Lanjutkan membaca ‘Nasib Bangsa’

Pesan Khutbah Rahbar Republik Islam Iran (2)

•Agustus 24, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM. Segala puji bagi Allah, Tuhan Pengatur alam semesta. Shalawat dan salam kami haturkan kepada Junjungan kita dan Nabi kita Abu Qasim Musthafa Muhammad saw beserta keluarganya yang suci, yang terpilih, yaitu para pemimpin yang memberikan petunjuk, terutama Amirul Mukminin dan Shiddiqah ath Thahirah, (Fatimah az Zahra), penghulu wanita seluruh alam, al Hasan dan al Husain, dua pemuda penghulu surga, Muhammad bin Ali, Ja`far bin Muhammad, Musa bin Ja`far, Ali bin Musa, Muhammad bin Ali, Ali bin Muhammad, al Hasan bin Ali, dan al Mahdi. Mereka semua adalah hujah-Mu atas hamba-hamba- Mu dan para pemegang amanat-Mu di atas negeri-Mu. Juga sampaikan salam kepada para imam kaum Muslimin dan para pelindung kaum mustadafin (bangsa yang lemah) dan para pemberi petunjuk kaum mukminin. Dan saya memohon ampun kepada Allah SWT untuk diri saya sendiri dan kalian semua. Lanjutkan membaca ‘Pesan Khutbah Rahbar Republik Islam Iran (2)’

Pesan Khutbah Rahbar Republik Islam Iran (1)

•Agustus 24, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Assalamulaikum warahmatullohi wabarokatuh

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM. Segala puji bagi Allah, Tuhan Pengatur alam semesta. Kami memuji-Nya, meminta tolong pada-Nya, meminta ampunan-Nya dan bertawakal kepada-Nya. Shalawat dan salam kami haturkan kepada kekasih-Nya, pilihan-Nya, dan manusia terbaik-Nya, penjaga rahasia-Nya, dan penyampai risalah-Nya, Junjungan kita dan Nabi kita Abu Qasim Musthafa Muhammad saw beserta keluarganya yang suci, yang terpilih, yaitu para pemimpin yang memberikan petunjuk yang terpelihara dari segala dosa (maksum), terutama pemimpin terakhir-Nya di muka bumi (Imam Mahdi as). Juga sampaikan salam kepada para imam kaum Muslimin dan para pelindung kaum mustadafin (bangsa yang lemah) dan para pemberi petunjuk kaum mukminin. Lanjutkan membaca ‘Pesan Khutbah Rahbar Republik Islam Iran (1)’

Senjata Iran dan Peta Islam Indonesia

•Agustus 23, 2007 • 1 Komentar

Oleh M BAMBANG PRANOWO

Staf Ahli Menteri Pertahanan RI, Guru Besar UIN Ciputat Pertengahan Juli lalu, mewakili Menteri Pertahanan RI, kami berkunjung ke Iran untuk sebuah seminar internasional yang diselenggarakan di Qom dilanjutkan dengan silaturahmi ke Departemen Pertahanan serta Departemen Luar Negeri Negeri negara tersebut.

Apa yang menarik dari pemandangan di Iran adalah keinginan kuatnya untuk mandiri dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Selama ini, kita di Tanah Air hanya terkesima oleh kehebatan Iran dalam membangunan teknologi militernya. Iran, misalnya, telah berhasil membuat tank, senjata berat, peluru kendali jarak jauh, dan berbagai peralatan militer lain.

Kemampuan Iran dalam membangun teknologi militernya itulah yang membuat AS dan sekutunya khawatir. AS menyatakan, dengan kemampuan militernya yang besar, Iran akan menguasai Timur Tengah dan mengancam keberadaan Israel. Itulah sebabnya, dengan berbagai dalih, AS menghalangi Iran untuk mengembangkan teknologi nuklirnya. Meski Iran sudah menyatakan bahwa teknologi nuklirnya adalah untuk perdamaian, AS tetap tidak mau percaya. Ini sebuah kekhawatiran yang mengada-ada karena Iran dan para ulamanya sudah menyatakan bahwa teknologi nuklir Iran adalah untuk pembangkit tenaga listrik. Lanjutkan membaca ‘Senjata Iran dan Peta Islam Indonesia’

Implementasi CSR untuk Pemberdayaan Masyarakat Miskin

•Agustus 22, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

SELAMA ini orientasi dari sebuah usaha adalah untuk mencari keuntungan semata (profit-oriented). Prinsip dasar yang kemudian diterima secara luas dalam dunia usaha adalah business is business. Dengan berpegang pada prinsip ini, sebuah perusahaan bisa menghalalkan segala macam cara untuk bisa meraih keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Sehingga seringkali terjadi gesekan-gesekan kepentingan baik di dalam internal perusahaan sendiri ataupun antara perusahaan dengan pihak eksternal.

Belakangan ini bersama dengan tampilnya etika bisnis, orang mulai menyadari adanya keterkaitan antara nilai-nilai spiritualitas dengan keberlanjutan dan perkembangan sebuah usaha. Dalam konteks spiritual bisnis, bisnis bukan hanya semata-mata persoalan memaksimalkan keuntungan bagi pemilik perusahaan. Tapi bagaimana bisnis yang dijalankan bisa memberikan keuntungan dan keberkahan kepada semua pihak yang terlibat di dalamnya. Sehingga pada prakteknya sebuah usaha melakukan langkah-langkah yang harmonis dengan seluruh partisipan dan lingkungan tempat perusahaan berada. Singkatnya, para insan bisnis harus sadar akan nilai-nilai pragmatik nilai-nilai (the pragmatic value of values). Yang pada masa lalu, nilai-nilai (values) dianggap sebagai sesuatu yang dikotomis dengan pengelolaan perusahaan. Lanjutkan membaca ‘Implementasi CSR untuk Pemberdayaan Masyarakat Miskin’

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.